Bentrokan kembali pecah antara pasukan keamanan dan demonstran selama protes anti pemerintah di dekat kantor perdana menteri interim Muhammad Ghannouchi di ibujota Tunis.
Laporan-laporan mengatakan Polisi menembakkan gas air mata kepada demonstran setelah mereka melemparkan batu kearah pasukan keamanan selama unjuk rasa Senin ini (24/1) di negara Afrika Utara tersebut.
Menentang keadaan darurat, ribuan demonstran berkemah di depan gedung kantor perdana menteri pada hari Minggu kemarin, menyerukan pembubaran pemerintah Tunisia dan pengunduran diri Ghannouchi setelah lebih dari sepuluh hari tergulingnya Presiden Zine al-Abidine Ben Ali dari kekuasaannya.
Ghannouchi bersumpah dalam pidato televisi pada hari Sabtu lalu untuk berhenti dari jabatannya setelah pemilu mendatang yang jatuh tempo dalam enam bulan kedepan dan mengakhiri karir politiknya, namun bersikeras bahwa dia harus tetap ada untuk menjaga negara itu melalui transisi menuju demokrasi.
Para politisi oposisi dan kelompok hak asasi manusia, bagaimanapun, meminta pemerintah sementara untuk membebaskan semua tahanan politik.
Meskipun pemerintah baru telah memberikan amnesti untuk semua kelompok politik, termasuk oposisi Islam yang dilarang, pengunjuk rasa mengeluhkan hanya ratusan dari mereka yang dipenjara karena alasan-alasan politik selama pemerintahan 23 tahun Ben Ali yang telah dibebaskan.
Revolusi Tunisia, yang menyebabkan penggulingan Ben Ali, sangat mempengaruhi negara-negara Afrika Utara dan memicu protes serupa di seluruh wilayah.
Pada hari Sabtu lalu, ratusan warga Mesir berkumpul di luar Kedutaan Besar Tunisia di Kairo untuk menunjukkan solidaritas mereka dengan rakyat Tunisia dan menyerukan protes serupa seperti yang ada di Tunisia.
Sementara itu, ratusan warga Aljazair menentang larangan aksi unjuk rasa di ibukota Aljir pada hari Sabtu di tengah kekhawatiran bahwa contoh Tunisia bisa terjadi di negara tetangga tersebut.
Demonstran Aljazair dihadang puluhan polisi bersenjata dengan tongkat dan gas air mata.(fq/prtv)





