eramuslim

AS Khawatirkan Eksistensi Kelompok Islamis di Bangladesh

AS mengkhawatirkan eksistensi kelompok Islam, Jamaat-ul-Mujahideen Bangladesh (JMB) yang ingin menerapkan syariah Islam di Bangladesh dan ingin mengubah negara itu menjadi negara Islam. Kekhawatiran itu diungkapkan duta besar AS untuk Bangladesh, James F. Moriarty.

Moriarty mengatakan, penangkapan terhadap sejumlah anggota JMB dan penemuan persenjataan di Bhola menunjukkan bahwa potensi aksi-aksi terorisme di Bangladesh masih tetap mengkhawatirkan.

Di Bangladesh, JMB adalah kelompok perlawanan terlarang karena garis perjuangannya ingin mengubah Bangladesh menjadi negara Islam. JMB dituding berada dibalik sejumlah serangan bom yang terjadi pada akhir tahun 2005 lalu, yang menewaskan 30 orang melukai 150 orang lainnya.

Akhir Maret kemarin, aparat keamanan Bangladesh menyita sejumlah persenjataan dan bahan peledak serta menangkap empat orang yang diklaim sebagi anggota JMB dalam operasi penyerbuan sebuah madrasah di distrik Bhola, sebelah selatan kota Dhaka, ibukota Bangladesh.

Penyerbuan dilakukan karena pemerintah mencurigai para militan Islam dari JMB terlibat dalam pemberontakkan yang dilakukan unit para militer Bangladesh di kota Dhaka, akhir Februari lalu. Upaya pemberontakan yang berlangsung selama dua hari itu menewaskan 80 orang, kebanyakan jajaran komandan unit paramiliter Bangladesh Rifles (BDR). Pemberontakan itu memicu kekhawatiran akan eskalasi kekerasan di negeri itu.

Sebagai langkah antisipasi, aparat keamanan Bangladesh menggelar operasi-operasi penyerbuan ke tempat-tempat yang diduga menjadi tempat persembunyian para militan, menyita persenjataan dan bahan peledak serta menangkap hampir 200 orang yang dicurigai sebagai anggota kelompok militan islamis.

Namun, mantan perdana menteri Bangladesh, Begum Khaleda Zia dalam aksi massa akhir pekan kemarin menyatakan tidak ada kelompok militan islamis di negeri itu. Menurutnya, pemerintah sudah memberangus gerakan-gerakan Islam ketika ia menjadi perdana menteri di era tahun 2001-2006.

Sementara itu, perdana menteri berkuasa di Bangladesh, Syaikh Hasina menuding pemerintahan Khalida tidak merespon dengan maksimal ancaman kelompok-kelompok Islam di negeri itu.

JMB, sebagai kelompok islamis yang disegani di Bangladesh sempat menghentikan sementara aktivitasnya setelah para komandannya dieksekusi pada tahun 2007. Tapi laporan-laporan intelejen menyebutkan bahwa kelompok itu membangun kembali kekuatannya dan bisa melakukan serangan baru kapan saja. (ln/