free hit counters
 

MCA, Mukidi Cyber Army

Redaksi – Jumat, 2 Maret 2018 05:00 WIB

Eramuslim.com – Sejak kemarin Mukidi blingsatan. Tidur tidak enak, makan pun sering salah sendok. Bahkan pernah tanpa sadar Mukidi sampai makan pakai sendok nasi. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Pulang dari pasar, dia langsung mengendap-endap memasuki rumahnya sampai isterinya heran.

“Ada apa, Pak Ne? Kenapa kok kayak abis ngeliat genderuwo gitu?” tanya isterinya.

Mukidi langsung menempelkan jari telunjuknya ke depan bibirnya., “Ssst…! Jangan keras-keras!” bisiknya.

“Iyooo… ono opo pak ne?”

“Aman kan? Aman kan?” bisik Mukidi sambil mukanya celingak-celinguk ke sekeliling rumah. Sesekali kepalanya timbul tenggelam di depan jendela seperti tarian Trio Kwek Kwek. Mau tak mau isterinya juga ikut-ikutan berbisik.

“Iyooo, aman, aman pak ne…”

Setelah didesak isterinya, barulah Mukidi mau menjelaskan sebab musabab ketakutannya yang tiba-tiba. Itu pun Mukidi mau menjelaskannya di dalam kamar, yang dianggapnya tempat paling aman dan privasi.

“Anuuu, buk Ne… Aku bubarkan aja deh MCA… Bahaya, lagi dicari-cari aparat! Ditangkepin!”

“MCA?” ulang isterinya dengan wajah ndak mudeng. Kedua alisnya bertemu di atas mata dengan jidat berlipat-lipat.

“Iyaa… Mukidi Cyber Army…”

“Halah! Opo tumon Pak Ne..? Itu buat apa?”

“Ituuu Bu Ne… Itu nama Grup Wa aku. Aku gini-gini kan pemerhati politik juga…,” jawab Mukidi dengan suara meninggi. Lalu setelah sadar dia berbisik kembali, “Pokoknya aku bubarkan sekarang juga!”

“Ya, terserah lah…”

“Tapi aku cuman ganti nama kok Bu Ne… aku gak mau kehilangan berita ter-now…”

“Iyaaa, terserah…” ujar isterinya yang mulai paham soal suaminya ini.

Mukidi terdiam sejenak. Lalu wajahnya menjadi cerah, “Aaah., aku dapet ide, Bu Ne…”

“Opo?”

“Aku ganti aja namanya biar aman, jadi Mukidi Aselik Social Media Volunteers, disingkat Masmev…”

Kini gantian isterinya yang seperti orang tengah berpikir. “Tunggu… Tunggu, Pak Ne… kayaknya aku pernah denger itu nama. Mirip-miriip apa yaa…?”

Mukidi tertawa dengan gaya khasnya. “Yo gapapa kan, yang penting sing amaaaan….!”

Keduanya lalu tertawa bersama. Kali ini lepas tanpa beban. []

Catatan Redaksi Terbaru

blog comments powered by Disqus