Fuad Bawazier: Ketegangan US dan Cina

Pada tahun 1979 hubungan diplomatik US – China resmi dibuka, sekaligus dimulainya hubungan dagang langsung. Perdagangan internasional (ekspor-impor) kedua negara yang hanya sekitar USD4miliar  (1979) kini sudah mencapai triliunan dolar. Dan dengan bantuan Amerika Serikat, pada tahun 2001 China menjadi anggota WTO.

Sebelumnya, pada tahun 1978, Deng Xiaoping, pemimpin baru China yang kharismatik, membuat keputusan penting yaitu membuka China untuk investasi asing. Langkah strategis inilah yang dinilai mampu menjadikan China bertransformasi menjadi negara maju, modern dan kaya dengan pertumbuhan ekonomi selama hampir 3 dekade yang menakjubkan dunia, 10% plus.

China mampu memanfaatkan kehadiran investasi asing dengan menyerap dan menguasai teknologinya. China berhasil menjungkir-balikkan harapan Amerika dan Barat umumnya yang ingin menjadikan China sebagai pasar barang konsumsi dan tempat berproduksi murah; terbukti justru China menjadi produsen utama dunia dan menjadikan negara Barat sebagai pasarnya.

Demikian juga negara negara Timur Tengah dan berkembang lainnya termasuk Indonesia, Malaysia, Vietnam, Singapore dll sebagai sasaran pasar barang barang dari China. Neraca perdagangan China dengan banyak negara partner dagangnya rata rata surplus.

Karena derasnya investasi asing yang masuk ke China dan kuatnya ekspor ke hampir seluruh negara lain di seluruh dunia, China menjadi negara pengekspor sekaligus pemilik cadangan devisa terbesar. Dengan bekal itu, -investasi/teknologi dan modal berlimpah, -kemajuan China begitu pesat dan merata di semua bidang termasuk IT, pendidikan dan militer.

China terdorong begitu ambisi dan agresif menerobos semua peluang bisnis, IT, militer dll dan serasa tidak sabar ingin segera menjadi super power mengalahkan US yang praktis super power tunggal setelah keruntuhan Uni Soviet.

Presiden Trump berpendapat bahwa Amerika harus segera menghentikan atau mengerem ambisi dan keagresifan China, sebelum terlambat atau dikalahkan total oleh China. Kekhawatiran Trump terhadap agresivitas China mulai diikuti oleh banyak negara lain. Kalau mau jujur, kekhawatiran terhadap ambisi dan agresivitas China sebenarnya dirasakan juga oleh banyak negara ASEAN, termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand dan Vietnam.

Di Kongres Amerika sekalipun, kubu Demokrat dan Republik yang biasanya berseteru, untuk urusan dengan China ini, mereka mempunyai sikap yang sama bahwa China adalah musuh yang berbahaya.

Negara negara Eropa, Australia, Jepang dan India nampaknya bergabung dengan US menghadapi sikap agresif China. China cenderung di keroyok.

Mereka berpandangan China akan menjadi super power yang serakah dan rakus serta akan memaksakan penyebaran penduduknya ke negeri lain. Pandangan ini lebih pragmatis bila dibandingkan dengan pandangan US yang lebih kepada perebutan supermasi dunia. US ibarat juara bertahan yang khawatir kalah dan posisinya diambil lawannya.

Bagi US, perebutan siapa supermasi dunia adalah perang total yang harus dimenangkan. Sedangkan issue issue yang timbul seperti trade war, tudingan pencurian teknologi Barat, Laut China Selatan, Covid-19 dan terakhir otonomi Hongkong adalah pertempuran2 yang harus dihadapi untuk memenangkan perang utama.

Pertempuran-pertempuran itu bisa saja berubah menjadi perang, dan perang sekarang bisa perang militer, intelijen, diplomasi, senjata biologis, perang ekonomi sampai salah satu pihak bangkrut, lemah dan menyerah. Meja perundingan biasanya sulit menyelesaikan perseteruan model ini karena ambisi dan gengsi kedua belah pihak amat besar. Itulah sebabnya perundingan trade war US -China cenderung mentah dan berkali kali gagal.