Rismon Sianipar Sebut Nilai Jokowi Banyak D dan Pertanyakan Keabsahan Ijazahnya

Eramuslim.com - Ahli Digital Forensik, Rismon Sianipar, membuat pernyataan mengejutkan terkait rekam jejak akademik Presiden RI ke-7, Joko Widodo (Jokowi). Dalam program Rakyat Bersuara yang tayang di iNews pada Selasa, 1 Juli 2025, Rismon mengungkap bahwa nilai-nilai kuliah Jokowi didominasi huruf D, serta mempertanyakan keabsahan ijazah yang dimiliki Presiden.
“Bagaimana mungkin seorang mahasiswa di UGM bisa lulus mata kuliah dasar umum (MKDU) kalau nilainya D? Ini UGM, lho,” ujar Rismon, dikutip Rabu (2/7/2025). Ia menambahkan bahwa jika Jokowi benar memiliki dosen pembimbing akademik, maka sudah seharusnya diarahkan untuk mengulang karena tidak mungkin bisa lulus jika nilai MKDU buruk.
Rismon secara khusus menyoroti mata kuliah Matematika, Fisika, dan Statistik—bagian dari MKDU—yang menurutnya bernilai D. “Kalau kita melihat nilai-nilainya, terutama MKDU seperti Matematika Fisika Statistik nilainya D, itu sudah masuk kategori DO (Drop Out). Ini sudah confirm,” katanya tegas.
Lebih jauh, Rismon mempertanyakan kejelasan gelar akademik yang diterima Jokowi. Ia menyebut, jika Jokowi mendaftar sebagai sarjana muda, maka seharusnya gelar yang tertera di ijazahnya adalah Bachelor of Science (BSc). “Coba bayangkan, mendaftar sebagai sarjana muda tapi keluar ijazahnya sarjana. Harusnya gelar yang diterima BSc, itu pun kalau memang benar lulus,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Rismon juga memaparkan tiga metode ilmiah yang menurutnya bisa digunakan untuk menguji keabsahan ijazah Jokowi secara objektif dan transparan. “Kegaduhan di publik sebenarnya bisa diselesaikan dengan mudah dan ilmiah, cukup dengan tiga langkah: membandingkan usia kertas, usia tinta, dan memverifikasi siapa pembuat serta lokasi pembuatan ijazah tersebut,” jelasnya.
Rismon mengakui bahwa usia kertas masih bisa dimanipulasi dengan menggunakan blanko lama dari universitas, namun tidak demikian dengan usia tinta. “Usia tinta tidak bisa ditipu. Prosesnya bisa selesai hanya dalam satu minggu di lab BRIN,” katanya.
Ia menyoroti bahwa hingga kini, penyelidikan belum menyebut secara spesifik usia tinta yang digunakan pada ijazah Jokowi. “Jenis tinta zaman sekarang dengan tinta tahun 2000-an atau 1980-an sangat berbeda, begitu juga serat, jenis, dan pewarna kertasnya,” tambahnya.
Sebagai langkah ketiga, Rismon menyarankan untuk menelusuri siapa yang membuat ijazah tersebut dan di mana tempat pembuatannya. “Ini penting agar semua bisa diuji secara ilmiah dan tidak jadi polemik berkepanjangan di publik,” tutupnya.
Sumber: SINDONews dan iNews.ID