Wajib Tidaknya Zakat Piutang

Selasa, 07/09/2010 12:35 WIB | Arsip | Cetak   Kirim Pertanyaan

Assalamu'alaikum,

Bapak ustadz Sigit yang di Rahmati Allah SWT, saya memiliki piutang yang apabila dijumlahkan dengan harta simpanan, maka nilainya sampai kepada nishab untu dikeluarkan zakatnya. Pertanyaannya apakah piutang tersebut wajib untuk dizakatkan?

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas perhatiannya.

Wassalamu'alaikum

GS

Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Utang adalah milik orang yang mengutangi namun karena utang tersebut tidaklah berada di genggaman pemiliknya maka para ulama berselisih menjadi beberapa pendapat.
Ibnu Umar, Aisyah dan Ikrimah Maula Ibnu Abbas berpendapat tidak ada zakat didalam utang. Hal itu dikarenakan bahwa utang itu tidaklah dikembangkan maka tidak wajib dizakati.

Jumhur ulama berpendapat bahwa utang yang saat ini terbagi menjadi dua; yaitu : utang yang saat ini diharapkan pengembaliannya (pelunasannya) dan utang yang tidak diharapkan pengembaliannya.

Utang yang saat ini diharapkan pengembaliannya; (utang yang berada ditangan seorang yang mampu mengembalikannya) maka terdapat beberapa pendapat :

Madzhab Hanafi, Hambali dan juga Tsauriy berpendapat zakat utang diwajibkan kepada pemiliknya setiap tahun karena utang itu adalah harta miliknya. Akan tetapi tidak wajib baginya mengeluarkan zakatnya sebelum berada di genggamannya dan jika dia telah mengenggamnya maka diwajibkan mengeluarkan zakatnya untuk tahun-tahun yang telah dilaluinya.

Argumentasi pendapat ini adalah bahwa utang itu tetap menjadi tanggung jawabnya maka tidaklah diwajibkan mengeluarkan zakatnya sebelum digenggamnya; karena ia tidaklah bermanfaat baginya saat itu dan bukanlah sebuah bentuk simpati mengeluarkan zakat harta yang tidak bermanfaat baginya.

Sedangkan harta titipan yang si pemiliknya mampu mengambilnya kapan pun bukanlah termasuk dari jenis ini sehingga tetap diwajibkan mengeluarkan zakatnya setelah berlalu setahun.

Madzhab Syafi’i yang paling masyhur, Hammad bin Abi Sulaiman, Ishaq dan Abi Ubaid berpendapat wajib mengeluarkan zakat utang yang diharapkan pengembaliannya pada akhir setiap haul (setahun) seperti harta yang berada ditangannya karena dia memiliki kesanggupan untuk mengambil dan memanfaatkannya.

Madzhab Maliki membagi utang menjadi beberapa macam : sebagian utang dizakati setiap tahun, yaitu utang seorang pedagang yang memenej harga suatu barang dagangan yang dijualnya. Dan sebagiannya dizakati untuk satu tahun ketika digenggamnya walaupun utang itu berada digenggaman orang yang berutang selama dua tahun, demikian pula terhadap harga suatu barang pendaman yang dijualnya. Sebagian utang tidak ada zakat didalamnya, yaitu apa-apa yang tidak digenggamnya, seperti : hibah, mahar, pengganti jinayah.

Sedangkan utang yang saat ini tidak diharapkan pengembalianya; yaitu utang yang berada pada orang yang kesulitan atau orang yang tidak mau mengembalikannya maka terdapat beberapa pendapat :

Madzhab Hanafi sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ini juga pendapat Qatadah, Ishak, Abu Tsaur dan riwayat dari Ahmad, pendapat yang bertentangan dengan pendapat yang paling masyhur dari Syafi’i; yaitu tidak ada zakat didalam utang dikarenakan tidak adanya kesempurnaan pemilikian serta tidak bisa bermanfaat baginya.
Pendapat kedua adalah pendapat Tasuriy, Abu Ubaid, riwayat dari Ahmad dan pendapat Syafi’i yang paling menonjol bahwa diwajibkan baginya mengeluarkan zakatnya jika dia telah menggenggamnya terhadap tahun-tahun yang telah berlalu, berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Ali terhadap utang yang tidak diyakini (pengembaliannya) “Jika betul (dikembalikan) maka hendaklah dia menzakatinya saat digenggamannya terhadap masa-masa yang telah dilaluinya.”

Malik berpendapat bahwa jika utang itu termasuk yang barang-barang yang dizakati maka diwajibkan baginya menzakatinya jika digenggamannya untuk satu tahun walaupun utang itu berada di tangan orang yang berutang selam bertahun-tahun, ini juga pendapat Umar bin Abdul Aziz, Hasan, Laits dan Auza’i. (al Mausu’ah al Fiqhiyah juz I hal 8169 – 8170)

Dengan demikian jika piutang anda itu termasuk utang-utang yang anda yakini pengembaliannya karena dipinjam oleh orang yang memiliki kesanggupan untuk mengembalikannya dan bukan pula orang yang menyepelekan kewajiban pengembaliannya maka wajib bagi anda mengeluarkan zakatnya baik jumlah utang itu sendiri telah melebihi nishabnya (85 gr emas) atau jika digabungkan dengan harta anda yang lain baru melebihi nishobnya setiap tahunnya meskipun utang itu telah berada digenggaman orang yang berutang selama bertahun-tahun karena utang itu bagaikan harta titipan anda padanya.

Akan tetapi jika piutang anda itu berada digenggaman orang-orang yang memiliki kesulitan pengembaliannya atau orang yang menyepelekan pengembaliannya atau orang yang mengingkari bahwa dirinya berutang kepada anda maka diwajibkan bagi anda menzakatinya untuk satu tahun saja ketika orang yang berutang itu mengembalikannya kepada anda.

Firman Allah swt :


Artinya : “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan.” (QS. Al Baqoroh : 190)

Wallahu A’lam

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Ustadz Menjawab

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang