free hit counters
 

Mantan Pasukan Elit Inggris Ben Griffin: Perang AS di Irak Ilegal dan Tidak Bermoral

Magdalena – Kamis, 14 Safar 1427 H / 16 Maret 2006 11:01 WIB

Ben Griffin, adalah anggota tim anti terorisme dari pasukan elit Inggris Special Air Service-SAS, yang menyatakan mundur dari dinas kemiliteran Inggris, karena merasa muak dengan kelakuan pasukan koalisi pimpinan AS yang dinilainya ‘ilegal dan tak bermoral.’

Setelah satu minggu kembali ke London pada bulan Maret 2005, Griffin pada komandannya menyatakan tidak mau bertugas kembali ke Irak dan bertempur bersama pasukan AS. Pengunduran diri Griffin dengan alasan karena keyakinannya bahwa perang Irak secara moral tidak bisa dibenarkan, merupakan kasus pertama di kemiliteran Inggris. Bulan Juni 2005, Ben Griffin yang baru berusia 25 tahun itu resmi mengundurkan diri dari dinas kemiliteran Inggris.

Tadinya, Griffin akan ditahan karena keputusannya itu dan disebut sebagai pengecut. Namun, pihak militer Inggris akhirnya memberinya mengabulkan pengunduran dirinya dan menyebut Griffin sebagai ‘tentara yang adil dan jujur, memiliki kekuatan dan karakter serta semangat dalam mempertahankan pendapatnya.

Dalam wawancara singkatnya dengan surat kabar Inggris Telegraph, Griffin menegaskan bahwa dirinya bergabung dengan kemiliteran Inggris bukan untuk melakukan kebijakan luar negeri AS. Griffin juga mengatakan, perang di Irak adalah sebuah agresi dan secara moral adalah sebuah kesalahan. "Yang lebih penting lagi, perang itu membuat situasi di Timur Tengah menjadi tidak stabil," kata Griffin.

Apa lagi komentarnya tentang perang Irak dan pengalamannya selama 3 bulan bertugas di Baghdad, berikut petikan hasil wawancara dengan Ben Griffin yang juga dipublikasikan di situs Telegraph.

Tentang keputusannya buka suara tentang Perang Irak, Griffin mengatakan….

Saya melihat banyak hal yang ilegal dan salah di Baghdad. Saya tahu, banyak orang yang sudah mengetahui hal ini, bahwa bukan seperti ini caranya melakukan operasi-operasi (di Irak) jika anda ingin mengambil hati dan cara berfikir penduduk setempat. Dan jika anda tidak berhasil mengambil hati mereka, anda tidak bisa memenangkan perang.

Sebagai contoh, jika kita sedang melakukan operasi bersama untuk melawan para teroris, kita harus mengabarkan ke markas besar kita bahwa kita tidak akan menangkapi orang-orang tertentu, karena sepanjang sepengetahuan kita, mereka bukanlah ancaman. Mereka hanya orang-orang tua yang jelas-jelas hanya para petani, tapi tentara Amerika bilang, "Tidak, bawa mereka kembali."

Pendekatan ‘tangkap siapa saja’ yang dilakukan pasukan AS untuk menambah jumlah tersangka. Sebuah taktik yang sangat tidak efektif dan semena-mena. Tentara AS melakukan hal semacam ini, misalnya menjebloskan para petani ke penjara Abu Ghraib atau menyerahkannya pada otoritas pemerintahan Irak, dan tentara AS sangat paham bahwa tangkapan mereka itu akan disiksa.

Selama tiga bulan saya berada di Irak, pasukan saya di mana saya bergabung tidak pernah menembak satu orangpun. Ketika anda bertanya mengapa pasukan AS membunuh orang, mereka akan menjawab bahwa mereka sedang melawan tentara-tentara asing. Padahal saat itu saya tidak melihat ada tentara-tentara asing di sana.

Saya masih bisa mengingat sebuah operasi yang dilakukan di luar Baghdad, di mana kami menahan sejumlah warga sipil yang jelas-jelas bukan para pemberontak, mereka warga tidak berdosa. Saya tidak bisa memahami mengapa mereka melakukan ini, maka saya bilang pada komandan pasukan saya ‘Akankah kita melakukan tindakan yang sama seperti di Balkan dan Irlandia Utara?’ Komandan itu tidak menghiraukan pasukannya dan berkata ‘Ini Irak’, sayapun berfikir ‘Apakah itu membuat semua tindakan ini dibolehkan?’

Sepanjang saya pahami, hal itu maksudnya adalah karena orang-orang ini berbeda warna kulit atau berbeda agama, mereka tidak memperhitungkan itu sama sekali. Anda tidak bisa menginvasi sebuah negara dengan berdalih mendorong iklim demokrasi dan berbuat seenaknya seperti itu.

Dalam sebuah operasi militer, Griffin dan beberapa anggota pasukan pernah merasa frustasi ketika diperintahkan untuk menahan sejumlah laki-laki yang tinggal di sebuah tanah pertanian. Untuk ini Griffin menjawab…

Setelah anda ikut dalam beberapa operasi militer, pengalaman mengajarkan anda bahwa ketika anda berurusan dengan kelompok pejuang Irak atau warga sipil, kita akan tahu bahwa orang-orang yang sudah kita tahan bukanlah sebuah ancaman.

