free hit counters
 

Mengapa Salman Taseer Dibunuh?

Saad Saefullah – Kamis, 29 Muharram 1432 H / 6 Januari 2011 14:44 WIB


Gubernur provinsi terbesar di Pakistan itu ditembak mati oleh salah satu pengawal pribadinya sendiri, dua hari yang lalu. Salman Taseer, gubernur Punjab dan sekutu dekat Presiden Asif Ali Zardari, tewas di sebuah pasar yang terkenal di Islamabad. Ini adalah pembunuhan terhebat dan mungkin paling “mengguncang iman” terhadap tokoh di Pakistan sejak tiga tahun lalu atau ketika mantan perdana menteri Benazir Bhutto dibunuh.

Lima orang pengawal lainnya luka-luka karena serangan itu. Sebuah penyelidikan dilakukan; apakah pengawal itu bertindak sendiri ketika ia menembak mati pria yang seharusnya ia lindungi itu?

Si pengawal kemudian mengatakan kepada para penyidik ia melakukan itu karena Taseer selama ini selalu menggunakan undang-undang untuk menganiaya rakyat dan menyelesaikan perselisihan pribadinya. Gubernur berusia 56 tahun itu dikenal sering menentang hukum dan malahan membuat opini liberal di Twitter.

Misalnya, di wilayah publik itu, ia terakhir kali berbicara tentang hukuman mati kepada seorang wanita Kristen yang dijatuhkan oleh pengadilan Punjab. Menurut Taseer, wanita itu, bernama Asia Bibi, harus diampuni, padahal sebelumnya Bibi telah melakukan penghinaan terhadap Islam. Tentu saja itu menuai protes dari para tokoh-tokoh Islam. Namun Kepada The Independent, Taseer berkomentar tentang tokoh-tokoh Islam itu: "Saya tidak tergganggu sama sekali. Siapa sih orang-orang buta huruf itu hingga berani-beraninya menanyakan apakah saya seorang Muslim atau bukan?"

Pada tanggal 31 Desember, ia menulis di Twitternya: "Saya berada di bawah tekanan dua sapi besar, sehubungan penghujatan itu. Ditolak. Bahkan jika saya harus menjad orang yang terakhir membelanya."

Pembunuhan Taseer, seorang taipan media dan pengusaha yang telah menjabat gubernur sejak tahun 2008, dikutuk oleh rekan-rekan yang bingung dan marah sekaligus masyarakat sipil. "Dia adalah suara paling berani setelah Benazir Bhutto tentang hak-hak perempuan dan minoritas agama," kata Farahnaz Ispahani, seorang pembantu senior Zardari dan rekan Taseer. "Tuhan, kami kehilangan dia."

Mumtaz Qadri, sang pembunuh Taseer kemudian mengatakan bahwa ia sangat bangga karena telah berhasil menghabisi seorang penghujat. Menteri Dalam Negeri Rehman Malik mengatakan akan menyelidiki apakan Qadri bekerja sendiri ataukah dalam sebuah sistem institusi.

Pembunuhan Taseer terjadi ketika Pakistan People’s Party (PPP) yang berkuasa di negara itu sudah terhuyung-huyung mengikuti keputusan mitra koalisinya, Muttahida Qaumi Movement (MQM), untuk bergabung dengan bangku-bangku oposisi.



Menambah ketidakstabilan, pembunuhan Taseer juga menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana agama telah menembus aparat keamanan. Tampaknya ada banyak ketidaksetujuan atas Taseer di ibukota. Malik mengatakan keamanan telah diperketat di Punjab, yang telah menjadi pertumbuhan agama dan kaum militan dalam beberapa tahun terakhir.

Sejumlah orang telah dihukum mati berdasarkan hukum penghujatan, yang diperkenalkan pada tahun 1980 oleh Jenderal Muhammad Zia ul-Haq. Kebanyakan diusir oleh pengadilan yang lebih tinggi dan tidak ada eksekusi yang dilakukan, tapi aktivis HAM terus meminta penghapusan hukum itu.

Pembunuhan terhadap Taseer jelas sebuah isyarat yang mungkin akan berubah hukuman, buah dari sebuah pemerintahan yang dekat dengan kebijakan asing, bukan pada negerinya sendiri—sekalipun bukan di negeri-negeri dimana orang Islam menjadimayoritas. Apalagi jika menyangkut penghujatan terhadap keyakinan yang hakiki. (sa/independent)

Analisa Terbaru

blog comments powered by Disqus