free hit counters
 

Kenapa Bukan Obama Yang Dibuang Ke Laut Oleh Israel?

Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi – Rabu, 29 Jumadil Awwal 1432 H / 4 Mei 2011 14:23 WIB

Sejatinya perang melawan Usamah adalah misi Israel untuk mengamankan geopolitik Timur Tengah. Oleh karenanya, ucapan yang pertama kali datang ketika tersiar kabar Usamah tewas berasal dari Perdana Menteri Israel. Benjamin Netanyahu memuji Amerika Serikat atas keberhasilan Amerika membunuh Usamah bin Ladin, dan melihat hal ini sebagai "kemenangan gemilang" bagi Washington dan sekutunya.

Secara lebih rinci, Netanyahu menilai kematian Usamah akan menguntungkan bagi keadilan, kebebasan dan nilai-nilai bersama oleh semua negara demokratis yang telah berjuang bahu-membahu dalam melawan aksi terorisme.

Setidaknya ada beberapa analisa melihat hal ini. Dengan begitu kita juga akan mengaitkan kenapa Obama tampak menggebu-gebu menyatakan Usamah telah tewas. Padahal beberapa basis mujahidin seperti Al Qaida dan Taliban menolak klaim Obama. Obama pun memang tampak tidak punya bukti setelah kasus foto palsu Usamah buatannya tersiar ke publik sebagai rekayasa, ditambah aksi cerobohnya membuang jasad Usamah ke lautan.

Isu Usamah Bin Laden dan Kekalahan Politik Obama

Kita mulai dengan analisa pertama, yakni citra politik Obama. Kita ketahui Obama mengalami kemerosotan imej yang cukup tajam di Amerika. Sampai sekarang pun ada kekhawatiran dalam diri Obama bahwa ia sudah gagal di mata publik Amerika. Polling terakir di akhir tahun 2010 saja sudah menempatkan nama Obama di titik krusial.

Fox news misalnya, melaporkan jajak pendapat yang memperlihatkan anjloknya tingkat kepuasan rakyat terhadap kinerja Presiden negeri Paman Sam ini. Berdasarkan polling ini, masalah terbesar yang dihadapi AS setelah ekonomi adalah rendahnya kepercayaan rakyat terhadap kandidat pemilu. Mereka lebih memilih Partai Republik dari pada Demokrat. Bayangkan betapa paniknya Obama ketika mengetahui jajak pendapat tersebut memperlihatkan 46 persen respondon memilih Partai Republik di wilayahnya, dan hanya 40 persen responden yang memilih Demokrat. Inilah titik terendah popularitas Obama.

Para pengamat memang sudah melihat kecenderungan warga AS yang sudah berfikir untuk tidak lagi memilih Obama. Hal ini sangat disadari oleh kubu Obama, itulah mengapa Obama memutar otak dan berkesimpulan mesti ada taktik bagaimana mendongkrak suaranya. Obama faham hal itu mustahil dilakukan lewat jalur ekonomi mengingat hutang Obama semakin membumbung tinggi dan negaranya pun telah babak belur dihantam China dalam persaingan ekonomi.

Alhasil, cara yang jitu adalah menaikkan kembali isu terorisme (baca: Tragedi WTC). Masyarakat Amerika memang mudah larut jika dibangkitkan trauma akan tragedi yang membunuh puluhan ribu rakyatnya itu. Dan cara ini terbukti ampuh mengingat masyarakat membanjiiri jalan pasca kematian Usamah. Mereka sudah tidak terfikir lagi bahwa perut mereka lapar.

Bargaining Politik Dengan Israel dan Rekonsiliasi Palestina

Kedua, memperbaiki koalisi AS-Israel yang sempat retak. Kita ketahui sejak tahun 2010 terjadi titik terendah dalam hubungan antara Amerika dan Israel. Sebelumnya mereka berdua dianggap mengalami krisis diplomasi menyusul rencana Israel untuk membangun pemukiman di Yerusalem Timur, yang langsung di kecam Obama.

Oleh karenanya ketika hal itu terungkap ke publik, Obama buru-buru menepisnya dan dengan terkesiap menyatakan bahwa AS dan Israel memiliki ikatan khusus yang tidak mudah hilang. “Tetapi kawan seringkali tidak saling setuju dalam suatu hal. Ada kesalahpahaman mengenai proses perdamaian di Timur Tengah dengan Israel,” tegasnya kala itu di bulan Maret 2010.

