Bolehkah Mencintai Lelaki yang Sudah Menikah

Putry – Kamis, 22 Zulqa'dah 1429 H / 20 November 2008 17:39 WIB

Assalamu’alaikum. Wr. Wb.

Ustadz, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan.

Saya punya teman seorang laki-laki yang sudah menikah. Awalnya hanya teman bias. Semakin lama, hubungan kami semaikn dekat. Saya sering menceritakan masalah-masalah saya padanya dan dia pun sering mengatakan masalahnya pada saya. Saya pun sadar bahwa saya mempunyai perasaan kepadanya. Dan ternyata, laki-laki itu juga memiliki perasaan yang sama. Karena merasa diterima, saya dan dia menjalin hubungan.

Saya sadar bahwa saya telah melakukan kesalahan. Tapi, sulit bagi saya untuk menjauh darinya. Saya sudah katakan berkali-kali bahwa saya ingin belajar terlebih dahulu dan tidak ingin membuat rumah tangganya hancur karena saya. Tapi, entah kenapa saya tidak bisa istiqomah. Hubungan kami terus berlanjut hingga saat ini (tapi saat ini kami hanya berhubungan via telpon dan internet saja, saya berusaha untuk tidak bertemu langsung dengan dirinya).

Saya minta kepadanya untuk tegas. Dia bilang, dia mau menceraikan istrinya asal saya mau menikah dengannya.

Saya bingung, salahkah saya jika saya mencintai dia ustadz? Dan apa yang harus saya lakukan?
Jika saya menerimanya, apakah kelak saya akan mendapatkan karma? (Karena saya sudah menghancurkan rumah tangga orang)

Bagaimana caranya agar saya bisa istiqomah untuk berpisah dengannya ustadz?

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Saudari Via yang dirahmati Allah swt.

Larangan Berhubungan Intim dengan Yang Bukan Mahram

Terlalu seringnya anda berinteraksi dengan dia tanpa anda sadari telah membuka peluang bagi setan untuk terus memperdaya anda berdua sehingga mengarah kepada hal-hal yang tidak sebatas antar kawan tapi sudah mengarah kepada saling menyukai.

Firman Allah swt,”Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra : 32)

Allah swt melarang hamba-hamba-Nya dari perzinahan dan apa-apa yang bisa mendekatkan seseorang kepadanya, berinteraksi dengan sebab-sebabnya atau segala macam pendorongnya. (Tafsir Ibnu Katsir juz V hal 72)

Di dalam ayat ini jelas bahwa Allah swt memberikan peringatan kepada hamba-hamba-Nya akan bahaya perzinahan dan hal-hal yang mendekatkan seseorang kepadanya, seperti pergaulan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya tanpa batas-batas yang dibenarkan syariah,

Al Qur’an telah memberikan peringatan walaupun hanya sebatas mendekati perzinahan yaitu dengan memaksimalkan penjagaan terhadapnya karena perzinahan mendorong kepada syahwat yang kuat. Sedangkan penjagaan diri dari mendekatinya adalah jaminan keamanan, sementara orang yang mendekati sebab-sebab terjadinya perzinahan tidaklah memiliki jaminan.

Dari sini, Islam mengambil jalan untuk menghindari berbagai sebab-sebab pendorongnya dan tidak terjatuh kedalamnya. Islam memakruhkan ikhtilath (percampuran dalam bergaul antara laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya), mengharamkan kholwat (berdua-duaan), melarang tabarruj (berdandan) dengan berbagai perhiasan yang bukan untuk suaminya, menganjurkan untuk menikah bagi yang telah memiliki kesanggupan, memerintahkan untuk berpuasa bagi yang belum memiliki kesanggupan untuk menikah, memakruhkan berbagai penghalang yang bisa menghambat pernikahan seperti penentuan jumlah mahar yang berlebih-lebihan, menghilangkan ketakutan akan kekurangan harta dan kemiskinan disebabkan anak-anak, menganjurkan untuk membantu orang-orang yang ingin menikah demi memelihara kehormatan dirinya, memberikan sangsi atas suatu tindakan kriminal yang terjadi dan juga tuduhan berzinah terhadap wanita-wanita yang baik lagi lengah tanpa bukti.. hingga berbagai sarana-sarana preventif dan kuratif demi menjaga masyarakat islam dari kerusakan dan kehancuran. (Fii Zhilalil Qur’an juz IV hal 2224)

