
Ribuan warga Mesir berkumpul di Tahrir Square di ibukota Kairo selama aksi massa untuk menuntut segera diakhirinya kekuasaan militer di negara itu.
Setelah Shalat Jumat, para demonstyran turun ke jalan, menyerukan pengadilan terhadap mantan diktator Hosni Mubarak dan para pejabat rezimnya.
Dalam khutbahnya, khatib Shalat Jumat mendesak pemimpin demonstran untuk melanjutkan aksi mereka sampai tuntutan mereka terpenuhi. Dia juga menyerukan perubahan dalam sistem politik Mesir, konstitusi dan parlemen.
"Terakhir kali kami bertemu, kami berharap akan ada pemerintah yang akan mengekspresikan dan mengimplementasikan tuntutan kami," dikutip AFP dari perkataan khatib.
"Tapi untuk alasan yang kita tidak tahu, mereka bersikeras menundukkan kita untuk melunak teradap anggota-anggota rezim lama," katanya kepada para jamaah.
Demonstran juga mendesak penguasa militer baru untuk mengakhiri pengadilan sipil – banyak di antaranya ditangkap selama revolusi 18-hari.
Para demonstran menuntut sidang terhadap polisi yang dituduh membunuh ratusan pengunjuk rasa. Mereka marah dengan penguasa militer karena gagal untuk mempercepat reformasi politik yang dijanjikan.
"Pemerintah ini tidak dalam bentuk apapun dalam mengungkapkan aspirasi kita untuk revolusi," kata Tareq al-Khouli, seorang pemimpin gerakan 6 April.
"Kami tidak mengerti mengapa mereka begitu keras untuk menjaga mantan anggota partai Mubarak, daripada menggantinya dengan orang-orang yang lebih terhormat," tambah aktivis.
Penguasa militer Mesir telah merubah lebih dari setengah anggota kabinet dalam upaya untuk menenangkan publik. Namun pengunjuk rasa mengatakan konsesi tersebut tidak cukup.
Setengah dari menteri dalam kabinet Perdana Menteri Essam Sharaf yang baru direshuffle adalah mereka yang telah melayani di bawah rezim Mubarak.
Para ahli mengatakan Sharaf memiliki kekuasaan terbatas di bawah penguasa militer negara itu.
Perkembangan ini datang pada saat ketegangan tumbuh antara aktivis politik dan militer yang berkuasa. Para pengunjuk rasa menyerukan kepada presiden Hussein Tantawi untuk mundur.(fq/prtv)





