AS Bombardir Situs Nuklir Iran: Dunia di Ambang Perang Besar!

Eramuslim.com - Amerika Serikat menyerang tiga lokasi nuklir di Iran pada Minggu dini hari, terjun langsung ke konflik Israel-Iran yang bertujuan menghancurkan program nuklir Iran. Aksi ini dianggap sebagai langkah berisiko yang bisa memperlebar konflik regional, sementara Teheran menuding Washington memulai "perang berbahaya."
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa situs nuklir utama Iran "telah sepenuhnya dihancurkan" lewat pidatonya dari Gedung Putih. Belum ada penilaian kerusakan independen.
Badan Energi Atom Iran mengonfirmasi serangan terjadi di fasilitas Fordo, Isfahan, dan Natanz, namun menegaskan program nuklir mereka tak akan terhenti. Iran dan Badan Energi Atom Internasional menyatakan tidak ada tanda kontaminasi radiasi setelah serangan tersebut.
Trump mengambil tindakan tanpa persetujuan Kongres, menegaskan akan ada serangan tambahan jika Iran membalas. “Entah akan ada perdamaian atau bencana bagi Iran,” katanya.
Kementerian Luar Negeri Iran mengecam AS atas serangan tersebut, menyebut Washington telah “mengkhianati diplomasi” dan secara de facto melancarkan “perang berbahaya” terhadap Iran. Iran menyatakan akan membalas dengan kekuatan penuh dan melindungi kepentingan nasionalnya.
Tak lama setelah serangan AS, rudal Iran menghantam wilayah utara dan tengah Israel; delapan belas orang mengalami luka ringan dan beberapa bangunan rusak. Militer Israel merespons dengan menghancurkan peluncur rudal Iran dan melakukan serangan balasan ke beberapa target militer di barat Iran.
Meski Iran bersikeras bahwa program nuklirnya bersifat damai, AS dan Israel menuduh Iran siap memproduksi senjata nuklir. Serangan AS ini merupakan respons atas rangkaian serangan Israel yang sempat melemahkan pertahanan udara dan fasilitas nuklir Iran. Pesawat pembom B‑2 stealth AS dan bom bunker‑buster berpeluru 13,5 ton digunakan untuk menghancurkan situs bawah tanah Fordo yang sangat terlindungi.
Trump — atas dorongan pejabat Israel dan legislator Partai Republik — menilai ini adalah momen historis untuk menahan laju program nuklir Iran. Ia bahkan menyebut aksi militer sebagai “Momen Bersejarah untuk AS, Israel, dan Dunia,” dan menegaskan Iran harus menghentikan perang sekarang juga.
Israel menutup wilayah udaranya setelah serangan AS dilakukan. Pentagon dan Gedung Putih belum memberikan penjelasan lebih lanjut, namun pemimpin militer AS dijadwalkan memberikan briefing mendetail pada pagi hari ini. Sebuah sumber anonim menyebut bom bunker‑buster digunakan untuk menyerang fasilitas Fedora yang tertanam jauh di dalam gunung. Demikian pula, sekitar 30 misil Tomahawk diluncurkan oleh kapal selam AS.
IAEA menyatakan belum ada peningkatan radiasi dan akan terus memantau situasi.
Serangan AS ini mengejutkan karena sebelumnya Trump menjanjikan akan menarik diri dari konflik asing. Ia beralasan tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir, dan upaya diplomasi sempat dijalankan selama berbulan-bulan — termasuk negosiasi dengan Netanyahu untuk menunda tindakan militer.
PM Israel Netanyahu memuji keberanian Trump dalam video, menyebut bahwa aksi ini “akan mengubah sejarah.”
Di sisi lain, Sekjen PBB Antonio Guterres memperingatkan bahwa serangan ini merupakan “eskalasi berbahaya” yang bisa secara cepat keluar dari kendali dan menimbulkan konsekuensi buruk bagi warga sipil, kawasan, dan dunia.
Kelompok Houthi di Yaman menyerukan negara-negara Muslim membentuk "satu front melawan kesombongan Zionis-AS," mengingat mereka sempat mengancam menyerang kapal-kapal AS di Laut Merah.
Peringatan juga datang dari Ayatollah Ali Khamenei dan Kemenlu Iran, yang menyebut bahwa intervensi AS bisa memicu “perang menyeluruh” di Timur Tengah.
Konflik ini telah menelan ratusan nyawa: menurut Human Rights Activists, 865 orang tewas dan 3.396 lainnya luka-luka akibat serangan Israel terhadap Iran.
Serangan langsung AS ini terjadi setelah kampanye diplomasi dua bulan yang gagal menghentikan Iran mengejar program nuklir, dimulai sejak AS keluar dari kesepakatan nuklir 2015 dan mendorong Iran meningkatkan pengayaan uranium serta membatasi akses pengawas IAEA.
Sumber: AP News