eramuslim

Arnaldy, Perawat Bunga Bangkai Sumatra di Kebun Raya Berlin

 

 

Eramuslim.com - Arnaldy Indra Prasetya, pria asal Semarang yang akrab disapa Aldy, kini jadi sosok penting di balik suksesnya pengembangbiakan bunga bangkai (Amorphophallus titanum) di Kebun Raya Berlin. Sudah empat tahun ia menjadi ahli botani di sana, khusus menangani tanaman air rawa tropis dan spesialis keluarga Araceae—kelompok tumbuhan yang mencakup bunga bangkai raksasa asal Sumatra.

Kepada DW Indonesia, Aldy bercerita bagaimana bunga langka dari tanah air bisa sampai ke jantung Eropa. Menurutnya, bunga bangkai pertama kali dikirim ke Eropa pada awal 1900-an oleh Odoardo Beccari, ahli botani asal Italia yang menemukannya di hutan-hutan Sumatra. Umbi bunga itu kemudian disebarkan ke kebun raya Eropa dalam program pelestarian tanaman langka dan pertukaran spesies.

Merawat bunga bangkai di Eropa bukan perkara mudah. Aldy menjelaskan, habitat alaminya adalah lereng hutan hujan tropis—lembap, panas, dan rawan jamur serta nematoda. Di rumah kaca tropis Berlin yang beriklim empat musim, tantangan besar muncul: bagaimana menciptakan "resep" media tanam yang pas agar umbi tak mati, membusuk, atau gagal mekar. Penyiraman pun harus presisi, tergantung kondisi dorman atau aktifnya tanaman.

Namun di balik aroma busuk yang menyengat saat mekar, bunga bangkai menyimpan keunikan luar biasa. Bagi Aldy, bunga ini melambangkan kebebasan—karena waktu mekar yang tak bisa diprediksi; cinta—karena mekanisme reproduksinya yang menghindari inses; dan keindahan—karena warna spatha merah tua seperti daging busuk yang justru menarik serangga untuk membantu penyerbukan.

Di Berlin, bunga bangkai tak mekar setiap tahun. Mekarnya hanya berlangsung sekitar tiga hari, lalu bunga menyusut, layu, dan energi kembali tersimpan di umbi. Butuh waktu hingga tiga sampai sepuluh tahun agar bunga itu mekar lagi.

Pada akhir Juni 2025, Kebun Raya Berlin mencatat rekor baru: salah satu bunga bangkai mereka mencapai tinggi 2,36 meter, tertinggi sepanjang sejarah mereka. Sebelumnya, rekor 1,99 meter terjadi pada 2018.

Lalu bagaimana perjalanan seorang anak Semarang bisa jadi "pawang bunga bangkai" di Jerman?

Aldy mengisahkan perjalanannya dimulai dari mimpi ingin jadi Menteri Lingkungan Hidup. Tapi karena jalan itu penuh rintangan, ia memilih jalur nyata—merawat tanaman langsung. Ia menempuh pendidikan vokasi (Ausbildung) di bidang perawatan tanaman hias di Cuxhaven, Jerman, lalu lanjut ke Kebun Raya Loki-Schmidt, Hamburg, untuk mendalami tanaman tropis dan tahunan.

Lulus sebagai satu-satunya orang Asia dan salah satu yang terbaik di bidangnya, Aldy sempat bekerja di pemakaman Ohlsdorf—menata taman dan mengelola acara pemakaman. Lalu pindah ke Kebun Raya Rostock sebelum akhirnya pada 2020 diterima di Kebun Raya Berlin.

Kini, ia memimpin tim untuk pengembangan tanaman rawa tropis dan Araceae. Dari Semarang ke Berlin, dari kampus ke pemakaman, hingga kini menjaga pusaka hayati Indonesia yang paling langka dan eksotis.

"Bunga bangkai mungkin bau, tapi berkat Aldy, harum nama Indonesia justru menguar di taman botani Eropa."

Sumber: DW News