free hit counters
 

AS Dukung Oposisi Yaman untuk Lindungi Kepentingan Mereka

Al Furqan – Rabu, 1 Jumadil Awwal 1432 H / 6 April 2011 15:30 WIB

Amerika Serikat telah bergeser dari mendukung pemerintah Yaman menjadi mendukung kekuatan-kekuatan revolusioner di negara Timur Tengah itu dalam rangka melindungi kepentingan mereka sendiri, kata seorang ahli hukum Amerika.

"Setiap kali Anda melihat ada kemiringan dalam sebuah kekuatan menjadi salah satu kekuatan baru apakah menjadi kekuatan pemerintah atau kekuatan oposisi, pemain ketiga akan selalu memiringkan keseimbangan mereka dalam mendukung pemenang. Dan hal ini terjadi dengan AS di Yaman," kata Dr Syed Ali Wasif, profesor hukum internasional, dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Press TV pada hari Rabu ini (6/4).

Dia menambahkan bahwa meskipun faktanya bahwa Washington mengakui eksistensi Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh selama bertahun-tahun, sekarang AS mulai bergeser mendukung kubu oposisi di Yaman dalam upaya untuk memenangkan simpati mereka dan mengejar kepentingan nasional mereka di negara Timur Tengah itu.



"Pembuat kebijakan Amerika menganggap mereka akan kehilangan pemerintah Yaman dan setiap saat Anda akan mendengar keruntuhan pemerintahan Yaman. Jadi, AS dengan segera bergeser ke arah pasukan revolusioner atau kubu oposisi dengan harapan memperoleh simpati mereka sehingga kalau dikemudian hari oposisi membentuk pemerintahan revolusioner baru, pemerintahan baru tersebut akan memiliki sudut yang lunak bagi AS. Tujuan utamanya adalah untuk memperpanjang kepentingan nasional AS di sana," ia melanjutkan mengatakan.

Di Yaman, ratusan ribu orang telah melakukan aksi demonstrasi rutin di kota-kota termasuk ibukota Sana’a, Aden, dan Taiz, menyerukan korupsi dan pengangguran harus ditangani dan menuntut Presiden Saleh untuk mengundurkan diri dari kekuasaannya.

Protes, bagaimanapun, telah dipenuhi dengan tindakan tegas oleh polisi anti huru hara atau pendukung Presiden Saleh dengan membawa pisau dan tongkat.

Saleh mengatakan dia tidak akan maju kembali dalam pemilu tahun 2013 tetapi bersumpah untuk mempertahankan rezimnya "dengan setiap tetes darah" nya.(fq/prtv)

Dunia Islam Terbaru