eramuslim

Apakah Al-Qur’an Masih Relevan Hari Ini?

Eramuslim.com - Artikel ini menjawab keraguan tentang relevansi Al-Qur’an di zaman modern, menegaskan bahwa pesan-pesan dalam Al-Qur’an bersifat universal, abadi, dan berlaku untuk seluruh umat manusia, bukan hanya terbatas pada masa atau tempat tertentu. Meskipun sebagian ayat diturunkan untuk menjawab kondisi spesifik di masa Nabi Muhammad ﷺ, namun kandungan nilai dan hukumnya tetap relevan dan mengikat hingga hari kiamat.

1. Al-Qur’an Adalah Pesan untuk Seluruh Umat Manusia

Al-Qur’an secara eksplisit menyatakan bahwa ia adalah petunjuk untuk semua umat manusia di segala waktu dan tempat. Ayat-ayat seperti “Dan Kami tidak mengutusmu (wahai Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” menegaskan bahwa setiap manusia—tanpa memandang ras, suku, status, atau waktu—adalah audiens dari pesan Al-Qur’an.

2. Menjawab Keraguan: Bukankah Al-Qur’an Diturunkan dalam Konteks Sejarah Tertentu?

Sebagian orang berpandangan bahwa Al-Qur’an harus dibaca secara historis; bahwa hukum-hukumnya hanya relevan bagi masyarakat Arab abad ke-7. Namun, ulama klasik dan kontemporer menyanggah pandangan ini. Meskipun turunnya ayat memiliki konteks, tetapi kandungan pesan, nilai, dan hukumnya bersifat lintas zaman dan tempat.

3. Nabi Muhammad ﷺ Diutus untuk Semua Umat, Manusia dan Jin

Hadits menyebutkan bahwa para nabi terdahulu diutus untuk kaumnya saja, sedangkan Nabi Muhammad ﷺ diutus kepada seluruh umat manusia, bahkan juga kepada bangsa jin. Ini menunjukkan cakupan dakwah dan syariat beliau bersifat menyeluruh.

4. Syariat Islam Adalah Penutup Semua Syariat

Berbeda dengan syariat para nabi sebelumnya yang bersifat sementara dan lokal, syariat Nabi Muhammad ﷺ bersifat final dan tidak akan digantikan hingga hari kiamat. Al-Qur’an menyatakan, “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) dengan kebenaran... sebagai pembenar kitab-kitab sebelumnya dan sebagai tolok ukur terhadapnya.”

5. Sunatullah: Pola Hukum Allah yang Konsisten

Al-Qur’an berulang kali mengingatkan bahwa cara Allah menangani umat manusia tidak berubah. Contohnya, umat-umat terdahulu yang mendustakan nabi mereka mengalami kebinasaan, dan yang beriman mendapat keselamatan. Ini adalah pola tetap (sunatullah) yang masih berlaku hingga kini. Kita diingatkan untuk belajar dari sejarah sebagai pelajaran (ʿibrah) agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

6. Kisah Nabi dan Umat Terdahulu Bukan Sekadar Sejarah

Dalam surat Hūd dan Asy-Syuʿarāʾ, Allah mengisahkan umat-umat seperti kaum Nuh, Hud, Luth, dan Syuʿaib yang dihancurkan karena kedurhakaan mereka. Setiap kisah ditutup dengan kalimat “Sesungguhnya pada kisah itu terdapat tanda (āyah) bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat,” menandakan bahwa kisah-kisah ini bukan sekadar sejarah, tapi pelajaran universal sepanjang masa.

7. Kekafiran dan Kesombongan = Awal dari Kehancuran

Al-Qur’an mengajarkan bahwa kekufuran sering disertai sikap melampaui batas (ṭughyān), yaitu kesombongan dan kezaliman karena merasa tidak butuh Tuhan. Dalam surah Al-‘Alaq, Allah berfirman, “Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas karena ia melihat dirinya serba cukup.”

Al-Qur’an bukan kitab hukum kuno yang terikat waktu, melainkan wahyu terakhir yang menyampaikan hukum, nilai, dan pelajaran moral yang berlaku selamanya. Ia bersifat inklusif, tidak mengenal batas bangsa, generasi, atau status sosial. Justru di tengah tantangan zaman modern, pesan Al-Qur’an semakin terbukti relevan untuk membimbing umat menuju jalan yang lurus.

Sumber: Yaqeen Institute