Paling tidak, di dalam hubungan diantara anda berdua ada dua hal yang secara syari’ah tidak dibenarkan seperti; berkholwat (berdua-duaan) dan memandang kepada orang asing baligh dan berakal karena dikhawatirkan akan terjadi fitnah.

Demikianlah Islam yang lebih mengedepankan tindakan preventif dari pada kuratif dikarenakan hal itu jauh lebih mudah dihindari daripada ketika masalah itu telah terjadi. Terlebih lagi suatu kemaksiatan (dosa) cenderung akan bertambah besar bobotnya jika terus menerus dilakukan meskipun pada awalnya mungkin biasa-biasa saja atau kecil. Ada ungkapan,”Sesungguhnya sebuah gunung itu adalah kumpulan pasir-pasir.”

Hakekat Cinta

Cinta didalam bahasa arab berarti mahabbah. Cinta memiliki banyak arti sebagaimana disebutkan Ibnu Qoyyim, diantaranya :

  1. Cinta adalah kecenderungan peemanen yang dialami oleh kalbu orang yang dimabuk asmara.
  2. Cinta adalah sikap memprioritaskan yang dikasihi melebihi semua teman.
  3. Cinta adalah selalu bersepakat dengan yang dicintai, baik pada saaat ada yang dicintainya atau pada saat dia tidak ada.
  4. Cinta adalah menyedikitkan hal-hal yang banyak didalam diri anda dan memperbanyak hal-hal yang sedikit dalam diri kekasih anda.
  5. Cinta adalah mengeratkan ketundukan dan meninggalkan perbedaan.
  6. Cinta adalah menghilangkan siapa pun dari hati anda kecuali yang anda cintai. (Madarijus Salikin juz II hal 11 – 13)

Bagi seorang muslim yang telah ridho bahwa Allah sebagai Tuhannya dan telah mengikrarkannya dengan dua kalimat syahadatnya maka haruslah mengedepankan kecintaan dalam arti diatas kepada Allah swt, Rasul-Nya baru kemudian kepada orang-orang yang mencintai dan dicintai Allah swt dari kalangan orang-orang beriman.

Firman Allah swt,”Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al Baqoroh : 165) Menurut Ibnu Qoyyim, ayat ini mengandung arti :

  1. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah dari segala tuhan dan sembahan-sembahan yang dicintai mereka orang-orang musyrik yang mereka agungkan melebihi dari Allah swt.
  2. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah dari kecintaan orang-orang musyrik kepada sembahan-sembahan mereka. Sesungguhnya kecintaan orang beriman itu adalah murni sedangkan kecintaan para penyembah tuhan-tuhan selain Allah mudah lenyap secara berangsur-angsur. (Madarijus Salikin juz II hal 20)

Diantara keharusan didalam mencintai Allah adalah mencinta orang-orang yang dicintai-Nya baik Rasulullah saw dan orang-orang yang beriman. Adapun kecintaan kepada sesama orang beriman tidaklah dilandasai atas dasar hawa nafsu, syahwat, kepentingan duniawai namun harus dibangun diatas kecintaan kepada Allah swt, sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik dari Nabi saw bersabda,”Tiga perkara yang jika ada (dalam diri seseorang) maka ia akan merasakan manisnya iman : 1. Hendaklah ia mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi dari selain keduanya. 2. Hendaklah ia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah. 3. Hendaklah ia membenci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia membenci untuk dilemparkan ke neraka.” (HR. Bukhori)

Tentunya ketika mencintai seseorang karena Allah swt maka ia akan menjauhi hal-hal yang dilarang-Nya didalam mencintai orang tersebut, baik sebab-sebab cintanya, cara dan sarana dalam mencintainya dan tujuan mencintainya. Sehingga kecintaan yang diberikannya bernilai ibadah oleh Allah swt dan mendapatkan pahala dari-Nya.