Salah satu dari mereka, seorang laki-laki cacat yang sebelah kakinya hilang, namun tentara AS tetap memerintahkan kami untuk mengangkut orang itu ke helikopter dan membawa mereka kembali ke markas. Beberapa jam kemudian, kami diperintahkan untuk memulangkan setengah dari tawanan itu ke pertanian tempat mereka tadi ditangkap, di tengah hari bolong. Ini merupakan perintah yang menggelikan dan kami harus menghadapi resiko ditembaki atau disergap, tapi tetap harus melaksanakan perintah itu. Tentara AS mempertaruhkan nyawa kami karena mereka menolak untuk mendengarkan masukan-masukan dari kami pada malam sebelumnya. Itu merupakan tipikal kelakuan tentara AS.

Griffin mengatakan, ia meyakini bahwa cara tentara AS memandang rakyat Irak sama dengan cara pandang Nazi terhadap orang Rusia, Yahudi dan orang-orang Eropa Timur pada Perang Dunia II. Ia mengatakan….

Sepanjang pemahaman orang Amerika, orang-orang Irak dianggap tidak beradab. Anda bisa membagi tentara AS dalam dua kelompok, kelompok pertama adalah kelompok yang benar-benar ingin membasmi orang Irak, tujuannya hanya satu membunuh rakyat Irak dan kelompok kedua adalah tentara yang terpaksa berada di Irak karena pihak militer akan membiayai sekolah mereka. Mereka tidak paham atau punya kepentingan terhadap budaya Arab. Orang-orang Amerika bicara pada orang-orang Irak, seolah-olah orang-orang Irak adalah orang yang bodoh. Dan ini terjadi mulai dari tentara AS yang pangkatnya tinggi sampai yang rendah. Hanya ada satu atau dua tentara yang memahami situasi di Irak sedikit lebih baik, tapi secara umum perilaku mereka sama saja. Sikap mereka itulah yang memicu munculnya perlawanan dari kalangan rakyat Irak. Saya pikir rakyat Irak sangat membenci mereka.

Meskipun Griffin sangat menghormati mantan kolega-koleganya dan tetap loyal pada resimennya, ia meyakini reputasi kemiliteran sudah dirusak karena diasosiasikan dengan pasukan AS. Menjawab hal ini Griffin mengatakan…

Saya menginginkan untuk pergi ke Irak, sebelum akhirnya saya ditugaskan ke sana, Tapi sebagai seorang tentara, anda hanya mendapatkan perintah untuk melakukan sesuatu. Namun apa yang saya temui ketika saya berada di Irak, saya tidak bisa memisahkan pandangan saya dengan apa yang menjadi tugas saya tanpa mengkompromikan peranan saya sebagai seorang tentara.

Pada tahap itulah saya tahu saya tidak bisa melanjutkan ini semua. Saya sangat marah dan sampai sekarang saya masih marah, dengan cara para politisi di negeri ini (Inggris) dan Amerika yang telah berbohong pada publik Inggris tentang perang Irak. Tapi yang lebih penting, saya masuk kemiliteran Inggris bukan untuk melaksanakan kebijakan luar negeri AS.

Griffin menyatakan, meski ia marah dengan banyak peristiwa yang ia saksikan di Irak, ia menunggu sampai ia mendapatkan cuti dan kembali ke Inggris, sebelum menyampaikan pandangan-pandangannya pada para komandannya. Untuk hal ini, Griffin mengatakan….

Saya tidak ingin mengatakan apapun ketika saya di Baghdad, karena saya masih memiliki penghormatan yang besar dan kesetiaan pada pasukan di mana saya bertugas. Saya tidak ingin menimbulkan tekanan-tekanan yang tidak penting atau menimbulkan ketidaknyamanan dengan menyuarakan pendapat-pendapat saya.

Ketika saya kembali ke Inggris untuk cuti selama seminggu, saya dipanggil untuk wawancara dengan seorang komandan dan saya mengatakan padanya bahwa saya berfikir apa yang sedang terjadi di Irak adalah sebuah kesalahan, bukan hanya dari sisi hukum tapi juga dalam tingkat operasional.

Awalnya komandan saya curiga bahwa saya ditawari pekerjaan oleh perusahaan jasa militer swasta di Irak, tapi ketika saya jelaskan bukan itu masalahnya, dia sangat memahami. Ini merupakan keputusan besar buat saya. Saya berusaha keras untuk bisa bergabung ke SAS. Ini bukan keputusan yang saya buat dengan sekali berfikir.



Komandan saya mengerti inti pandangan-pandangan saya dan dia bersikap brilian, pada dasarnya setiap orang sangat tahu apa sebenarnya yang terjadi di Irak. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Saya pikir saya akan dikenai sangsi atau berakhir di penjara militer Colchester karena mundur dari ketentaraan.

Griffin yang kini tinggal di London, menolak untuk menjadi aktivis perdamaian, menjadi anggota partai politik tertentu atau membuat agenda untuk menjatuhkan pemerintah. Namun ia mengatakan, "Saya sangat percaya adanya nafsu dalam demokrasi dan saya akan bersuara lantang tentang hal-hal yang menurut saya secara moral salah. Saya pikir perang di Irak adalah sebuah agresi dan dari sisi moral itu salah. Satu hal yang penting adalah, kita telah membuat situasi di Timur Tengah makin tidak stabil. Ini bukan hanya salah, ini merupakan sebuah bencana militer yang besar. Tidak ada rencana apa yang akan dilakukan setelah Saddam tumbang, tidak ada akhir dari permainan itu," kata Griffin menutup perbincangan. (ln/Telegraph)

Bincang-Bincang Terbaru