free hit counters
 

Semua Bencana Karena Ulah Manusia

Redaksi – Selasa, 9 Rabiul Akhir 1435 H / 11 Februari 2014 09:16 WIB

iran-gempaManusia diciptakan Allah, sebagai makhluk termulia dalam alam ini, dijadikannya khalifah (pengganti Allah) untuk mengatur mas’alah kedunia’an. Karenanya manusia diberi bimbingan berupa wahyu Ilahi, merupakan pedoman untuk mengatur mas’alah kedunia’an. Tetapi manusia nampaknya enggan untuk menerima wahyu Ilahi sebagai pedoman untuk mengatur masalah keduniaan. Mungkin karena manusia pada umumnya bersifat egois, merasa dirinya hebat. Padahal semua yang ada pada diri manusia itu, merupakan pemberian Allah, dan Allah swt memberikan ilmu kepada manusia sangat sedikit. Kalau perlu, Allah ambil kembali ilmu yang sedikit itu, dan tidak ada yang mampu memberi gantinya.

Qs. Al Isro (17:85-86)

17:85
17:86

š“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. Dan sesungguhnya jika Kami menghendaki, niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu……..”.

Namun sebagian besar manusia tidak menyadari, kalau kita hidup ini dibawah kekuasa’an Allah. Walaupun sudah banyak contoh, kalau kematian datang tidak bisa ditangguhkan walaupun dia seorang dokter yang memahami berbagai penyakit. Lihat Qs. Al A’raf (7:34). Karenanya yang mengaku sebagai muslim harus banyak mengkaji ayat-ayat Allah dalam al-Qur’an. Agar mengetahui, bagaimana perhatian Allah terhadap manusia, dan sebaliknya harus bersikap bagaimanapula manusia terhadap Allah. Allah swt menciptakan mahkluk (ciptaannya) dalam alam ini, semuanya harus hormat dan memberikan pelayanan kepada manusia, karena manusia diciptakan sebagai khalifatullah fil Ardhi (di muka bumi). Simbulnya adalah malaikat yang mulia, diperintah oleh Allah, agar memberi hormat kepada Nabi Adam As, karena Adam dan keturunanya (manusia) akan jadi khalifah di muka bumi.

Qs. Al Baqarah (2:34).

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk makhluk Allah yang kafir. Sujud di sini berarti menghormati dan memuliakan Adam ”.

Karenanya bumi, siap untuk dihuni manusia, juga gunung-gunung siap menjadi pasak bumi agar tidak goncang, matahari, siap memberi cahaya di siang hari dan membenam di malam hari, agar manusia bisa istirahat. Demikian juga air, udara, angin, pohon-pohonan dlsb, siap memberikan pelayanan kepada manusia, karena manusia sebagai khalifatullah. Dikala manusia enggan melaksanakan perintah Allah yang telah diwahyukanNya dalam al-Qur’an, bahkan menentangnya dengan jalan berbuat maksiyat, maka adzab turun  antara lain bencana banjir datang secara nasional setelah hura-hura tahun baru di semua kota secara nasional pula. Dan nampaknya maksiyat sudah merata dari tingkat bawah sampai ketingkat teratas. Bagaimanapun walaupun dilakukan secara sembunyi, Allah swt maha mengetahuinya. Terutama bagi yang mengemban amanat, bertanggung jawab penuh kepada Allah, dan akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak, karena memberi izin tempat-tempat  maksiyat. Sebelum di akhirat, bisa disaksikan di dunia dikala sakarat menjelang kemnatian baik yang memberi izin, atau yang berbuat maksiyat, akan disiksa oleh mailaikat maut dengan dipukuli wajah dan punggungnya ketika ruhnya dicabut dengan keras. Kata Nabi pada saat itu sakitnya lebih sakit daripada dipukul pedang 70 kali. Tetapi tensi darah yang bersangkutan  sudah turun sampai ketingkat sepuluh, tidak mampu berteriak dan bergerak.

Qs. Al Anfal (8:50).

8:50

“Kalau kamu melihat ketika para Malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan malaikat berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri).



Maka akhirnya manusia bukan lagi khalifatullah , bahkan menjadi Aduwallah  (musuh Allah). Maka mahkluk-mahkluk Allah yang ada dalam alam enggan memberikan pelayanan kepada manusia. Bumi bereaksi dengan gempa-gempa dan longsor, air bersikap ganas dengan banjir bandang-banjir bandang dan sudah bersifat nasional, hampir semua daerah terkena banjir, karena maksiyat sudah bersifat nasional pula, angin bergerak menjadi putting beliung-puting beliung, gunung-gunung bereaksi menuju ledakan-ledakan, api bersikap ganas, membakar rumah-rumah dlsb. Semua kejadian semacam ini karena perbuatan durhaka yang diperbuat manusia.

Qs. Al Ankabut (29:40).

29:40

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak Menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”.

salim1Prof. Dr. KH Salim Badjri
Ketua Forum Ukhuwah Islamiyah

Opini Terbaru