Uniknya, sehari sebelumnya, saudara ipar Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, Ben-Artzi, mengeluarkan pernyataan pedas dan menyebut Obama sebagai "anti-Yahudi" setelah dia bersikap keras terhadap rencana pembangunan permukiman di Yerusalem Timur. Komentar sang kakak ipar sontak membuat Netanyahu kebakaran jenggot. Netanyahu yang mengaku tak dekat dengan Ben-Artzi menyatakan sangat berkeberatan dengan komentar saudara iparnya itu.

Akhirnya sama seperti Obama, Netanyahu kemudian cepat-cepat mengatakan tidak ada krisis dalam hubungan Israel-Amerika. Kenapa terjadi respon serupa sama diantara mereka, jawabannya satu: Karena mereka masih saling membutuhkan, terlebih Israel.

Walhasil ini adalah pertarungan kepentingan antara Washington dan Tel Aviv, sejauh mana bargaining diantara mereka mampu memberikan proposal baru tentang hubungan diantara keduanya. Namun Obama sadar, bahwa ia bukanlah siapa-siapa. “Kematiannya” bisa sangat dekat, dalam arti nasibnya akan sama ketika Clinton dihabisi oleh Israel. Obama juga tidak bisa, berbuat apa-apa, ia sadar siapa yang menaikkannya ke kursi AS 1? Akhirnya, Obama menjadi sulit untuk menggertak lebih jauh karena kejatuhannya bisa lebih cepat dari waktu yang diperkirakan.

Namun konstelasi ini menjadi semakin rumit. Karena, disatu sisi, Israel juga masih butuh Amerika untuk memberikan subsidi demi mengamankan jalur penguasaan Negara-negara muslim demi terciptanya Negara Israel Raya setelah Revolusi Timur Tengah (baca: skenario pertama) meletus.

Situasinya menjadi semakin kompleks setelah isu berhembus akan terjadinya kesepakatan antara Hamas dan Fatah. Kita ketahui bersama Fatah dan Hamas siap menandatangani pakta rekonsiliasi di Kairo, Mesir, untuk membentuk negara Palestina bersatu. Berdasarkan perkembangan terakhir, Mahmoud Abbas dan Khaled Meshaal akan menghadiri pertemuan di Kairo, Mesir, untuk menandatangani pakta yang mendorong penyusunan pemerintah sementara.



Konsekuensi logis akan hal ini adalah akan berkurangnya pengaruh Israel di Timur Tengah dan memudarnya citra politik Yahudi di dunia Barat. Mesir yang tadinya bisa diharapkan, kini justru berbalik. Mesir malah berharap AS mengakui negara Palestina bersatu dari hasil rekonsiliasi. Ini diucapkan saat Menteri Luar Negeri Mesir Nabil al-Arabi menerima anggota Kongres AS Steve Chabot. Betapa berangnya Israel ketika mendengar Mesir mengakui bahwa negaranya akan berembuk terkait pernyataan pemerintah AS yang hanya mendukung perdamaian didasarkan pada dua negara (Palestina dan Israel).

Amerika dan Israel memang tidak begitu menyukai rekonsiliasi antara Fatah dan Hamas. Terlebih, Amerika dan Israel telah mengecap Hamas sebagai kelompok teroris. Hasilnya, Israel harus menahan diri untuk mengendurkan dukungannya kepada Obama. Kondisinya tidak begitu memungkinkan untuk melakukan manuver politik menikam saudaranya di Gedung Putih. Walhasil, untuk sementara waktu Israel harus saling bekerja sama dengan Amerika untuk membuang Usamah Bin Laden ke Laut, dan bukan Obama.

Apakah orang-orang kafirmu (hai kaum musyrikin) lebih baik dari mereka itu, atau apakah kamu telah mempunyai jaminan kebebasan (dari azab) dalam Kitab-kitab yang dahulu. Atau apakah mereka mengatakan: “Kami adalah satu golongan yang bersatu yang pasti menang.”. Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang. (QS. 54:43-45)

wallahua’lam. (pz)

Analisa Terbaru