free hit counters
 

Revolusi Mesir Dalam Perspektif Gerakan Islam Masa Depan

Adityanugroho – Sabtu, 14 Rabiul Awwal 1432 H / 19 Februari 2011 10:33 WIB

Oleh Fathuddin Ja’far

Perlawanan jutaan masyarakat Mesir selama 18 hari (25/1 – 7/2/2011) berhasil menumbangkan rezim Mubarak yang telah berkuasa sekitar 30 tahun. Masyarakat Mesir menyebut demonstrasi yang meluap di seantero negeri 1000 menara yang merenggut sekitar 300 nyawa itu dengan “revolusi masyarakat’.

Sebenarnya, revolusi yang terjadi di Mesir dan sebelumnya di Tunisia dan 13 tahun yang lalu terjadi hal yang sama di Indonesia memiliki sisi kesamaan dan perbedaan. Di antara kesamaanya, penguasa yang ditumbangkan adalah sama-sama penguasa zalim, korup dan menerapkan sistem diktator terhadap rakyatnya.

Kekuasaan mereka berkisar 30 tahunan. Baik Mesir, Tunisia maupun Indonesia adalah sama-sama negeri yang berpenduduk Muslim mayoritas. Cara tumbangnya penguasa di tiga negara tersebut sama, yakni disebabkan pemberontakan jutaan rakyat yang sudah muak dengan kezaliman yang mereka hadapi berpuluh-puluh tahun lamanya.

Gagasan awal perlawanan sama-sama dimotori oleh pemuda dan mahasiswa, kemudian para cendikiawan, profesional dan tokoh masyarakat nimbrung untuk melegetimasi perlawanan tersebut sehingga menjadi kuat dan membuat penguasa ciut dan ketakutan yang luar biasa.

Adapun sisi perbedaannya ialah, di Indonesia dan Tunisia, demonstrasi besar-besaran yang menyebabkan penguasa dua negera tersebut menyerah hanya beberapa hari saja. Sedangkan di Mesir cukup alot sehinggga mencapai 18 hari.

Sisi perbedaan lain, Indonesi dan Tunisa tidak berbatas langsung dengan Palestina, sendangkan Mesir memiliki perbatasan langsung dengan Palestina, khususnya Jalur Gaza. Secara historis, Indonesia dan Tunisia tidak pernah terlibat langsung konflik dengan Yahudi di Palestina, sedangkan Mesir pernah terlibat perang dengan Yahudi di Palestina tahun 1948 dan 1967.

Demikian juga, Indonesi dan Tunisia tidak terlibat kontrak perdamaian secara langsung dengan Yahudi di Palestina, sedangkan Mesir tahun 1970 menandatangani perjanjian damai dengan Yahudi Palestina yang diwakili Anwar Sadat sebagai Presiden Mesir saat itu yang terkenal dengan perjanjian Came David. Mesir sampai hari ini masih terkenal dengan pusat studi Islam dan juga pusat pergerakan Islam yang terkenal dengan gerakan Ikhwanul Musliminnya.

Apa yang terjadi di Mesir?

Sepintas, apa yang terjadi di Mesir adalah sebuah perubahan besar-besaran dalam sistem pemerintahannya. Dari sistem yang sangat zalim dan diktator menjadi sistem demokratis.

Bagi kelompok yang berorientasi kebebasan dan kesejahteraan ekonomi, apa yang terjadi di negeri mereka mungkin akan menjadi pintu gerbang memasuki apa yang mereka cita-citakan.

Lihat saja semboyan dan jargon yang mereka angkat seperti, yang penting Mubarok lengser, kami rindu kebebasan, Mubarok hengkang dari negeri ini, tegakkan masyarakat madani dan ratusan jargon lainnya.

Sesungguhnya apa yang terjadi di Mesir mirip dengan apa yang terjadi di Indonesia tahun 1998. Mayoritas masyarakat yang menghendaki pergantian kekuasaan tidak lain disebabkan kezaliman politik dan tindakan kejahatan ekonomi yang dilakukan rezim dan kroninya yang menyebabkan ekonomi negeri menjadi bangkrut.

Kebangkrutan ekonomi ditandai dengan meningkatnya jumlah masyarakat miskin, pengangguran dan merosotnya nilai tukar mata uang. Solusi yang digaungkan juga sama, yakni kebebasan dan kesejahteraan rakyat berdasarkan sistem demokrasi Barat.

