Hersubeno Arief: Skenario Besar di Balik Kebohongan Ratna Sarumpaet

Alur ceritanya kurang lebih sebagai berikut: RS telah merancang lama skenario ini. Pada Januari 2018, dia mengajukan bantuan tiket ke Gubernur DKI untuk pergi ke Cile. Setelah itu RS melakukan operasi plastik agar terlihat seperti orang yang dianiaya. RS kemudian merancang hoax tersebut dengan melibatkan tim pemenangan Prabowo, terutama yang berasal dari Gerindra.

Setelah berita penganiayaan meledak, pada 4 Oktober 2018, RS terbang ke Cile untuk mengikuti The 11 Women Playright Internasional Conference (WPIC). Cile dipilih karena negara ini tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Setelah tiba di Cile, RS langsung bicara kepada media bahwa dia kabur dari Indonesia karena mengalami ancaman kekerasan dari penguasa.

Pada forum WPIC, RS membeberkan sejumlah bukti berupa foto dan pemberitaan media. Setelah itu RS minta suaka ke beberapa negara dengan alasan keselamatannya terancam. Setelah mendapat suaka, RS akan melakukan kampanye internasional tentang keburukan rezim otoriter Jokowi, dan minta dunia internasional menekan pemerintah Indonesia.

Dengan tekanan tersebut elektabilitas Jokowi jeblok, kalah dalam Pilpres. RS melenggang kembali ke Indonesia sebagai pahlawan! Itu cerita versi kubu pendukung inkumben yang  beredar di sejumlah medsos. Benarkah?

Ada beberapa catatan yang perlu kita perhatikan,

Pertama, skenario yang dibuat oleh RS terlalu sederhana. Dia melakukan operasi plastik untuk membuat terlihat seperti orang yang dikeroyok dan digebuki. Bagi polisi sangat mudah untuk membuktikannya. Luka bekas pukulan, jelas sangat berbeda dengan bekas operasi. Melalui visum dokter hal itu sangat mudah dibuktikan.

Kedua, alibi yang dibangun RS juga sangat mudah dipatahkan. Dia tengah menuju bandara Husein Sastra Negara, Bandung ketika tiba-tiba dikeroyok. Nama RS tidak tercatat dalam manifest penumpang yang akan terbang hari itu. Tidak ada satupun rumah sakit, atau klinik di Bandung yang pernah merawat RS. Dari data call recorder, polisi juga menemukan fakta HP milik Ratna digunakan di sekitarJakarta pada tanggal20-24 September.

Ketiga, bila benar dia ingin kabur ke Cile, mengapa tidak berangkat diam-diam, atau melalui jalur yang berputar sehingga kepergiannya tidak terdeteksi. Setelah kasusnya meledak, hampir seluruh rakyat Indonesia mengenal wajahnya. Petugas imigrasi pasti akan segera mengenalinya. Yang terjadi ketika tiba di bandara, RS sempat selfi dan mengirimkan fotonya kepada beberapa orang dengan caption “Maafkan kakak ya sudah membuat susah kalian. Otw ke Cile.”

Sebelum terbang RS juga sempat menerima wawancara media, dan menjelaskan rencana kepergiannya. Jadi terkesan RS sengaja memberi tahu di mana posisinya berada, atau setidaknya dia tidak merasa perlu untuk merahasiakannya.

Keempat, Bila ini operasi rekayasa, mengapa harus minta bantuan pendanaan ke Pemprov DKI. Bukankah semakin rahasia, dan semakin sedikit yang tahu, makin menjamin keberhasilan operasi.

Kelima, bila sekedar mencari negara yang tidak punya perjanjian ekstradisi mengapa mesti jauh-jauh ke Cile. Mengapa tidak pergi ke Singapura yang bisa ditempuh lewat jalur laut. Para pengemplang BLBI banyak yang tinggal nyaman di Singapura dan tak terjamah tangan penegak hukum kita.

Keenam, kalau toh benar ada skenario seperti yang ditudingkan, polisi pasti punya rekaman percakapannya. Ahmad Dhani sudah mempersilakan percakapannya dengan RS dibuka. Fadli Zon juga siap menunjukkan bukti percakapannya. Kalau telfonnya disadap, dia juga mempersilakan untuk dibuka. Jadi polisi tinggal buka dan membuktikan.

Ketujuh, bila benar sedang memainkan operasi teknik propaganda Firehose of Falsehood, mengapa Prabowo mengaku salah dan segera minta maaf kepada rakyat Indonesia. Seharusnya Prabowo dan timnya diam saja, sambil menunggu RS bisa meloloskan diri ke Cile.

Dengan permintaan maaf dari Prabowo, justru menjadikan kubu inkumben sulit untuk menggoreng isu ini. Kasus ini harusnya tutup buku. Kecuali bila polisi punya bukti lain.

Yang terjadi, isu ini justru digunakan untuk menghantam Prabowo. Anggota Badan Pemenangan Prabowo-Sandi menduga isu Ratna digunakan untuk mendorong agar Prabowo didiskualifikasi agar tidak bisa mengikuti Pilpres.

Mari kita tunggu apa sebenarnya peran RS. Dia sudah ditahan polisi. Bila dia bekerja untuk kepentingan lawan Prabowo, maka dia bisa bernyanyi menyeret semua nama. Toh sebagai pemain teater kawakan, “aktingnya” terbukti sungguh jempolan. Soal benar tidaknya, tidak terlalu penting. Yang paling penting adalah pembentukan publik opini. Kalau sudah begitu siapa sebenarnya yang bermain?

———————-

https://www.hersubenoarief.com/analisis/skenario-besar-di-balik-kebohongan-ratna-sarumpaet/