Duta Besar Sudan untuk Iran Suleiman Abdel Towab menyatakan AS dan Israel berperan besar dalam menebarkan benih perpecahan yang memicu kerusuhan dan perang sipil di Sudan Selatan.
Pada stasiun televisi Iran Press TV ia mengatakan bahwa para agen Mossad–badan intelijen Israel–kemungkinan ingin memperluas konflik di wilayah itu. Belum lama ini, kata Abdel Towab, seorang pejabat senior Mossad menyebutkan tujuh negara yang dianggap sebagai "ancaman nyata" bagi Israel. Diantara ketujuh negara yang disebutkan itu adalah Iran dan Sudan.
Menurutnya, Israel menganggap Sudan sebagai "ancaman nyata" bagi rezim Zionis karena Sudan adalah negara Islam dan sangat populer di antara negara-negara lain di benua Afrika. "Sudan sudah seperti jembatan antara orang-orang Afrika, Arab dan Muslim sehingga Israel dan AS berusaha untuk memegang kendali pemerintahan Sudan dan menjatuhkan sanksi pada Sudan," kata Abdel Towab.
Letak geografis Sudan dan peranan negara itu di benua Afrika dan seluruh dunia, menjadikan posisi Sudan sangat penting dan inilah yang menjadi penyebab Sudan dkenakan sanksi.
Namun Abdel Towab menyatakan bahwa Sudan adalah negara yang memiliki potensi untuk melakukan pembangunan dan bisa maju di tengah tekanan sanksi dan kesulitan ekonomi. "Sudan merupakan negara terbesar kedua setelah Cina dalam pertumbuhan ekonominya," klaim Abdel Towab.
Tanggal 9 Januari mendatang, Sudan yang merupakan negara terbesar di Afrika rencananya akan menggelar dua referendum; referendum untuk menentukan kemerdekaan Sudan Selatan dan referendum untuk menentukan apakah wilayah Abyei yang kaya dengan sumber minyak akan menjadi bagian Sudan Utara atau Sudan Selatan.
Perang saudara antara Sudan Utara dan Sudan Selatan sudah mencabik negeri itu selama 16 tahun. Kesepakatan antara pemerintah dan kelompok "pemberontak" di Selatan pada tahun 2005 juga belum mampu menghentikan pertumpahan darah di negeri itu. (ln/prtv)





