free hit counters
 

Syahganda Nainggolan: The Market For Lemons, Theory Of The Second-Best dan Pilpres 2019

Redaksi – Rabu, 13 Zulqa'dah 1440 H / 17 Juli 2019 10:00 WIB

Eramuslim.com – THE Market for Lemons, teori ketidaksempurnaan pasar, berupa asimetri informasi, diciptakan George Akerlof, membuat dia memenangkan hadiah Nobel pada tahun 2001.

Model yang dikembangkan Akerlof dengan menggunakan dua mobil bekas yang dipasarkan, yang lebih buruk (Lemon, istilah di USA) dan sedikit buruk, tanpa informasi sempurna tentang kondisi mobil itu, antara penjual dan pembeli, membuat perilaku pembeli dan penjual mengalami dinamika merespon harga yang ada.

Dinamika perilaku ini pada akhirnya menuju situasi di mana mobil yang lebih baik akan keluar dari pasar dan mobil yang lebih buruk (Lemon) akan tersisa di pasar.

Apakah teori ini bisa diadopsi dalam menjelaskan pilpres kita?

Sebelum saya  masuk ke sana, kita melihat sebuah teori lagi, Theory of the Second-Best, yang dikembangkan Richard Lipsey (ekonom Kanada) dan Lancester, 1957. Teori ini  menjelaskan pilihan “imperfect market” yang dipilih, merupakan pilihan kedua yang terbaik (second- best), menjauhkan dari pilihan “imperfect market” lainnya yang sama atau bahkan lebih buruk.(Second-best theory states that when one optimum equilibrium condition is not met, all the other ones will probably change too).

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Analisa Terbaru