free hit counters
 

Teroris Oon

Redaksi – Kamis, 29 Sya'ban 1438 H / 25 Mei 2017 19:11 WIB

Eramuslim.com – Berita duka kembali menyergap. Dua buah ledakan terjadi di dekat Terminal TransJakarta Kampung Melayu yang lokasinya menyatu dengan terminal yang berada di bawah fly over. Sejumlah orang meninggal dan belasan luka-luka. Semoga pelaku dan juga dalangnya cepat diazab Allah Swt. Dan untuk para korban, kami menyampaikan ucapan belasungkawa sedalam-dalamnya dan juga simpati.

Hari ini, seperti biasa, sejumlah pengamat berkomentar di berbagai media cetak maupun elektronik. Kebanyakan mengikuti irama gendang yang ditabuh kekuasaan. Organisasi berbau Islam dituding sebagai teroris yag melakukan aksi tak berperikemanusiaan itu. Namun jika memang itu kelakuan teroris, maka sungguh oon bin bahlul alias bodoh mereka ini.

Mengapa?

Pertama, untuk mendapatkan mesiu itu sangat sulit bagi mereka yang berada di luar lingkaran aparatur keamanan negara. Selain sulit, juga sangat beresiko, karena bahan-bahan kimia yang dibeli yang bisa dicampur menjadi bahan peledak itu peredarannya bisa terbilang ketat dan diawasi. Ini untuk membuat bom. Beda kalo untuk membuat petasan. Namun untuk petasan bukankah juga sering dirazia polisi?

Kedua, untuk bisa mendapatkan bahan-bahan peledak itu sangat sulit, membuatnya untuk menjadi bom juga beresiko tinggi, nah alangkah naifnya jika kerja awal yang sulit dan beresiko ini cuma digunakan untuk aksi di terminal, bukan di obyek-obyek vital yang gaungnya dan daya tekannya lebih terasa, bukan ditujukan kepada tokoh-tokoh penting dan sebagainya. Kenapa di terminal yang merupakan tempat berkumpulnya orang-orang kecil yang kesehariannya kebanyakan masa bodo terhadap politik dan sebagainya. Orang-orang di terminal itu kebanyakan bekerja keras setiap hari untuk bisa menafkahi keluarganya, bukan mainan proyek yang jumlahnya em-em an atau proyek yang awalannya “T. Alangkah bodohnya teroris ini. Oon, kate orang Betawi.

Tekanan politik apa yang hendak dituju dengan meledakkan diri di tengah terminal? Ingin Meneror tukang asongan? Ingin menakut-nakuti sopir angkot dan kernetnya? Atau itu ungkapan kekesalan terhadap kemacetan lalu lintas ibukota? atau malah jangan-jangan ini aksi balas dendam pelaku karena pernah kecopetan di lokasi ledakan? Semua kemungkinan bisa saja. Toh, ini negara demokrasi, bukan?

Nah, semoga saja warga ibukota tidak merasa takut dengan teror-teror sekelas beginian. Dan keberanian warga ibukota bukankah sudah teruji ketika ada aksi tembak-tembakan di kawasan Sarinah beberapa waktu yang lalu? Di tengah kekacauan itu, tukang sate tetap mengipas satenya dengan tenang, tukang rujak tetap mengulek bumbu kacangnya dengan “keep calm”, dan tukang asongan tetap keluyuran di jalan sambil teriak, “Mijon, Mijon, Mijon….”

Inilah warga ibukota. Warga yang sudah memilih pemimpin baru untuk kotanya. Semoga semangat baru ini tetap membara demi kebaikan kita bersama. Tabik! []

Resensi Buku : Telah Terbit Edisi 9 cet 3, Eramuslim Digest, Untold History Sejarah Indonesia Pra Islam Hingga Abad 19

loading...

Catatan Redaksi Terbaru

blog comments powered by Disqus