eramuslim

AS Evakuasi Personel Diplomatik di Timur Tengah, Israel Akan Serang Iran?

Eramuslim.com - Amerika Serikat dikabarkan mulai mengevakuasi sebagian personel diplomatiknya dari Irak dan sejumlah negara Timur Tengah, seperti Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Langkah ini dikaitkan dengan kemungkinan serangan militer Israel terhadap Iran yang semakin mendekati kenyataan.

Menurut laporan CBS News, pemerintah AS mengeluarkan izin "keberangkatan sukarela" bagi keluarga personel militer dan staf kedutaan sebagai langkah antisipatif terhadap eskalasi konflik regional. Komando Pusat AS (CENTCOM) menegaskan bahwa pihaknya terus memantau situasi, dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth telah menyetujui kebijakan evakuasi demi alasan keamanan.

Presiden Donald Trump dalam pernyataan publiknya menyebut wilayah tersebut berpotensi menjadi "tempat berbahaya", terutama jika Iran terus mengembangkan program nuklirnya. “Kami tidak akan membiarkan mereka memiliki senjata nuklir,” tegas Trump.

Evakuasi staf diplomatik Amerika dari Timur Tengah bukanlah sinyal perdamaian, melainkan pertanda bahwa AS kembali memainkan peran provokator dalam ketegangan global—kali ini di antara Israel dan Iran.

Alih-alih mendorong dialog dan deeskalasi, Washington justru diduga memberi ruang bagi Israel untuk bersiap melancarkan serangan terhadap Iran, yang dampaknya bisa mengguncang kawasan dan menyeret dunia ke dalam konflik baru. Narasi bahwa "Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir" terdengar hipokrit jika diucapkan oleh negara yang memiliki ribuan hulu ledak nuklir dan menjadi sponsor utama militer Israel, yang sendiri tidak pernah transparan soal persenjataan nuklirnya.

Sementara itu, CBS juga melaporkan bahwa pejabat AS telah menerima informasi intelijen yang menyebut Israel siap meluncurkan serangan terhadap Iran. Pemerintah AS diduga kuat tengah mempersiapkan diri terhadap kemungkinan serangan balasan dari Teheran yang mungkin menyasar instalasi AS di Irak.

Menanggapi ketegangan ini, misi Iran di PBB menegaskan bahwa negaranya tidak sedang mengejar senjata nuklir dan mengecam pendekatan militeristik AS yang justru memperkeruh keadaan. “Diplomasi – bukan militerisme – adalah satu-satunya jalan keluar,” tulis mereka di media sosial.

Menteri Pertahanan Iran, Jenderal Aziz Nasirzadeh, turut menegaskan kesiapan negaranya untuk merespons bila diserang. Ia memperingatkan bahwa semua pangkalan militer AS di kawasan berada dalam jangkauan Iran dan bisa menjadi target jika konflik pecah.

Putaran keenam pembicaraan diplomatik antara AS dan Iran terkait program nuklir dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini di Oman. Namun, masa depan diplomasi ini semakin tidak pasti seiring meningkatnya ketegangan militer.

AS benar-benar menginginkan stabilitas, mereka seharusnya menghentikan dukungan militer kepada Israel, mendorong pengawasan internasional terhadap seluruh program nuklir di kawasan (termasuk Israel), dan memastikan dialog yang setara antara semua pihak. Tapi tentu saja, itu tidak akan terjadi selama pendekatan geopolitik AS terus didikte oleh kepentingan industri senjata dan politik domestik.

Solusi bukan pada peluncuran rudal, tetapi di meja diplomasi. Namun selama AS masih memainkan peran sebagai 'wasit' yang juga menjadi pemain, perdamaian sejati hanya akan menjadi ilusi.

Sumber: Tempo.co