eramuslim

Anak Petani Jebolan Harvard: Presiden Terpilih Membunuh Demokrasi

[caption id="attachment_416329" align="alignnone" width="750"] Dr. Sukidi Mulyadi (sc youtube @k.eeptalking)[/caption]

Eramuslim - Seorang anak petani di Sragen yang merupakan jebolan Universitas Harvard, menegaskan jika presiden terpilih telah membunuh demokrasi.

Doktor Sukidi Mulyadi, demikian namanya, cendekiawan Muhammadiyah ini sebelumnya mengatakan bahwa demokrasi Indonesia saat ini berisiko hanya menjadi “jubah” yang menutupi praktik otoritarianisme.

Demokrasi Indonesia, demikian menurutnya, hanya merupakan 'kedok' dari praktik-praktik otoritarianisme.

Demokrasi di Indonesia semakin lama semakin bergerak ke titik nadir.

"Dan ini ironis karena dilakukan oleh para pemimpin yang dipilih melalui proses yang terlihat demokratis," ujarnya.

"Saya melihat kita tergerak di titik yang paling rendah. Demokrasi justru mati di tangan Presiden yang terpilih melalui instrumen demokrasi, lalu dia bunuh demokrasi," kata Sukidi dalam video yang diunggah politisi PDIP @GunRomli.

Cendekiawan Muhammadiyah ini menyoroti upaya sistematis yang dipercaya dilakukan untuk melemahkan prinsip-prinsip utama demokrasi, seperti kontrol kekuasaan dan partisipasi masyarakat sipil.

"Apa yang dia bunuh? Pertama adalah mekanisme check and balance. Ia matikan betul mekanisme itu agar bisa berkuasa secara otoriter," lanjutnya.

Sukidi juga mengulas teori klasik dalam ilmu politik yang menyatakan bahwa demokrasi tumbuh ketika negara dan masyarakat sipil memiliki kekuatan yang seimbang.

Namun, ia menilai hal tersebut justru terbalik di Indonesia saat ini.

Pernyataan cendekiawan Muhammadiyah, Dr. Sukidi Mulyadi, tentang kondisi demokrasi di Indonesia saat ini memantik respons dari berbagai pihak. [rd]