free hit counters
 

Cerdaslah Dalam Bermain Kata di Tolikara

Redaksi – Senin, 2 Syawwal 1436 H / 20 Juli 2015 10:05 WIB

masjid Baitul MuttaqinEramuslim.com – Media-media yang selama ini bermusuhan terhadap umat Islam berusaha mereduksi peristiwa yang menimpa umat Islam di Tolikara, Wamena-Papua, sebagai konflik atau kerusuhan. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah aksi teror atau penyerangan yang dilakukan ratusan jemaat Gereja Injili Di Indonesia (GIDI), yang bekerjasama dengan Zionis-Israel, terhadap jamaah sholat Iedul Fitri yang tengah sholat ied di lapangan setempat. Konflik atau kerusuhan adalah istilah yang memiliki pengertian jika ada ketidaksesuaian atau selisih paham atau persengketaan antara dua kelompok. Sedangkan yang terjadi di Tolikara bukan perselisihan, karena umat Islam yang tidak tahu apa-apa, yang tengah melakukan ibadah sholat, diserang oleh ratusan jemaat Gereja Injili (17/7). Jelas, ini sangat beda secara substansi.

Satu lagi, dalam berbagai pemberitaan, sayangnya ini diikuti oleh media-media Islam yang kurang peka atau wartawannya kurang wawasan tentang etimologis, disebutkan jika yang dibakar adalah mushola. Padahal yang sesungguhnya terjadi yang dibakar (bukan terbakar) adalah Masjid, bernama Baitul Muttaqin, yang berada di Karubaga, Tolikara.

Ratusan kios dan rumah yang dibakar teroris Gereja Injili juga bukan terbakar atau kebakaran. Ini juga beda. Dibakar tentu beda dengan terbakar atau kebakaran.

Dan soal korban 11 orang yang ditembak polisi, itu jelas bukan korban, tapi teroris. Kesebelas orang, anggota jemaat Gereja Injili, yang ditembak polisi di bagian pinggang dan kaki, adalah sebagian dari pada teroris atau pelakuk teror yang bergerak menyerang jamaah sholat Ied di Tolikara. Aparat negara menembak mereka setelah melepaskan tembakan peringatan ke udara. Namun karena tembakan peringatan tidak dihiraukan, malah para penyerang berusaha terus merangsek dan membahayakan nyawa polisi maupun umat Islam yang tengah sholat, maka dengan sangat terpaksa, laras senjata polisi di arahkan ke bagian bawah pinggang sebagai terapi kejut untuk bisa menghentikan aksi teror mereka. Bukan untuk membunuh.

Media seharusnya menjadi salah satu pilar demokrasi. Yang mengabarkan kebenaran. Media berbeda dengan corong propaganda. Maka sekarang kita bisa melihat, jika ada media yang mengabarkan soal aksi teror jemaat Gereja Injili terhadap jamaah sholat Ied di Tolikara sebagai kerusuhan, rusuh, atau konflik, maka media itu sesungguhnya tidak netral karena berusaha mereduksi fakta yang ada.

Dan kepada media-media Islam, pergunakanlah kata-kata atau istilah yang tepat, yang menggambarkan fakta yang sebenar-benarnya. Ingat, perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Cerdaslah dalam menulis.(rz)

Analisa Terbaru