Berbohong karena Maslahat Organisasi
Assalamu'alaikum wr. wb.
Ustadz Sigit, langsung saja saya ingin menanyakan tentang perbuatan berbohong atau melakukan kebohongan. Bolehkan kita melakukan kebohongan?
Apabila kita mendapati bahwa seorang pemimpin kelompok melakukan kebohongan, bolehkah kita keluar dari kelompok tersebut? Karena saya akhir-akhir ini merasa resah terhadap kelompok yang saya ikuti tersebut, terus terang saya secara pribadi merasa kuatir terkena hukum "ikut mendukung kebathilan" jika terus mengikuti kelompok tersebut. Apalagi pemimpin kelompok yang saya ikuti itu pernah berkata dan berpendapat, bahwa berbohong itu boleh asalkan untuk kebaikan (kemaslahatan) kelompok.
Demikian, atas jawaban dari ustadz, saya ucapkan jazakumullah khoiron katsir. wassalam.
Abi Zaid - Jakarta
Jawaban
Waalaikumusalam Wr Wb
Saudara Abi Zaid yang dimuliakan Allah swt
Berbohong adalah akhlak tercela yang tidak boleh dijadikan sebagai sarana untuk berdakwah kepada Allah swt. Terdapat berbagai nash yang mencela sifat bohong ini, diantaranya firman Allah swt :
إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ
Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (QS. Al Mukmin : 28)
Sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya kejujuran adalah perbuatan baik dan sesungguhnya perbuatan baik menunjukkan kepada surga. Sesungguhnya seorang hamba yang berusaha untuk jujur sehingga dituliskan sebagai seorang yang jujur di sisi Allah swt. dan sesungguhnya berbohong adalah kejahatan dan sesungguhnya kejahatan menunjukkan kepada neraka dan sesungguhnya seorang hamba yang berusaha untuk berbohong sehingga dituliskan sebagai pendusta (di sisi Allah).” (Muttafaq Alaih dan lafazh dari Imam Muslim)
Ummul Mukminin, Aisyah berkata,”Tidaklah satu akhlak yang paling dibenci oleh Rasulullah daripada berbohong. Ada seorang lelaki yang berbicara dekat Nabi saw dengan berbohong dan berbohong itu senantiasa ada didalam dirinya sehingga beliau saw mengetahui bahwa orang itu telah menunjukkan pertaubatan.” (HR. Tirmidzi dan dihasankannya juga Ahmad yang telah dishahihkan oleh al Al Bani)
Dan orang yang pertama untuk berusaha berbuat jujur dan menjauhi kebohongan adalah para da’i yang menyeru kepada Allah swt yang menjadi contoh bagi umat….
Berbohong seluruhnya diharamkan kecuali dalam hal-hal yang telah dikecualikan oleh syara’, seperti didalam sabda Rasulullah saw,”Tidak dihalalkan berbohong kecuali dalam tiga hal : perkataan seorang suami kepada istrinya demi menyenangkannya, berbohong didalam peperangan dan berbohong untuk mendamaikan manusia.” (HR. Tirmidzi dan dihasankannya)
Dari Ummu Kaltsum binti ‘Uqbah berkata,”Aku tidak mendengar Rasulullah saw memberikan rukhshah (keringanan) sedikitpun dalam hal berbohong kecuali dalam tiga perkara. Rasulullah bersabda,’Aku tidak menganggapnya sebuah kebohongan, yaitu : seorang lelaki yang mendamaikan antara manusia yang mengatakan suatu perkataan dan tidaklah dia menginginkan darinya kecuali perdamaian. Seorang lelaki yang mengatakannya didalam peperangan dan seorang lelaki yang mengatakannya kepada istrinya dan istri yang mengatakannya kepada suaminya.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh al Albani) –(www.islamweb.net)
Sesungguhnya islam tidaklah mengenal istilah mencapai tujuan dengan segala cara dan islam juga tidak membolehkan penggunaan cara-cara yang diharamkan syariat untuk mencapai tujuan yang baik menurut syariat.
Ibnul Qoyyim didalam kitabnya “Ighotsah al Lahfan” mengatakan bahwa sesungguhnya yang diharamkan adalah mencapai tujuan-tujuan yang disyariatkan melalui cara-cara yang tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya yang berarti orang itu telah menipu Allah swt dan Rasul-Nya dan memperdaya agamanya, membuat makar terhadap syariatnya. Sesungguhnya tujuannya untuk mendapatkan sesuatu yang diharamkan Allah swt dan Rasul-Nya dengan cara tipu daya seperti itu dan menghilangkan apa-apa yang diwajibkan Allah (kepadanya) dengan cara tipu daya itu.” (Ighotsah al Lahfan juz I hal 388)
Dan jika saja berbohong itu dibolehkan untuk kemaslahatan da’wah atau jama’ah tentulah Rasulullah saw akan melakukannya padahal betapa besar ujian dan cobaan yang dihadapinya dan generasi pertama islam didalam menyebarkan da’wah islam dan mengajak manusia ke jalan-Nya.
Jadi perkataan bahwa kebohongan dibolehkan untuk kemaslahatan da’wah atau kelompok adalah perkataan yang keliru atau tidak benar serta tidak memiliki landasan syar’i.
(Baca : Hukum Berhenti dari Jama’ah)
Wallahu A’lam
Lainnya (Arsip)
- Mengutamakan Pria sebagai Pemimpin daripada Wanita
Senin, 08/03/2010 11:36 WIB - Hukum Pemecatan dalam Harakah Dakwah
Jumat, 05/03/2010 14:37 WIB - Mengeluarkan Air Mani di Luar Isteri
Kamis, 04/03/2010 08:50 WIB - Jenis dan Doa Kemunafikan
Rabu, 03/03/2010 07:49 WIB - Maksud Sabar terhadap Pimpinan yang Jahat
Selasa, 02/03/2010 08:03 WIB
Ustadz Menjawab
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




