Komandan Angkatan Udara Pasukan Garda Revolusi Iran Amir Ali Hajizadeh mengatakan, pihaknya sudah sering menembak jatuh pesawat mata-mata yang melintas di wilayah udara Iran, tapi baru kali ini mereka mengumumkan penembakan itu.
Kanto berita semi-resmi di Iran Fars mengutip pernyataan Ali Hajizadeh yang mengklaim bahwa Pasukan Garda Revolusi Iran berhasi menembak jatuh dua pesawat tanpa awak milik negara asing yang sedang melakukan operasi mata-mata di kawasan Teluk, pada Minggu (2/2).
"Banyak pesawat mata-mata dan pesawat canggih miik musuh-musuh kami yang ditembak jatuh oleh pasukan kami … kami juga telah menembak dua pesawat mata-mata di kawasan Teluk Persia. Tapi, inilah pertama kalinya kami mengumumkan berita ini, " kata Ali Hajizadeh tanpa merinci kapan penembakan dilakukan.
"Barat memiliki kemampuan yang tidak bisa diabaikan, terutama kemampuan satelit dan contohnya, mereka punya pesawat mata-mata yang bisa mengambil gambar di beberapa tempat," sambungnya.
Menurut Ali Hajizadeh, pesawat tanpa awak itu khususnya digunakan di Irak dan Afghanistan tapi pesawat-pesawat itu juga melanggar wilayah udara Iran.
Komandan pasukan udara Garda Revolusi Iran itu mengatakan bahwa Iran tidak terlalu khawatir dengan ancaman pesawat mata-mata karena misil-misil Iran sudah mampu menjangkau basis-basis militer "musuh" Iran, terutama basis-basis kekuatan AS di kawasan Teluk.
"Misil-misil inilah yang sekarang menjadi ancaman buat mereka (AS). Kami sudah mampu mengendalikan musuh-musuh kami secara penuh. Kami tahu apapun perubahan yang terjadi di pantai-pantai kami. Ketika mereka menyiagakan kapal-kapal perang atau ketika mereka mengenakan jaket pelampung saat mengerahkan kapal-kapalnya ke lautan, kami akan mengetahuinya," tukas Ali Hajizadeh.
Saat ini, Armada ke-5 Angkatan Laut AS yang berbasis di Bahrain sudah ditempatkan di perairan Teluk dan berhadapan langsung dengan negara Iran. Iran sudah mengancam akan memblokir lalu lintas di Selat Hormuz jika kapal AS itu berani menembakkan misilnya ke wilayah Iran.
Pemblokiran Selat Hormuz berarti kelumpuhan suplai minyak bagi dunia, karena 60 persen suplai minyak dunia harus melewati selat strategis ini. (ln/aby)





