FBI dan CIA Interogasi Ayah Umar Farouk

Badan intelejen AS, FBI dan CIA menginterogasi Umar Mutallab, ayah dari Umar Farouk Abdulmutallab yang kini berada dalam tahanan AS dan dituding mencoba meledakkan pesawat komersil Northwest Airlines hari Natal yang lalu.

Seorang sumber intelejen Nigeria seperti dikutip kantor berita AFP menyatakan bahwa ayah Umar Farouk memang dipanggil ke kedutaan besar AS di Abuja pada hari Senin kemarin. "Ia diinterogasi disana oleh beberapa agen intelejen dari CIA dan FBI, yang ingin tahu lebih jauh tentang latar belakang Umar dan puteranya," kata sumber tadi.

Beberapa laporan media menyebutkan bahwa sejak awal tahun lalu Umar Mutallab sudah menginformasikan intelejen AS tentang kecenderungan radikal anak lelakinya yang sempat kuliah di sebuah universitas di Dubai selama tujuh bulan. Pihak universitas mengatakan bahwa Umar Farouk adalah mahasiswa yang cerdas dan taat menjalankan ibadah agamanya.

Tapi Umar Farouk meninggalkan kampusnya dan diduga ikut dalam kelompok Al-Qaida yang beroperasi di kawasan Semenanjung Arab. Kelompok itu mengklaim telah melatih dan membekali Umar Farouk dengan bahan peledak serta mengaku bertanggung jawab atas upaya serangan yang dilakukan Umar Farouk di atas pesawat Northwest Airlines.

Pengetatan Keamanan di Bandara Nigeria

Sementara itu otoritas bandara Nigeria hari Rabu kemarin mulai melakukan pengetatan keamanan di semua bandara internasionalnya dengan memasang alat pemeriksa tiga dimensi.

"Nigeria akan meningkatkan keamanannya dengan menggunakan alat penyaring gambar tiga dimensi yang akan digunakan untuk memeriksa semua calon penumpang," kata Direktur Jenderal Otoritas Penerbangan Sipil Nigeria, Harold Demuren.

Menurutnya, alat tersebut akan diinstal di empat bandara utama di Nigeria antara lain, Lagos, Abuja, Kano dan Port Harcourt. Alat-alat tersebut diimpor dari Eropa dan AS dan akan mulai dioperasikan akhir bulan Januari mendatang. Setelah bandara-bandara internasional, kata Demuren, alat serupa juga akan dipasang di bandara-bandara lokal.

"Tak seorang pun yang bisa memanfaatkan Nigeria sebagai tempat transit bagi para teroris atau pengedar narkoba. Kami akan menghentikannya dan kami sangat serius dengan persoalan ini," tukas Demuren. (ln/prtv/iol/afp)