Bentuk masyarakat yang dicita-citakan pasca reformasi adalah masyarakat madani. Masyarakat madaninya seperti apa? Para elite politik dan tokoh masyarakat juga tidak memiliki konsep dan manhaj yang jelas dan sama.

Ada yang mengatakan masyarakat madani itu ialah masyarakat yang dipimpin oleh kalangan sipil dan bukan militer seperti yang terajadi sebelumnya. Ada lagi yang menafsirkan, masyarakat madani ialah yang sistem hidup dan pemerintahannya mengambil nilai-nilai kemanusiaan dan agama yang bersifat moral dan universal.

Pertanyaan berikutnya ialah, apa yang dicapai reformasi yang sudah berusia 13 tahun itu? Benarkah kebebasan itu terwujud? Ya, jika dilihat dari munculnya puluhan partai politik yang sebelumnya hanya dibolehkan tiga saja (Golkar, PDI dan PPP), maraknya korupsi, perdagangan narkoba, pergaulan bebas (hedonisme), money politic dalam politik praktis dalam semua tingkatan politik praktis, media massa yang kebablasan, penyebaran kemusyrikan dan kemungkaran lainnya serta kebebasan berbagai aliran sesat yang nyata-nyata merugikan umat Islam seperti Ahmadiyah dan sebagainya.

Namun, dalam kaca mata sebagian umat Islam, di zaman reformasi ini belum ada yang namanya kebebasan.

Buktinya, penangkapan dan penembakan secara serampangan terhadap umat Islam yang dicurigai melakukan tindakan terorisme (definisi terorisme juga kabur dan ngawur) dan ulama serta kelompok yang menyerukan diterapkannya Syariat Islam secara utuh dan konsisten, khususnya oleh masyarakat Muslim yang mayoritas di negeri ini, maka kebebasan itu masih jauh panggang dari api.

Begitu juga kesejahteraan rakyat yang diteriakkan saat reformasi dan setiap saat dijanjikan pemerintah hanya tinggal kenangan. Yang sejahtera saat ini hanyalah para politisi dan elite-elite partai politik serta pejabat-pejabat negara yang menadapat kewenangan memenej dana samapi 1000 trliun pertahun yang menurut para ahli dikorupsi sampai 70 %. Belum lagi korupsi liar versi Gayus Tambunan yang menggurita di semua instansi pemerintahan.

Bagaimana dengan peran gerakan-gerakan Islam yang sebelum reformasi di Indonesia menyuarakan kebenaran, keadilan, tegaknya syari’at Islam dan sebagainya? Semuanya, tanpa kecuali, mati suri dan sudah larut dalam kenikmatan permainan politik praktis yang menghasilkan uang dan fasilitas hidup yang berlimpah.

Gerakan-gerakan Islam politik zaman reformasi benar-benar berhasil menyingkirkan Islam dari pentas dan percaturan kehidupan tingkat tinggi pemerintahan, bukan hanya esensinya melainkan terminologi-terminologi Islampun sudah tidak lagi dijadikan bahasa pergaulan, kecuali yang terkait dengan kepentingan polotik praktis yang menghasilkan uang.

Salah seorang mantan petinggi pejabat pemerintahan berkisah kepada penulis bagaimana elite partainya setengah memaksa agar disiaipkan uang milyaran rupiah agar ia dapat dicalonkan partainya menjadi calon elite pemerintahan. Sistem drakula. Itulah yang tepat menggambarkan situasi yang sedang berjalan di Indonesia.

Akibat dari kegagalan pemerintah mewujudkan kebebasan dan kesejahteraan rakyat yang diharapkan saat melakukan gerakan reformasi 13 tahun lalu, ditambah lagi dengan perilaku pejabat negara dan para politisi yang jauh dari bersih, tidak memiliki sense of crisis dan bahkan tanpa malu saat digelandang KPK atau penegak hukum lainnya ketika terbukti melakukan korupsi, mabuk-mabukan di tempat-tempat hiburan dan sebagainya, maka hampir separuh masyarakat Indonesia sudah kehilangan kepercayaan. Rendahnya partisipasi masyarakat dalam Pemilu 2009 dan beberapa Pemilukada belakangan ini adalah bukti kuat atas apa yang dijelaskan.



