free hit counters
 

Israel Menghadapi Bahaya Besar

Mashadi – Selasa, 27 Safar 1430 H / 24 Februari 2009 11:13 WIB

Pertama : Koalisi partai-partai sayap kanan dibawah Partai Likud, dipimpin Benyamin Netanyahu, mendapat mandat dari Presiden Israel Shimon Peres untuk membentuk kabinet. Kemenangan sayap kanan di Israel ini, membalikkan sejarah politik di Israel. Karena, sejak berdirinya negara Israel, tahun 1948, negeri itu dikuasai  Partai Buruh, dan sekaligus Partai Buruh adalah pendiri Israel. Dan, Partai Buruh telah menuliskan sejarah, di mana para pemimpin Israel, selalu yang menjadi perdana menterinya, dipegang Partai Buruh, mulai Perdana Menteri David Ben Gurion, dilanjutkan Golda Meir, dan kemudian Yizhak Rabin. Perdana Menteri Israel dari Partai Buruh, terakhir, tak lain adalah Presiden Israel, yaitu Shimon Perez. Sekarang, Israel dikuasai tiga partai sayap kanan, yaitu Likud, Kadima (penjelmaan Likud yang didirikan Ariel Sharon), dan Partai Beitienu, partai imigran Yahudi dari Rusia,  dipimpin Avigdor Lieberman.

Kedua : Pemilu Israel telah menunjukkan arah yang sangat jelas kecenderungan pemilih di Israel,  mayoritas memberikan suaranya kepada partai-partai aliran kanan. Partai sayap kanan seperti Likud,  dipimpin Benyamin Netanyahu, Yisrael Beitienu, dipimpin Avigdor Lieberman, kanan tengah Kadima, dipimpin Tzipi Livni mendapat dukungan yang cukup besar dari rakyat Israel. Kecenderungan ini menunjukkan bahwa intensitas permusuhan terhadap rakyat Arab dan Palestina semakin kuat. Karena, partai-partai kanan yang menang, mengusung sikap anti Arab dan Palestina yang sangat kental. Program utama Likud adalah menghancurkan Hamas, dan menumpas seluruh pemimpinnya.

Sedangkan, Avigdor Lieberman, yang memimpin Partai Yisrael Beitienu, lebih rasis dan sangat anti Arab. Dalam kampanyenya Lieberman secara terang-terangan akan mengusir penduduk Israel keturunan Arab, yang dianggap tidak loyal. Lieberman juga ingin mengosongkan Yerusalem Timur, dan sebagian Tepi Barat, yang akan dijadikan tempat pemukiman baru bagi warga Israel,yang berasal dari Rusia. Lieberman yang mendapat 15 kursi, dan mempunyai peranan kunci, khususnya dalam pembentukan koalisi sekarang ini. Liberman ingin mendorong terbentuknya koalisi tiga kekuatan politik utama di Israel, yaitu Likud, Kadima,dan Yisrael Beitienu. Sehingga, pemerintahan yang berintikan tiga kekuatan kanan, menjadi pemerintahan yang kuat dan kokoh. Diharapkan dengan model pemerintahan yang terdiri dari ‘Trioka’, yaitu Likud, Kadima dan Yisrael Beitienu, pemerintahan Israel yang baru lebih efektif, khususnya dalam menghadapi isu Arab dan Palestina. Lieberman mendapatkan julukan sebagai ‘neo-fasis dan gangsters’, dari kalangan liberal Israel.

Ketiga : Di sisi lain, hari ini, jumlah penduduk Israel keturunan Arab, jumlah mencapai 20% dari total penduduk Israel. Ketika, Israel menjarah tanah Palestina, dan kemudian mendirikan negara Israel, tersisa 160.000 penduduk Israel keturunan Arab. Kini jumlah penduduk Israel keturunan Arab, mencapai 1.3 juta atau 20% dari total jumlah penduduk Israel. Diprediksikan tahun 2025, jumlah penduduk Israel keturunan Arab mencapai 25% atau seperempat dari jumlah penduduk Israel. Mereka, penduduk Israel keturunan Arab, juga akan masuk ke dalam tubuh militer Israel. Sejatinya, mereka juga memiliki hak-hak yang sama seperti penduduk Israel lainnya. Meskipun, mereka sekarang ini terdiskriminasi dalam segala aspek kehidupan, dan berlangsung dengan sangat keras oleh pemerintah Israel. Termasuk dibidang keimigrasian, kepemilikan tanah, pendidikan, pekerjaan, dan pelayanan sosial. Namun, jumlah penduduk Israel dari keturunan Arab, dari waktu ke waktu akan terus bertambah,yang tidak mungkin itu dapat dibatasi. Maka, pertumbuhan penduduk Israel keturunan Arab ini, hakekatnya akan menjadi bom waktu, yang mengancam Israel dari dalam. Diskriminasi ini telah melahirkan ledakan ‘Intifadah’ yang sanga pahit buat Israel. Diskriminasi ini telah menciptakan disintegrasi di dalam negeri Israel, antara kelompok-kelompok di dalam negeri Israel, yang pada saatnya akan meledak. Apalagi, jika mereka secara psychologis, menghadapi dua tekanan, di dalam negeri Israel mereka mendapatkan diskriminasi oleh pemerintah dan rakyat Israel, yang berasal dari imigran Eropa dan Rusia, di sisi lainnya, mereka melihat kekejaman yang dilakukan tentara Israel di Gaza. Dan, disisi lain, kekuatan politik keturunan Arab di Knesset (Parlemen) Israel juga semakin kuat. Mereka, keturunan Arab, dalam pemilu yang lalu mendapatkan 11 kursi di Knesset, dan sangat penting dalam kontek politik di Israel.

Keempat : Agresi militer Israel ke Gaza yang mengakibatkan jumlah korban yang sangat besar, menciptakan kesadaran dikalangan rakyat Arab, dan mendorong para pemimpinnya, dan tidak dapat terus-menerus  bekerjasama dengan Israel. Apalagi, pemerintahan Israel, dipimpin sayap kanan,yang sangat anti Arab dan Palestina, pasti akan mendapatkan tantangan dari rakyat Arab. Peristiwa yang terjadi di Gaza beberapa waktu yang lalu, menyulut aksi solidaritas di seantero Arab, dan mereka terus meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan mereka masing-masing. Di Mesir, Yordania, Qatar, dan Negara Afrika Urtara, serta Turki, rakyat dan pemerintahannya, mulai mempertimbangkan untuk melakukan aksi bersama menghadapi pemerintahan sayap kanan Israel, yang sangat rasis dan ekstrim, dan pada gilirannya membahayakan Israel. Seperti dikatakan seorang ilmuwan Austria, Jorg Haider mengatakan : “Tidak ada apa yang disebut demokrasi di Israel. Saya tahu orang-orang Israel sejak perang Dunia II, selalu mengusir rakyat yang tidak berdosa”, ujar Jorg. Inilah yang akan membahayakan masa depan Israel, di bawah partai sayap kanan, yang ultra nasionalis dan rasis. (m)

Analisa Terbaru

blog comments powered by Disqus