Komisaris umum dari badan pengungsi PBB mengatakan krisis di Jalur Gaza lebih dari sekedar situasi kemanusiaan.
Filipo Grandi yang merupakan komisaris umum dari badan pengungsi PBB mengatakan Rabu kemarin (23/6) di Libanon bahwa warga Gaza harus mampu untuk mengimpor dan mengekspor barang untuk meningkatkan perekonomian dan hal itu akan memberikan warga Gaza dapat hidup kembali normal.
Grandi menegaskan kembali posisi PBB pada situasi ini, yang menyerukan Israel untuk mencabut blokade atas Gaza.
Israel telah melonggarkan blokade atas Gaza sebagai tanggapan atas kemarahan internasional yang dipicu oleh serangan komando mematikan pada sebuah armada kapal yang membawa bantuan ke Gaza tiga minggu lalu.
Namun Israel mengatakan blokade laut akan tetap berlaku untuk mencegah pejuang Hamas dan para pendukungnya melakukan penyelundupan senjata ke Gaza.
Israel, Amerika Serikat dan beberapa anggota masyarakat internasional menganggap Hamas sebagai organisasi teroris.
Dua kapal berencana untuk menantang blokade laut atas Gaza. Kapal "Julia" yang membawa bantuan kemanusiaan berencana untuk berangkat ke Gaza dari Libanon dalam beberapa hari kedepan, meskipun adanya peringatan dari Israel bahwa mereka tidak akan membiarkan kapal-kapal merapat ke dermaga Gaza yang dikuasai oleh Hamas.
Kapal kedua yang bernama "Maryam" yang semuanya berisi perempuan, juga berencana untuk melakukan perjalanan ke Gaza, mengangkut sekitar 50 aktivis perempuan, termasuk empat biarawati Amerika Serikat, yang akan melakukan pengobatan kanker dan bantuan kemanusiaan lainnya.
Sementara itu, orang tua seorang tentara Israel yang disandera oleh kelompok Palestina Hamas mengatakan mereka takut bahwa pengurangan Israel atas blokade itu akan membuat lebih sulit untuk merundingkan pembebasan anak mereka.
Orangtua Gilad Schalit berpendapat bahwa blokade merupakan alat penting untuk menekan Hamas, yang mengontrol Jalur Gaza. (fq/voa)