Kuatkan Tekad Anda

Bukanlah solusi ketika dia harus menceraikan isterinya dikarenakan mencintai anda yang berarti isteri dan anak-anaknya menjadi korban dalam permasalahan ini, padahal perceraian adalah perkara halal yang paling dibenci Allah swt, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Perkara halal yang dibenci Allah swt adalah talaq.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Mungkin ada yang berpendapat, mengapa tidak mengambil pintu poligami?!! Memang dibenarkan bagi seorang muslim untuk memiliki isteri hingga empat orang namun hal ini tidaklah semudah orang membalikkan tangannya dikarenakan adanya beberapa persyaratan yang harus diperhatikan yaitu mampu berlaku adil dalam aspek materil, pergaulan yang baik dan bermalam serta mampu memberikan nafkah secara adil kepada isteri-isterinya.

Nah.. kalau ingin mengambil pintu poligami haruslah betul-betul dihitung secara cermat oleh anda berdua, betulkah dia bisa berlaku adil?! Sementara saat ini saja dia sudah ada niatan siap menceraikan isterinya jika anda bersedia menikah dengannya.

Jangan sampai pernikahan yang harusnya bisa memberikan kebahagiaan kepada setiap orang yang ada didalamnya tapi berubah menjadi suatu penderitaan tidak hanya di dunia tapi juga diakherat dikarenakan tidak mampunya dia berlaku adil diantara isteri-isterinya, sebagaimana sabda Rasulullah saw, ”Barangsiapa yang memiliki dua orang isteri sementara dia lebih cenderung kepada salah satu dari keduanya (tidak adil) maka dia akan datang pada hari kiamat dengan separuh badan yang miring.” (HR. Abu DAud)

Kesadaran anda bahwa apa yang anda lakukan ini adalah keliru—semoga Allah merahmati anda—merupakan suatu hal yang perlu segera difollow-up kedalam langkah-langkah yang kongkrit, karena tidak jarang orang mengetahui suatu kebenaran namun tidak kuasa untuk mengikutinya seperti halnya banyak orang yang mengetahui keburukan namun juga tidak kuasai untuk menghindarinya.

Anda harus terus membina hubungan dengan Allah swt dengan memperbanyak doa dan amal sholeh karena Dial ah yang menggenggam hati seseorang dan membolak-balikkannya sesuai dengan kehendak-Nya. Mudah-mudahan doa-doa yang anda panjatkan terutama di penghujung malam serta amal-amal sholeh yang anda lakukan diterima Allah swt dan menjadi sarana untuk mendapat keteguhan dan keistiqomahan hati untuk tetap berada diatas kebenaran.

Firman Allah swt, ”Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, Maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. dan rencana jahat mereka akan hancur.” (QS. Fathir : 10)

Selain itu anda juga harus berusaha untuk menjarangkan intensitas pertemuan dan hubungan dengannya secara perlahan-lahan hingga betul-betul anda bisa melupakan dirinya, memang hal ini tidak mudah anda lakukan, namun tidak ada sesuatu yang tidak mungkin di alam ini kecuali kata tidak mungkin itu sendiri karena semua bisa terjadi dengan kehendak Allah swt. Ada satu pepatah arab yang mengatakan,”Siapa yang berusaha dengan keras maka dia akan sukses.”

Hal lain yang bisa membantu anda untuk merealisasikan keinginan itu adalah dengan mengisi waktu-waktu kosong anda dengan berbagai aktivitas yang bermanafaat. Karena sering kali waktu luang melalaikan seseorang dari dzikrullah, menjadikannya berbuat hal-hal yang tidak bermanfaat atau mungkin akan membawa fikiran anda untuk kembali berfikir tentangnya, sabda Rasulullah saw,”Dua nikmat yang menipu dan banyak manusia terjatuh didalamnya, yaitu ; kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhori)

Wallahu A’lam

Ustadz Menjawab Terbaru

blog comments powered by Disqus