free hit counters
 

Akal Sehat, Descartes dan Rezim Jokowi

Redaksi – Minggu, 17 Februari 2019 13:00 WIB

Namun, pikiran Rocky berkesesuaian, misalnya dengan Prof. Timothy Williamson of Oxford. Williamson melihat bahwa common sense sudah mencakup kapasitas untuk menilai dan berargumen. Hanya dalam tahap lanjut (yakni philosophy), selain “application way Common Sense of thinking”, philosophy membutuhkan  “history of experiences” ,”regress”, “eleborate ideas more carefully”, “methods” dll. Jadi argumen menggunakan common sense untuk menilai sesuatu dapat dibenarkan.

Rocky tidak membedakan pengertian spektrum seperti Denny. Namun, pengertian berpikir kritis sudah masuk dalam pengertian akal sehat Rocky tersebut.

Kedua, Denny mengkritik RG karena hanya menggunakan akal sehat untuk mengkritik Jokowi saja. Padahal akal sehat hidup di ruang publik?

Pertanyaan Denny ini sangat absurd. Sebab, kehadiran seorang filsuf dalam mengkritik cara pandang pemerintah itu sudah historis sifatnya.

Ketika Denny merujuk Descartes dan Thomas Paine, kedua filosof itu justru melakukan yang sama terhadap otoritas atau pemerintahannya. Descartes harus mengalami nasib dimana pikiran-pikirannya tentang bumi “The World” (berbasis Heliocentric) berhenti karena takut dihukum mati seperti Galelio (meski Galileo akhirnya tahanan rumah). (Setelah ia wafat beberapa karyanya dimasukkan dalam index buku yang dilarang oleh otoritas Gereja di masa lalu.)

Thomas Paine demikian juga, masuk penjara di Prancis (dan pindah ke Luxembourg) karena pikiran-pikirannya tentang tidak setuju hukuman mati, bertentangan dengan rezim berkuasa di Prancis di masa revolusioner. Dimusuhi banyak elit-elit Amerika dan Inggris karena pikirannya tentang hak hak manusia yang tidak boleh hilang dalam “society” dan “government”.

Beda filosof dengan konsultan politik seperti Denny adalah filosof berjuang untuk kebenaran sedang konsultan politik berjuang untuk uang.

Standar moral yang berbeda antara Denny vs Rocky tentunya sulit untuk menjadikan adanya tolak ukur dari sisi Denny kepada Rocky.

Misalnya, apakah masuk akal bagi Denny mempertanyakan RG yang hanya mengkritik Jokowi di satu sisi, sementara di sisi lain Denny hanya menghancurkan reputasi Prabowo, seolah-olah mereka sama atau setali mata uang bahwa mereka adalah tim sukses semata?

Justru sebaliknya, seorang filosof seperti RG mengkritik Jokowi karena ruang publik kita dipersempit rezim Jokowi dengan membenturkan dua ideologi dan narasi besar. Dan hanya ada dua dalam pertarungan ini, yakni pihak Jokowi vs pihak Prabowo/oposisi.

Jokowi mengidentifikasikan dirinya sebagai “Raja Jawa” (kesalahan apapun di luar dirinya, seperti kasus “I dont read what I sign” adalah kesalahan bukan dirinya, meski itu jelas kesalahan fatal dirinya).

Jokowi membangun narasi besar sebagai Pancasila (saya Pancasila) dan yang bukan dirinya bisa ditafsir bukan Pancasila. Jokowi bukan masa lalu, sehingga yang bukan dirinya mempunyai beban masa lalu.

Selain narasi, Jokowi juga membangun kekuatan di atas demokrasi. Pengamat barat mengatakan sebagai “authoritarian turn” atau “New Neo Order”. Berbagai kelompok oposisi di penjara. Untuk membuktikan sebaliknya, Jokowi “menggunakan” Ratna Sarumpaet sebagai perisai.

Denny sendiri berperan melalui keahliannya sebagai konsultan politik mempertajam hal itu, seperti mempengaruhi publik via survei-survei opini, membuat meme dan membangun tulisan-tulisan, seperti “NKRI Bersyariah”. Dengan situasi di atas, ruang publik yang dimaksud Denny tentunya hanya fatamorgana.

Misalnya, ketika Denny mengatakan ada institusi lainnya dalam cabang-cabang kekuasaan, seperti kekuasaan DPR. Benarkah ada? Faktanya dalam 4 tahun lebih DPR yang ada hanya menjadi subordinat pembelahan kekuasaan yang sudah dibahas di atas, rezim Jokowi vs Prabowo/oposisi.

Dalam keadaan ini justru Rocky berhasil menunjukkan konsistensinya sebagai filsuf yang menggerakkan rakyat, seperti Thomas Paine.

Ketiga, dua catatan Denny sudah terjawab di atas. Catatan ketiga mengapa Rocky harus menunda kritik terhadap Prabowo setelah 12 menit Prabowo berkuasa? Dari segi niat, tentu hal ini hanya bisa dijawab sendiri oleh Rocky.

Yang bisa kita nilai adalah Rocky menunjukkan kritik dia selama ini tidak terkait dengan ambisi dia untuk berkuasa ke depan. Rocky meyakini bahwa bangsa ini memerlukan kebebasan sipil dan demokrasi yang hanya bisa terjadi dengan menguatkan civil society. Seorang filsup harus mengambil posisi pada sisi rakyat agar kontrol terhadap pemerintah terjadi untuk “check and balance system” terwujud.

Era Kebenaran

Descartes telah mengukir dirinya sebagai bapak modern filosofi dengan “Discourse on the Method”. Berpikir kritis. Rocky membawa pengertian ini kepada rakyat Indonesia. Meski dengan kosakata akal sehat. Dan rakyat bergelora dengan Rocky Gerung.

Jokowi yang sederhana menurut Rocky adalah pemimpin yang baik, dan sepantasnya kesederhanan itu digunakan Jokowi untuk memimpin keluarga, bukan memimpin bangsa yang rumit.

Tapi di balik itu sebenarnya yang terjadi adalah adanya arus gelombang besar yang membelah masyarakat yang melihat Jokowi sebagai rujukan kebenaran dan kelompok masyarakat lain yang melihat kebenaran ala Jokowi adalah kebenaran palsu.

Dengan hadirnya barisan Rocky Gerung, atau Barisan Akal Sehat, Jokowi menghadapi dua kelompok perlawanan sekaligus dalam klaim kebenaran. Kelompok selain Rocky, adalah kelompok para habaib atau dikenal sebagai 212.



Berbeda dengan Rocky, kelompok ini menafsirkan kebenaran berdasarkan Al Quran (dan Hadist). Sebuah kebenaran yang terkait dengan mayoritas keyakinan rakyat kita.

Posisi Denny JA sebagai pendukung Jokowi, tentu menjadi sangat rumit karena Denny harus melawan dua kelompok (Barisan Akal Sehat dan 212).

Keduanya membutuhkan argumentasi berbeda. Membutuhkan strtategi perlawanan berbeda. Yang jelas, dalam konteks akal sehat, Denny harus kembali berakal sehat, sehingga bisa membuat catatan yang rasional. []

*) Penulis: Dr. Syahganda Nainggolan, Direktur Eksekutif Sabang Merauke Circle

← Halaman sebelumnya

Halaman 1 2 3 4

Analisa Terbaru

blog comments powered by Disqus