free hit counters
 

Waspadai Neo-Komunis

Redaksi – Jumat, 28 September 2018 09:15 WIB

Eramuslim.com – Polemik tentang film G30S/PKI seperti tidak berkesudahan. Di sana-sini orang meributkan PKI, partai yang sudah dihancurkan pada penghujung tahun 1965. “Tapi sisa-sisa PKI masih banyak berkeliaran dan ada yang ingin kembali menguasai Indonesia!” ujar yang getol menyuarakan perlawanan terhadap PKI. Ketahuilah, menurut teori Materialisme-Historisnya Marx, untuk bisa membangkitkan Komunisme maka diperlukan syarat-syarat tertentu yang ada di dalam masyarakat dan sikap penguasa itu sendiri, seperti hanya bisa tumbuh di saat sistem kapitalisme yang benar-benar matang dan mencapai ujung kehancurannya, di saat para buruh-tani kehilangan alat produksinya, di saat para buruh-tani sudah memiliki kesadaran kelas, di saat kebanyakan rakyat sudah muak dan siap untuk melakukan revolusi yang terkait dengan kesadaran faktual bobroknya sistem kapitalisme yang berlaku sekarang. Adakah syarat-syarat bagi kebangkitan komunis seperti ini?

Lihat kondisi faktualnya. Jujur saja, kebanyakan rakyat Indonesia sekarang ini masih belum menyadari sistem apa yang bekerja sekarang sehingga mereka menjadi obyek penindasan dan penghisapan. Mereka menjadi korban dari exlpoitation de l’homme par l’homme, eksploitasi manusia oleh manusia lainnya. Bahkan masih banyak rakyat Indonesia yang masih terbius dan terkena Stockholm Syndrom, yang malah mendukung mereka-mereka yang menindasnya. Pendidikan politik terhadap rakyat kecil seperti yang dilakukan Paulo Freire dengan Pendidikan Untuk Kaum Tertindas di Amerika Latin yang membuka kesadaran rakyat kecil praktis belum ada. Diskusi-diskusi bernas seperti yang dilakukan kelompok Frankfurt Institute yang diikuti Marcuse, Horkheimer, dan sebagainya belum ada. Kesadaran rakyat Indonesia kebanyakan tentang sistem yang menindas ini belum ada. Lha kesadaran untuk melindungi diri sendiri saja belum punya kok. Lihat saja emak-emak di jalan, mau belok kiri malah kasih sein ke kanan. Tidak pakai helm, diingetin, malah dia yang marah. Dan sebagainya dan sebagainya. 

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Catatan Redaksi Terbaru

blog comments powered by Disqus