AS Hentikan Sebagian Pengiriman Senjata ke Ukraina, Rusia Sambut Positif

Eramuslim.com - Amerika Serikat menyatakan akan menghentikan sebagian pengiriman senjata ke Kyiv yang sebelumnya dijanjikan di era pemerintahan Presiden Joe Biden, di tengah meningkatnya serangan Rusia terhadap Ukraina.
Janji-janji era Biden, yang mencakup berbagai jenis amunisi untuk memperkuat pertahanan Ukraina, kini sedang ditinjau ulang karena Departemen Pertahanan AS (Pentagon) mengevaluasi ulang tingkat persediaan militer yang ada. Langkah ini bisa menandai adanya pergeseran prioritas di bawah Presiden Donald Trump, yang mendorong pendekatan militer global yang lebih hati-hati.
“Keputusan ini diambil untuk mengutamakan kepentingan Amerika setelah dilakukan tinjauan terhadap bantuan dan dukungan militer negara kita ke berbagai negara di dunia,” kata juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, dalam pernyataan pada Selasa.
Penilaian internal Pentagon menemukan bahwa beberapa persediaan senjata “terlalu rendah” untuk dapat segera dikirim ke Ukraina, ujar seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya kepada Politico, media yang pertama kali melaporkan penghentian bantuan militer ini.
“Militer Amerika belum pernah sekuat dan sebaik ini,” kata juru bicara Pentagon, Sean Parnell, sambil mencatat bahwa RUU perpajakan dan pengeluaran pertahanan besar yang sedang dibahas di Kongres akan membantu memodernisasi sistem pertahanan untuk jangka panjang.
Politico dan media AS lainnya melaporkan bahwa rudal untuk sistem pertahanan udara Patriot, artileri presisi, dan rudal Hellfire termasuk di antara senjata yang saat ini ditangguhkan pengirimannya.
Wakil Menteri Luar Negeri Ukraina, Mariana Betsa, mengucapkan terima kasih atas bantuan AS, tetapi memperingatkan bahwa penghentian bantuan militer—terutama sistem pertahanan udara—dapat membuat Rusia semakin berani.
“Setiap penundaan atau kelambanan dalam mendukung kemampuan pertahanan Ukraina hanya akan mendorong agresor untuk melanjutkan perang dan teror, bukan mencari perdamaian,” kata Kementerian Luar Negeri Ukraina.
Dari Kyiv, reporter Al Jazeera, Rory Challands, menyatakan bahwa Ukraina kemungkinan saat ini menganggap Trump sebagai “sekutu yang tidak dapat diandalkan.”
Rusia Menyambut Keputusan AS
Sementara itu, Rusia menyambut baik keputusan Amerika tersebut dan mengatakan hal itu bisa mempercepat akhir konflik.
“Semakin sedikit senjata yang dikirim ke Kyiv, semakin cepat perdamaian akan tercapai,” kata Kremlin pada Rabu.
Rusia Gencarkan Serangan
Penghentian pengiriman senjata ini terjadi pada saat yang sangat genting bagi Ukraina, ketika Rusia memperhebat serangan udara dalam salah satu fase perang yang paling intens. Harapan akan gencatan senjata—yang sejak lama didorong oleh Trump—kini makin meredup, seiring terhentinya pembicaraan antara Kyiv dan Moskow.
Sejak invasi besar-besaran Rusia dimulai pada Februari 2022, AS telah memberikan lebih dari 66 miliar dolar AS dalam bentuk senjata dan bantuan keamanan kepada Ukraina.
Sepanjang konflik, Washington juga mendesak sekutu-sekutunya untuk menyuplai sistem pertahanan udara, terutama baterai rudal Patriot. Namun, banyak negara anggota NATO, terutama di Eropa Timur, enggan menyerahkan sistem tersebut karena kekhawatiran terhadap ancaman Rusia.
Trump, yang bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada KTT NATO pekan lalu, mengakui permintaan Ukraina untuk tambahan rudal Patriot.
“Mereka memang ingin memiliki rudal antirudal itu, ya, seperti yang mereka sebut Patriots,” ujar Trump. “Kami akan lihat apakah kami bisa menyediakannya. Kami juga membutuhkannya. Kami juga mengirimkannya ke Israel, dan sistem itu sangat efektif. Sulit dipercaya betapa efektifnya.”
Sumber: Al Jazeera