free hit counters
 

Mustafa Garment: Islam Melepaskannya Dari Jerat Narkoba

Magdalena – Minggu, 21 September 2014 10:00 WIB

garmentMelihat penampilannya sekarang, dengan tutur kata yang lembut dan jenggot yang lebat dan posisinya sebagai kordinator forensik di Brooklyn Mental Health Court, AS orang mungkin tak percaya kalau Mustafa Garments menghabiskan hampir setengah perjalanan hidupnya di dunia kriminal dan narkoba. Tapi Islam telah mengubah jalan dan cara hidupnya sehingga Garment mampu meninggalkan dunia hitamnya dan hidup tenang dengan tuntutan Islam.

Garment, warga AS keturunan Afrika yang kini berusia 64 tahun mengungkapkan perjalanan hidupnya 20 tahun silam hingga ia mengenal Islam. Sejak kecil, Garment yang tumbuh di kawasan miskin Harlem sudah akrab dengan kemiskinan, penderitaan hidup, narkoba dan alkohol. Ia hidup sebagai tuna wisma.

“Saya masih ingat bagaimana ketika saya merasa sangat lapar, tubuh saya lemah karena kelaparan,” kata Garment yang sejak usia muda sudah harus berjuang melawan kecanduan narkoba dan minuman keras.

Garment mulai mengenal narkoba dan alkohol sejak usia 13 tahun, hingga kedua benda-benda haram itu menjadi bagian dari gaya hidupnya sampai 30 tahun kemudian. Menurut Garment, ia terbiasa mengisap mariyuana dan minum wine agar bisa diterima di tengah teman sepergaulannya. Kondisinya makin parah karena ibu Garment bekerja di bar yang akrab dengan minum-minuman keras.

“Saya sering menemui ibu saya di bar,” kata Garment.

Kecanduan Garment terhadap narkoba mencapai puncaknya saat ia mulai mengggunakan kokain yang membuat Garment malas belajar dan akhirnya memilih berhenti sekolah saat ia masih di kelas 10. Kokain membuat perilaku Garment menjadi bertambah buruk, ia mulai berani mencuri bahkan mulai ikut berjualan narkoba untuk memenuhi kebutuhannya saat kecanduannya pada kokain kambuh.

“Ketika Anda kecanduan kokain, hal pertama yang ada di pikiran Anda adalah bagaimana mendapatkan barang itu lebih banyak lagi,” ujar Garment.

Tak heran jika Garment pernah lebih dari 30 kali keluar masuk penjara dan merasakan pahitnya kehidupan penjara, karena kasus-kasus kriminal yang dilakukannya mulai dari menjual narkoba sampai perampokan.

Titik Balik

Di tengah kehidupannya yang kacau akibat karena kecanduan narkoba dan bolak balik masuk penjara, Garment yang dibesarkan di tengah keluarga Kristen Baptis, mengenal agama Islam. Ketika itu tahun 1972, pada usia 27 tahun ia kemudian menikah dengan seorang muslimah.

Setelah mulai mengenal Islam dan menikah, Garment ternyata belum juga meninggalkan gaya hidupnya yang kriminal. Garment mengakui, ketika itu, ia tidak sepenuh hati masuk Islam dan tidak berpikir untuk mengubah gaya hidupnya.

“Pola pikir saya saat itu masih sama. Saya sama sekali tidak berubah,” aku Garment. Akibatnya, isteri Garment minta cerai karena Garment tetap akrab dengan dunia narkoba dan penjara.

Garment mulai berpikir untuk berubah pada tahun 1998. Setelah 40 tahun hidup di jalan, bertahan hidup dari makanan pembagian, mencuri, menggunakan narkoba, Garment memutuskan untuk memulai kehidupan yang baru.

Hal pertama yang ia lakukan adalah mendatangi tempat-tempat rehabilitasi pecandu narkotika. Ia datang ke pertemuan-pertemuan lembaga Narcotics Anonymous dan mendapatkan bantuan dari organisasi The Bridge, sebuah organisasi yang membantu para tuna wisma dan orang-orang yang kecanduan narkoba.

