Inggris mengatakan mereka menarik semua kecuali sebuah "staf inti kecil" dari kedutaan mereka di Sana’a dengan prediksi kekerasan akan semakin meningkat di ibukota Yaman selama beberapa hari kedepan.
Sebuah pernyataan Departemen Luar Negeri Inggris mengatakan pada hari Rabu kemarin (23/3) bahwa "bagian dari tim kedutaan Inggris di Sanaa" untuk sementara ditarik dengan segera karena adanya penurunan yang cepat terkait situasi keamanan di sana.
Dikatakan "staf inti kecil" akan tetap di kota Sanaa, yang kota itu sendiri bersiap-siap untuk menyaksikan aksi protes dan kekerasan yang kemungkinan terjadi pada hari Jumat besok.
Inggris sangat mendesak setiap warganegaranya yang masih di ibukota Yaman untuk meninggalkan negara itu dengan cara komersial, memberi peringatan bahwa akan "sangat sulit" untuk memberikan dukungan konsuler lebih lanjut dalam peristiwa kerusuhan lebih lanjut terjadi.
Parlemen Yaman pada hari Rabu kemarin menyetujui keadaan darurat yang dideklarasikan oleh Presiden Ali Abdullah Saleh meskipun adanya kecaman dari para pemuda yang menyatakan bahwa keadaan darurat bisa memicu "pembantaian" baru yang bertujuan memadamkan aksi protes anti-rezim.
"Kami mendesak semua pihak di Yaman untuk menahan diri dan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk meredakan situasi ini," kata pernyataan Departemen Luar Negeri.
"Sangat penting bahwa semua warga Yaman memainkan peran yang bertanggung jawab dalam membawa reformasi terkait tentang politik dan ekonomi dalam merespon tuntutan sah rakyat Yaman," katanya menambahkan.
Dalam menghadapi protes massa sejak Januar lalui, Saleh mengatakan dia akan tinggal di kantor kepresidennya sampai habis masa jabatannya pada tahun 2013 tetapi tidak mencalonkan diri untuk periode berikutnya.(fq/afp)





