Asyari Usman: Mendiamkan Penyiksaan Uighur, Jokowi Melecehkan Umat Islam Indonesia

Eramuslim.com – Presiden RRC Xi Jinping sungguh-sungguh brutal luar biasa. Sangat biadab. Dia siksa kaum muslimin Uighur di Provinsi Xinjiang tanpa rasa kemanusiaan sedikit pun. Badan mereka disetrika. Para petugas penyiksa mematikan rokok mereka di badan para korban. Mereka dipaksa melepaskan agama Islam.

Sebagian objek siksaan dimasukkan ke dalam drum yang berisi air. Direndam sampai kelujutan. Ada yang diinjak-injak. Dipukuli sampai pingsan berlumuran darah.

Begitulah laporan-laporan yang dikirim keluar dari Xinjing secara sangat rahasia oleh sejumlah warga Uighur yang memiliki alat komunikasi berinternet. Mereka ini sangat berani ambil risiko demi menyebarkan informasi tentang kekajaman pemerintah RRC.

Pemerintah China memaksa sekitar sejuta umat Islam Uighur masuk ke kamp re-edukasi (pendidikan kembali). Di kamp konsentrasi ini, mereka dipaksa menggunakan bahasa Mandarin. Mereka dipaksa juga memakan makanan yang tak halan seperti daging babi, dlsb.

Tidak ada alasan lain untuk penyiksaan itu kecuali karena warga Uighur menganut agama Islam. Presiden Xi Jinping memaksa kaum muslimin agar menjadi komunis atau atheis. Tetapi di tengah paksaan yang diikuti penyiksaan itu, mereka tetap teguh pada keimanan dan aqidah mereka. Itulah yang menyebabkan mereka disiksa. Penguasa China menganggap kaum muslimin sebagai orang yang mengalami gangguan mental.

Situasi yang terjadi di Uighur tidak banyak dilaporkan oleh media resmi. Penguasa diktator China tidak membolehkan media asing masuk ke wilayah Xinjiang. Foto-foto dan berbagai video tentang penyiksaan di sana ‘diseludupkan’ ke luar dengan cara yang menantang maut. Jika mereka ketahuan mengirimkan bukti penyiksaan, bisa dipastikan akan selesai hidup mereka.

Sangat kejam. Sangat brutal, dan sangat biadab.

Anehnya, tidak ada sepatah kata pun yang diucapkan pemerintah Indonesia tentang kebiadaban pemerintah RRC. Kekejaman dan kebrutalan Presiden Xi Jinping menyiksa warga muslim Uighur dibiarkan begitu saja oleh Presiden Jokowi.