Di tempat itu, Garment bertemu dengan seorang mentor beragama Islam bernama Amin. Amin-lah yang membantu Garment menjadi seorang Muslim sejati sambil menjalani proses rehabilitasi dari kecanduan narkoba. Amin sendiri, dulunya juga seorang pecandu heroin dan pengidap penyakit AIDS. Pada Garment, Amin mengenalkan apa yang disebut Millati Islami, sebuah program penyembuhan bagi pecandu narkoba berdasarkan prinsip-prinsip Islami.

“Dalam program itu, kami berdiskusi tentang bagaimana mendekatkan diri pada Allah swt, membahas tentang salat,” kata Garment mengenang masa lalunya.

Sedikit demi sedikit, Garment mulai menapaki kehidupan barunya yang bebas dari narkoba. Hal itu diakui oleh Lucille Jackson yang mengelola The Birdge. Menurut Jackson, Garment telah menemukan kembali Islam yang dulu pernah dikenalnya dan itulah titik balik kehidupan Garment.

“Ia memanfaatkan progam ini dengan cara yang positif dan menerapkan ilmu yang didapatnya dengan baik,” kata Jackson.’

Membantu Orang Lain

Terkesan dengan kemajuan Garment, Jackson memberikan pekerjaan pada Garment di The Bridge sejak Garment masih dalam proses pemulihan. Garment kemudian bekerja di Mental Health Court, sebuah tempat rehabilitasi bagi para tahanan, penderita penyakit jiwa dan pecandu narkoba, yang berad di bawah tanggung jawab Mahkamah Agung Negara wilayah New York.

Garment bekerja dengan baik di pusat rehabilitasi itu. Ketika Jackson diangkat menjadi Direktur Proyek di Brooklyn Mental Health Court, Jackson meminta Garment untuk menjadi kordinator forensik di tempat itu. Karena memiliki catatan kriminal, Jackson harus meminta ijin khusus dari Mahkamah Agung untuk mempekerjakan Garment dan ia berhasil mendapatkan ijin itu.

Pekerjaan Garment adalah membantu para tahanan yang membutuhkan pengobatan atas gangguan mental yang merka derita, atau problem kecanduan narkoba yang mereka hadapi. Tak jarang ia juga harus menangani problem yang dihadapi para tuna wisma dan para pengangguran. Garment melayani mereka, terutama yang usia masih remaja dengan pendekatan orang tua yang sedang mendidik anaknya.

“Saya melihat kehidupan mereka banyak yang hilang. Saya menganggap mereka sebagai anak-anak saya sendiri. Saya bilang pada mereka untuk sekolah dan jangan melakukan tindakan yang merusak diri mereka sendiri,” tukas Garment.

Atasan Garment, Jackson puas dengan kinerja Garment di pusat rehabilitasi itu. “Dia adalah sosok manusia yang luar biasa. Dia tidak pernah membiarkan ada yang menghalangi jalannya untuk membantu para klien,” puji Jackson.

Sekarang, Garment hidup bahagia bersama keluarganya, menjadi seorang ayah dan seorang kakek. Garment bersyukur karena telah menemukan kembali Islam di saat-saat paling berat dalam hidupnya.

Selain bekerja, Garment juga berhasil menyelesaikan pendidikannya lewat program General Educational Development (GED). Ia bahkan belajar bahasa Arab dan sekarang bisa memahami isi al-Quran. Keinginannya yang lain adalah, suatu saat nanti ia ingin meraih gelar kesarjanaan di bidang studi Islam.

“Saya sekarang seorang Muslim. Kondisi saya sepenuhnya ada di tangan saya dan karena takdir Allah swt,” tandas Garment. (ln/iol)

loading...

Dakwah Mancanegara Terbaru

blog comments powered by Disqus