free hit counters
 

Habiburahman El-Shirazy: Al-Quran Sumber Inspirasi Terbesar bagi Karya-Karya Saya

Magdalena – Senin, 1 Rabiul Akhir 1427 H / 1 Mei 2006 13:20 WIB

Pagi para pecinta buku di tanah air, terutama penggemar buku-buku fiksi Islami pasti tidak asing lagi dengan nama Habiburahman El-Shirazy, penulis novel populer Ayat-Ayat Cinta (AAC). Novel AAC adalah satu novel best seller, di mana penjualannya sudah mencapai angka 70 ribu eksemplar.

Pada eramuslim, Habiburahman mengaku bahwa kandungan ayat-ayat Al-Quran telah menjadi ilham dan inspirasi baginya untuk menulis cerita dengan kata-kata yang indah. Ketika mentadaburi Surat Zukruf ayat 64 dan Surat Yusuf yang berisi kisah cinta yang universal, ia terinspirasi untuk menulis dan jadilah novel Ayat-Ayat Cinta yang mendapat sambutan hangat dari kaum muda muslim dan pencinta fiksi-fiksi Islami.

Di sela-sela acara bedah buku Ayat-Ayat Cinta di kampus UI Depok, Selasa (26/4), penulisnya Habiburahman El-Shirazy berbagi cerita seputar sukses AAC dan aktivitasnya sekarang ini. Berikut petikannya;

Apakah anda sudah punya feeling bahwa novel AAC yang anda tulis ini akan jadi best seller seperti sekarang?

Tentang feeling novel ini akan menjadi best seller tidak terbayangkan sebelumnya, tetapi kalau feeling pembaca akan tersentuh saat membacanya, ada sedikit, karena ketika menulis saja saya sampai menangis menghayati tokoh yang ada dalam cerita itu. Memang pada awalnya buku ini saya tulis bertujuan untuk mengobati kerinduan saya pada kota Kairo, dan ini juga ditulis setelah saya tertimpa musibah kecelakaan, jadi lebih untuk memotivasi bahwa saya masih bisa berkarya setelah kejadian itu.

Sampai sekarang novel AAC sudah sampai pada cetakan ke berapa dan sudah terjual berapa copy?

Menurut data yang dihimpun oleh Harian Umum Republika Ayat-Ayat Cinta sudah terjual lebih dari 70 ribu eksemplar dan sudah 12 kali mengalami cetak ulang, memang kalau mengenai jumlah yang terjual, pihak Republika yang lebih mengetahui, karena sebelum menjadi novel, cerita itu lebih dahulu dimuat bersambung di HU Republika selama 3 bulan dan di akhir Desember 2004 baru dibukukan.

Apakah anda punya rencana menerbitkan AAC di negara lain selain Indonesia?

Saat ini kebetulan, beberapa bab Ayat-ayat Cinta sudah diterjemahkan di Kanada, semoga saja tahun ini bisa di-lauching dan terbit dalam edisi Bahasa Inggris di sana. Selain itu beberapa penerbit Malaysia juga sudah melakukan penjajakan untuk menerbitkan dalam edisi Bahasa Melayu, tetapi masih akan menyeleksi penerbit mana yang paling serius menanganinya, sebab saat ini paling tidak sudah ada tiga penerbit asal Malaysia yang mencoba mebangun kerjasama, tapi belum matang hitung-hitungannya.

Wah, sekarang pasti anda bahagia sekali AAC mendapat sambutan hangat dari para pecinta buku di tanah air….

Ya, jelas sangat senang, penerbit manapun akan bahagia, jika tulisan atau karyanya dibaca oleh orang dan direspon dengan baik. Namun lebih dari itu untuk menyempurnakan rasa syukur itu, ketika AAC meledak saya menganggap itu merupakan tantangan bagi diri saya, bisa tidak saya melahirkan karya yang lebih baik dari ini, jangan-jangan hanya sekali meledak lantas tidak pernah lagi, itu repot juga.

Apa ada pesan khusus yang ingin anda sampaikan dalam novel ini?

Pertama saya ingin menyampaikan ajakan kepada seluruh umat Islam untuk berakhaqul karimah, sebab Islam adalah agama yang Rahmatan lil Alamin, yang kedua saya ingin mengajak pembaca untuk bertauhid, diakhir cerita mengisahkan tokoh Maria yang membaca dua kalimat Syahadat. Sedangkan pesan khususnya agar mahasiswa di Indonesia dapat melakukan tugasnya secara sungguh-sungguh, walaupun pada akhirnya memang pangsa pasar novel ini bukan hanya untuk mahasiswa namun ada juga anak-anak yang membacanya.

