Analis: Spekulasi Perang Dingin Rusia-AS Berlebihan
Konflik Georgia yang berlangsung hampir satu bulan belakangan ini, memicu ketegangan Rusia dan AS. Ketegangan dua negara itu berawal dari ikut campur mereka dalam konflik yang diawali dengan serangan Georgia ke wilayah Ossetia Selatan, wilayah yang mendeklarasikan kemerdekaannya dari Georgia sejak awal tahun 1990-an. Rusia berada di pihak Ossetia. Sementara AS dan Israel membela Georgia, satu hal yang bisa dipahami karena di Georgia terdapat banyak kaum Yahudi. AS makin berang ketika Rusia menyatakan mengakui kemerdekaan dua wilayah lainnya di Georgia.
Keterlibatan Rusia dan AS dalam konflik tersebut berujung pada pernyataan saling ancam antara Rusia dan AS yang didukung oleh Uni Eropa. Prancis hari Kamis kemarin bahwa Uni Eropa sedang mempertimbangkan sanksi bagi Rusia, yang akan dibicarakan dalam pertemuan darurat mereka minggu depan.
"Sanksi sedang dipertimbangkan dan banyak kemungkinan lain yang akan dibicarkan dalam pertemuan di Brussel, hari Senin lusa, " kata Kouchner, menlu Prancis. Prancis sendiri saat ini menjabat sebagai presiden Uni Eropa.
Pernyataan Kouchner direspon Rusia dengan melakukan uji coba misil antar-benua. Seminggu kemudian, AS menandatangani kesepakatan dengan Polandia tentang kerjasama anti-misil di kawasan Eropa Tengah.
Situasi ini memicu munculnya spekulasi bahwa perang dingin akan blok Barat dan blok timur akan terulang kembali, seperti ketika Uni Sovyet masih menjadi kekuatan terbesar di timur. Namun Presiden Rusia Dmitry Medvedev menepis spekulasi itu dan mengatakan bahwa Moskow tidak membutuhkan perang dingin seperti yang pernah terjadi di masa lalu, meski demikian Rusia siap menghadapi kemungkinan apapun.
"Kalau Eropa menginginkan untuk merenggangkan hubungan dengan kami, mereka akan mendapatkannya, " tantang Medvedev.
Pernyataan Medvedev didukung oleh para analis, yang mengatakan bahwa Rusia maupun Barat sebenarnya tidak menginginkan perang dingin baru terjadi. "Saya tidak berpikir ini adalah perang dingin. Apa yang kami lihat adalah, Rusia ingin ditanggapi dengan serius sebagai sebuah kekuatan global, " kata Matthew Clements, editor Jane's defence publications untuk wilayah Eurasia.
Menurutnya, kemungkinan eskalasi militer sangat rendah, dan Rusia maupun Barat sebenarnya tidak ingin melibatkan diri dalam eskalasi itu. "Tak satupun dari keduanya yang sebenarnya ingin merenggangkan hubungan, " kata Clements.
Margot Light, profesor bidang hubungan internasional di London School of Economics (LSE) juga tidak yakin akan terjadi perang dingin antara Barat dan Rusia. "Terlalu berlebihan menyebutnya sebagai perang dingin. Rusia masih menjadi negara yang memiliki kekuatan nuklir, dan rasanya tidak mungkin Washington mau mengambil resiko untuk membuka konflik dengan Rusia, " ujar Light.
Analis politik Christopher Langton dari International Institute for Strategic Studies sependapat dengan Light. Menurutnya, Rusia saat ini secara ekonomi masih sangat bergantung pada komunitas global, dibandingkan di masa lalu.
"Bagaimana bisa Rusia menerapkan kebijakan perang dingin. Mereka kalah dalam perang dingin di masa lalu, dan perang dingin itu telah menghancurkan perekonomian mereka. Saat ini, minyak dan gas adalah tujuan utama untuk memulihkan kembali perekonomian mereka ke tingkat yang mereka inginkan, " tukas Langton. (ln/iol)