Listrik Mati, Ijtima Ulama dan Terorisme

Eramuslim.com – BEBERAPA tahun lalu, ketika seorang teman seangkatan saya di ITB akan menjadi salah satu direktur PLN di Manhattan, New York, FBI langsung memanggil dia, karena nama depan dia adalah Muhammad.

Sesuai cerita saudara iparnya ke saya, FBI ingin memastikan bahwa teman itu tidak ada kaitan dengan terorisme.

Nama Muhammad atau Ahmad di sana, memang sensitif bagi intelijen Amerika. Memang wajar ancaman terorisme dalam urusan listrik ini begitu vital. Sebab, dengan hancurnya power dan/atau jaringan transmisi, maka listrik akan padam, lalu ekonomi akan hancur. Apalagi di kota terelit di dunia, Manhattan NY.

Matinya listrik hari Minggu yang lalu, 4 Agustus, selama 12 jam di Jabodetabek, Jabar dan Banten, telah melumpuhkan kehidupan bangsa kita. Core Institute mencatat gangguan ini menerpa 30 persen perekonomian kita, karena 55 persen ekonomi berputar di tempat lampu padam tersebut.

Hal ini ditambahkan pula dengan berbagai keluhan-keluhan di sektor transportasi, seperti adanya fakta MRT terjebak di bawah tanah dengan penumpangnya (karena MRT dioperasikan tanpa back-up power, seperti di negara negara maju), sektor kesehatan karena berkurangnya sebagian fasilitas rumah sakit, seperti lift mati, dll. Belum lagi berita kebakaran yang terjadi di beberapa daerah karena penggunaan lilin yang tidak terkontrol baik.