Punya pengalaman menarik selama menyelesaikan novel ini?

Mengenai pengalaman menarik, ketika saya menyelami tokoh-tokoh dalam cerita saya sampai menangis, bahkan Ibu saya sempat kebingungan dengan tingkah laku saya yang sangat menghayati tokoh dalam cerita yang ditulis sendiri, dan proses penulisan itu hanya memakan waktu satu bulan awal September 2003 sampai akhir Oktober 2003.

Sebetulnya apa sih yang mengilhami anda menulis novel Ayat-Ayat Cinta?

Ide menulis ini diperoleh ketika saya mentadaburi Surat az-Zukruf ayat 67 dan Surat Yusuf, di mana di dalamnya terdapat kisah cinta yang universal dan sangat indah, itu yang mengilhami novel saya. Tidak hanya itu, ayat Al-Quran lainnya seperti Surat Ar-Rahman juga telah mengilhami beberapa tulisan saya. Al-Quran memang sumber inspirasi terbesar bagi karya-karya saya selain juga pengalaman belajar di Mesir, karena itu memacu saya untuk terus mendalami dan membaca Al-Quran.

Banyak pembaca menduga bahwa tokoh Fahri dalam Ayat-ayat Cinta merupakan diri anda sendiri, komentar anda?

Jelas itu berbeda, Fahri is Fahri, Habiburahman is Habiburahman tidak sama.

Pernah mendapat kritik pedas dari pembaca soal isi AAC?

Karya kalau tidak dikritik itu tidak akan menjadi menarik, saya sudah banyak melakukan bedah buku di berbagai universitas, di situ saya banyak didampingi oleh bermacam kalangan.



Ada keinginan untuk mengangat cerita novel ini ke layar lebar atau layar televisi?

Rencana itu sudah di depan mata karena sudah lebih dari tiga production house menawarkan cerita AAC untuk diangkat menjadi film layar lebar, tetapi yang terpilih nantinya hanya satu. Namun saya menginginkan cerita tidak terlalu menyimpang jauh dari novel aslinya dan sebagai penulis saya mempunyai wewenang untuk merekomendasikan tokoh dalam cerita itu, terutama untuk tokoh Fahri. Kriterianya harus bisa akting tentunya, ketika memainkan tokoh Fahri, diharapkan sang pemain mempunyai karakter sikap yang sama seperti dalam cerita, tetap berakhlaqul karimah. Dirinya membuka kesempatan bagi para akhwat untuk casting pemilihan dua tokoh utama lainya, Nurul dan Aisyah.

Saat ini sedang booming penulis muda mengusung fiksi-fiksi Islami, apa pandangan anda melihat fenomena ini?

Ini fenomena yang sangat positif harus didukung oleh seluruh masyarakat, saya sangat apresiatif, dengan mengusung tema Islami semoga saja kualitas sastra Indonesia semakin meningkat. Dan saya minta kepada teman-teman muda jangan lekas puas dengan satu tulisan, terus belajar untuk menghasilkan karya yang terbaik, seperti yang diminta Rasullulah belajar sejak kecil sampai akhir hayat.

Anda sendiri punya kiat khusus untuk menghasilkan karya yang bagus?

Tentang kiat khususnya, ketika saya menyusun novel yang pertama kali, yang sangat penting adalah niat, maksud dan tujuan, Insya Allah dengan begitu Allah juga akan memberikan jalan terbaik kekuatan yang murni berupa taufiq dan hidayah, tentulah harus diiringi dengan doa.

Hingga saat ini sudah berapa novel yang anda tulis, selain menulis novel apa lagi yang anda tulis, dan apa kegiatan yang anda lakukan selain menulis?

Saya sudah menghasilkan dua novel, sedangkan kalau buku terjemahan sudah banyak, begitu juga kumpulan cerpen, Alhamdulillah sudah banyak juga, sedangkan untuk buku independen sudah empat buah. Kegiatan yang saya lakukan mengajar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) program khusus di Surakarta, selain itu saya juga melakukan kajian fiqih sunah bersama dengan mahasiswa Universitas Negeri Semarang dan mengelola Pesantren Putra Basmalah sejak tahun 2004 untuk konsentrasi karya dan wirausaha di Ngalian, Surakarta, dan mudah-mudahan niat saya membuka sekolah khusus untuk calon penulis dapat segera terealisasi, Insya Allah. (novel)

Bincang-Bincang Terbaru