Apa Yang Terjadi di London?

Kerusuhan dan penjarahan menyapu London begitu dahsyat selama hampir pekan kemarin. Kerusuhan ini konon disebut-sebut sebagai salah satu kerusuhan paling mengerikan dalam sejarah Inggris, sampai-sampai, sebagian pertandingan sepak bola Premier League—kasta permainan tertinggi sepak bola Inggris yang dianggap begitu sakral—ditunda.

Gelombang kekerasan ini disebut-sebut berpangkal pada kebijakan ekonomi pemerintah dan kebrutalan polisi Inggris. Adapun kematian seorang anggota genk di London hanya menjadi pemicu antara saja.

"Ketegangan terjadi karena adanya pemotongan tunjangan yang dilakukan oleh pemerintah," kata Scott Allen, seorang penduduk Tottenham yang menganggur kepada Reuters.

"Orang-orang miskin di London dan seluruh negeri akan merasa menjadi korban."

Kerusuhan dimulai di Tottenham (London Utara), yang merupakan tempat bagi berbagai kelompok etnis yang berbeda, pada malam Sabtu setelah protes jalanan atas penembakan seorang pria lokal oleh polisi.

Kekerasan kemudian tumpah ke Enfield dan Walthamstow di utara London dan di selatan kota Brixton.

Perusuh membakar mobil patroli polisi, bangunan dan sebuah bus double-decker.

Yang lainnya menjarah gudang ritel, menghancurkan jendela-jendela took, dan mengangkut televisi, computer, dan sepatu olahraga.

Pengunjuk rasa menyalahkan pemerintah Inggris karena mengalokasikan dana yang besar miliaran pound untuk Olimpiade tahun depan, sementara tidak memberikan perhatian yang cukup pada daerah-daerah yang kekurangan.

"Beberapa minggu terakhir semuanya selalu saja tentang Olimpiade… (Bahwa Olimpiade) akan mengubah London dan bagaimana kita akan memiliki warisan yang besar," kata Allen.

"Nah, ini adalah warisan. Warisannya sudah ada di sini," katanya, menunjuk ke arah kerusakan yang disebabkan oleh kerusuhan.

Allen mengatakan bahwa Tottenham telah bergerak "massal" karena terpengaruh oleh pemotongan tunjangan besar-besaran yang dilakukan oleh pemerintah koalisi yang mencoba untuk menyeimbangkan pembukuan negara.

Youth Service (semacam tunjangan terhadap pemuda) telah dipotong dan pengangguran meningkat karena pekerja sektor publik diberhentikan.

Kerusuhan ini sendiri merupakan ekses dari protes politik rakyat tahun lalu terhadap kebijakan penghematan pemerintah.

Seorang pria berkulit gelap berusia 26 tahun, mengaku sebagai Jason, mengatakan kerusuhan itu merupakan "teriakan minta tolong".

"Saya tidak punya pekerjaan, tidak ada prospek, tidak ada apa-apa. Kemudian mereka bertanya-tanya mengapa ada kejahatan," katanya, seraya menambahkan ia sudah menganggur sejak ia lulus sekolah.

"Ini adalah ghetto, ini adalah daerah kumuh, mereka tidak peduli tentang kami. Saya ditangkap oleh polisi di depan rumah saya tanpa alasan," tambah Jason.

"Tidak ada pekerjaan … tapi mereka (pemerintah) masih ingin memotong keuntungan. Kami tak punya cara untuk bertahan hidup dan itu seperti tidak seorang pun peduli tentang kami.

"Ada ketidakadilan dan kami (merasa ini) sudah cukup."

Kebrutalan Polisi

Warga juga menyebutkan kebrutalan polisi memicu gelombang kekerasan di London.

"Apa yang sebenarnya memicu kerusuhan itu adalah ketika perempuan muda mendekati garis polisi berdiri dan dia kemudian diancam oleh polisi dengan tongkat mereka," kata seorang penelepon kepada BBC.

"Garis polisi sebenarnya diterapkan kepadanya dan (polisi) memukulnya dengan tongkat mereka. Padahal dia hanya gadis berusia 16 tahun dan itu benar-benar membuat semua orang naik pitam," katanya dikutip oleh The Guardian.

"Dia hanya mendekati polisi dan mengatakan bahwa masyarakat menuntut jawaban dan keadilan dan pertanyaan itu perlu dijawab.

"Ratusan orang yang telah berkumpul sejak sore kemudian mulai membakar toko-toko."

Tapi walaupun hal itu masih diragukan, warga London tetap saja menganggap bahwa kemarahan polisi sebagai faktor utama di balik kekerasan yang terjadi.

Seorang ibu berusia 28 tahun dan mempunyai dua orang anak, berasal dari Enfield, berkata bahwa kebencian telah terpupuk di kalangan etnis minoritas dalam waktu yang lama disebabkan polisi banyak yang tidak berlaku tidak adil terhadap mereka.

"Begitu banyak kesempatan yang diambil dari mereka dan yang cenderung memengaruhi etnis minoritas," kata ibu yang mengaku sebagai sebagai Diana kepada Reuters.

Banyak orang Inggris, etnis minoritas khususnya, menjadi begitu kritis terhadap polisi.

Muslim Inggris, diperkirakan hampir dua juta, telah berulang kali mengeluhkan penganiayaan oleh polisi tanpa alasan yang jelas selain menjadi Muslim.

"Negara ini telah berubah," kata Harun Biber, 89, tukang cukur yang tokonya ikut dijarah, kepada The New York Times.

"Kami telah kehilangan sesuatu." (sa/onislam)