Masa depan Mesir

Berdasarkan kesamaan fenomena reformasi Indonesia dengan revolusi Mesir sekarang ini penulis meyakini masa depan Mesir tidak akan jauh berbeda dengan Indonesia. Perubahan yang terjadi di Mesir hanya konstitusional yang bersifat kertas dan tidak akan menyentuh hal-hal mendasar dalam kehidupan mayarakat Mesir yang berpenduduk Muslim mayoritas dan hanya akan menguntungkan para tokoh aktivis revolusi dan partai-partai poltik yang dengan sukarela menganut paham demokrasi titipan Barat. Hal tersebut paling tidak disebabkan dua faktor :

  1. Faktor internal. Yakni mayoritas masyarakat Mesir masih berjuang dalam tataran (masalah) perut dan tidak dalam kontek ideologis, khususnya ideologi Islam. Hal tersebut sebagai bukti nyata betapa lemahnya pengaruh gerakan-gerakan Islam dalam masyarakat Mesir, khususnya Ikhwanul Muslimin yang telah berusia hampir 84 tahun. Kelemahan pengaruh tersebut bisa disebabkan kurang efektifnya gerakan dakwah dalam menyebarkan dan menanamkan nilai-nilai Islam orisinil dalam masyarakat, atau bisa juga disebabkan terjadinya degradasi pemikiran gerakan Islam, khususnya Ikhwanul Mislimin dari apa yang dirumuskan pendidrinya, Hasan Al-Banna dan tokoh-tokoh besar Ikhawan setelah beliau sepertti Sayyid Qutb, Abdul Qadir Audah dan sebagainya.
  2. Faktor eksternal. Karena Mesir itu terkenal dengan historis kejayaan Islamnya sejak sahabat Amr bin ‘Ash menaklukkan negeri Pyramid tersebut, diteruskan Sholahuddin Al-Ayubi dan kemudian Hasan Al-Banna dan Sayyid Qutbnya, maka seluruh kekuatan Yahudi yang sekarang dijalankan skenarionya oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutinya, baik di Barat maupun di negera-negara Arab sendiri, akan bekerja keras bagaimana revolusi rakyat Mesir yang dimulai 25 Januari 2011 itu ditelikung dan dibelokkan agar tidak menjadi revolusi Islam, bahkan berbau-bau Islampun tidak.
  3. Dari 200 anggota revolusi yang mereka namakan “majlis hukama” tidak satupun yang menyuarakan semboyan kembali kepada Islam, termasuk tokoh-tokoh Islam yang ada di dalamnya seperti Huwaidi dan Uwa. Semuanya sepakat menyuarkan demokrasi, kemaslahatan nasional dan masyarakat madani. Bahakan kelompk Ikhwan yang jelas-jealas keislamannya 24 karat, juga tidak berani mengususlkan secara tegas keharusan berdirinya sistem pemerintahan Islam di atas puing-puing pemerintahan zalim Mubarok yang telah memporak-porandakan seluruh basis kehidupan masyarakat Mesir yang mayoritas Muslim itu. Mana semboyannya : Islam adalah solusi?
  4. Hal lain, karena Mesir berbatasan langsung dengan Palestina, khususnya Jalur Gaza di mana di sana dikuasai Hamas yang dengan berani mendeklarasikan ke seluruh dunia bahwa mereka adalah bagian dari Ikhwanul Muslimin dan penerus generasi Al-Banna, maka faktor ini juga menyebabkan seluruh kekuatan anti Islam baik di luar Mesir maupun di dalamnya bekerja keras untuk memetik hasil revolusi rakyat Mesir itu dan membelokkannya kepada selain Islam. Sebab, kalau revolusi itu melahirkan sistem pemerintahan Islam di Mesir, dapat diprediksikan umur Yahudi di Palestina tinggal menghitung hari.

Dari apa yang diuraikan di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa perjalanan dakwah untuk mengembalikan kejayaan dan kemuliaan umat masih jauh. Sebab itu, mari berdakwah dengan lebih baik, sambil belajar dari kelemahan dan kesalahan yang terjadi.

Sesunguhnya kemenangan dunia dalam bentuk pengusaan pemerintahan bukanlah tujuan akhir gerakan dakwah. Tujuan akhir tetap saja Allah. Kemenangan itu hanya di tangan Allah. Ia akan berikan kepada orang yang dikehendaki-Nya. Wama dzalika ‘alallahi bi ‘aziz.

Analisa Terbaru

blog comments powered by Disqus