Eropa ternyata menjadi salah satu wilayah di dunia yang paling rasial. Sebuah studi yang dilakukan European Union Agency for Fundamental Rights (FRA) menyebutkan, kasus-kasus kekerasan berlatar belakang rasial dan diskriminasi di Eropa jumlahnya lebih besar dibandingkan data statistik yang ada.
Untuk pertama kalinya FRA melakukan studi perilaku rasial dan diskriminatif Eropa terhadap para imigran dan kelompok minoritas. Dari hasil studi itu, kelompok yang kerap mengalami tindak kekerasan dan kejahatan berlatar belakang rasial adalah kelompok etnis asal Afrika dan komunitas gipsi Roma dan banyak kasus-kasus kejahatan rasial di Eropa yang tidak dilaporkan.
Para korban kejahatan rasialis dari kalangan etnis minoritas itu lebih memilih diam dan menarik diri dari persoalan ini karena mereka tidak yakin mekanisme hukum dan aturan yang berlaku di Eropa akan melindungi dan berpihak pada mereka sebagai korban.
"Survei ini berhasil mengungkap bahwa angka kejahatan berlatar belakang diskriminasi dan rasial di Eropa ternyata jumlahnya lebih besar dari data yang dilaporkan. Ibarat gunung es, kasus-kasus yang tercatat cuma sebagian kecil dari yang muncul ke permukaan," kata Morten Kjaerum, direktur FRA.
Survei yang dilakukan di kalangan warga minoritas di 27 negara anggota Uni Eropa menunjukkan bahwa 37 persen responden mengakui pernah mengalami sendiri perlakuan diskriminasi dan 12 persen mengatakan pernah menjadi korban kejahatan berlatar belakang rasial. Tapi sekitar 80 persen korban, menyatakan tidak melaporkan kasus-kasus rasial dan diskriminasi yang mereka alami ke polisi.
Komunitas gipsi Roma menjadi kelompok yang paling sering menjadi korban diskriminasi. Satu dari dua responden dari komunitas itu mengaku mengalami perlakuan diskriminasi dalam setahun belakangan ini. Kelompok kedua yang paling banyak menjadi korban diskriminasi adalah komunitas asal Afrika.
Hasil survei itu menunjukkan bahwa diskriminasi, rasisme dan xenophobia masih menjadi fenomena di Uni Eropa, yang mempengaruhi kehidupan warga minoritas dan para imigran. Sikap diskriminatif dan rasial masyarakat Eropa membuat warga minoritas dan para imigran itu sulit berbaur dan berintegrasi dengan orang-orang Eropa.
Hasil survei itu sekaligus mengingatkan Uni Eropa dan negara-negara anggotanya untuk mengatatasi masalah diskriminasi dan rasialisme di negaranya masing-masing, karena dari hasil survei itu menunjukkan bahwa perilaku rasial masyarakat Eropa sudah menjadi kebiasaan sehari-hari baik di sektor tenaga kerja, pendidikan, perbankan, bahkan perumahan. Kelompok warga minoritas dan etnis tertentu selalu dipersulit ketika ingin membuka rekening atau mendapatkan pinjaman di bank. (ln/EUbs





