free hit counters
 

Musik Wiski

Redaksi – Rabu, 6 Safar 1443 H / 15 September 2021 07:25 WIB

twitter sharing button

whatsapp sharing buttonsharethis sharing button

Musik Wiski

Konglomerat Afghanistan, Abdul Rashid Dostum/Net

eramuslim.com

Oleh Dahlan Iskan

PUN di negara yang sangat miskin. Selalu ada saja orang yang superkaya. Termasuk di Afghanistan. Yang begitu miskin. Yang pendapatan per kapitanya hanya sekitar 400 dolar AS per tahun. Yang berarti masih 10 kali lebih miskin dari rerata penduduk Indonesia.

Para pejuang Taliban umumnya tergolong lapisan termiskin itu. Tapi sejak 15 Agustus lalu pejuang miskin itu bisa merasakan bagaimana berada di rumah orang terkaya di sana.

Itulah rumah konglomerat Afghanistan: Abdul Rashid Dostum. Ia jagoan, jenderal, kaya-raya, dan pernah jadi calon presiden –meski gagal.

Dostum dari daerah utara. Sukunya Uzbek. Ia tidak tamat SMA. Ia dari keluarga petani. Saat muda ia jago berkelahi. Ditakuti. Lalu jadi tentara. Lebih ditakuti lagi.

Ia memiliki bakat menjadi ketua kelompok. Ia lantas punya massa dalam jumlah besar. Khususnya di kawasan utara Afghanistan.



Begitu hebatnya sehingga ia punya nama panggilan hebat: Pasha. Yang artinya ”raja”.

Ketika Amerika membawa demokrasi liberal ke sana, 2001, Dostum mendirikan partai: Junbish-e Milli. Gerakan Nasional. Berbasis pengikut dari suku Uzbek dan menjadi partai besar –setidaknya khusus di wilayah utara.

Rumahnya yang di kota Kabul tidak pantas disebut rumah –saking besar dan hebatnya. Itu lebih tepat dibilang istana swasta.

Dostum ketakutan saat Taliban menguasai Afghanistan. Ia menghilang 15 Agustus lalu –di hari yang sama dengan ngacirnya Presiden Afghanistan Ashraf Ghani. Sang presiden lari terbang ke Dubai. Dostum terbang entah ke mana –kemungkinan besar ke Uzbekistan. Ia memang juga punya istana di Uzbekistan.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Analisa Terbaru