Serangan Balik Mahfud MD

Eramuslim.com -TESTIMONI Mahfud MD yang mengungkap tabir kegagalannya menjadi calon Wakil Presiden (cawapres) untuk Joko Widodo (Jokowi) dapat disebut telah menabrak etika politik dan berpotensi merugikan kubu petahana.

Apa yang disampaikan oleh Pak Mahfud pada sebuah program televisi semalam (14/8) menurut saya tidak sekedar berani, tetapi bisa disebut nekad.

Sebab, materi informasi yang dia ungkapkan secara terbuka kepada publik itu, dalam pergaulan politik biasanya digolongkan sebagai informasi yang bersifat rahasia.

Di dalam pergaulan politik, para aktor yang terlibat di dalamnya biasanya memegang satu standar etika yang tidak tertulis, tetapi dianggap sudah saling dipahami oleh para pihak yang terlibat dalam suatu interaksi.

Tanpa harus diberitahu sebelumnya, masing-masing pihak biasanya menganggap komunikan atau penerima pesan akan mampu memilah mana materi pembicaraan yang bersifat terbatas atau rahasia, dan mana informasi yang bersifat terbuka.

Nah, apa yang disampaikan oleh Mahfud terkait pembicaraannya dengan Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU) Said Aqil Siradj, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, dan Ketua Umum PPP Romahurmuziy itu dalam pandangan saya semestinya digolongkan sebagai informasi yang bersifat terbatas.

Tetapi standar etika itu kan ternyata ditabrak oleh Pak Mahfud. Dia abaikan fatsun politik itu. Kalau generasi milenial bilang Pak Mahfud semalam seperti orang ‘selon’. Dia kelewat berani saat membuka tabir pengganjalan dirinya sebagai cawapres.

Namun demikian, walaupun Mahfud terbilang nekad, tetapi saya bisa memahami perasaan batinnya. Semua yang disampaikan Mahfud menurut saya hanyalah reaksi kekecewaan dari aksi-aksi pendahuluan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang dianggap telah merugikan dirinya.

Selama proses penyaringan nama cawapres yang dilakukan oleh Jokowi bersama dengan parpol pendukungnya, upaya-upaya untuk menjegal Mahfud memang cukup terasa. Dan inilah yang sesungguhnya menjadi intisari dari testimoni Mahfud semalam.