free hit counters
 

Kontroversi Masjid Ground Zero dan Gedung Putih, Mana Janjimu Obama?

Magdalena – Jumat, 6 Agustus 2010 07:46 WIB

Pembangunan masjid dan pusat kebudayaan Islam di dekat Ground Zero–lokasi runtuhnya menara kembar World Trade Center dalam serangan 11 September 2001–menjadi kontroversi terutama di kalangan warga kota New York. Sebagian besar masyarakat AS yang masih meyakini bahwa peristiwa "Black September" adalah ulah para "teroris" muslim beralasan, pembangunan tempat ibadah kaum Muslimin di Ground Zero menyakiti keluarga para korban serangan 11 September dan sejuta alasan lain yang berlatar belakang Islamofobia.

Kelompok penentang tak segan-segan mengeluarkan dana besar untuk menggagalkan pembangunan masjid tersebut. Mereka juga mendapat dukungan dari kelompok-kelompok Yahudi pro-Israel yang ada di AS. Gedung Putih yang biasanya melibatkan diri dalam setiap isu yang menjadi kontroversi di tengah masyarakat, lebih memilih menjaga jarak dari kontroversi ini dan tidak memberikan pernyataan tegas apakah memberikan dukungan atau ikut menentang rencana pembangunan masjid dan pusat kebudayaan Islam tersebut.

Juru bicara Gedung Putih Robert Gibbs yang dimintai komentarnya soal kontroversi pembangunan masjid itu hari Rabu (4/8) hanya berkomentar bahwa masalah itu adalah urusan pemerintah kota New York tanpa berbasa-basi minta maaf bahwa Gedung Putih tidak mengambil sikap atas persoalan ini yang masih menjadi kontroversi ini.

"Ini sepenuhnya urusan Kota New York dan warga kota, merekalah yang memutuskan," kata Gibbs.

Ketidakberanian Gedung Putih menegaskan sikapnya dalam polemik masjid Ground Zero bertolak belakang dengan janji-janji yang diumbar Presiden Barack Obama. Sejak ia resmi menjadi Presiden AS, Obama selalu menyatakan akan berupaya merangkul komunitas Muslim dan dunia Islam.

"Islam, seperti yang kita tahu, adalah bagian dari Amerika," kata Obama saat acara buka puasa bersama bulan September 2009.

Dalam beberapa kesempatan lainnya, Obama menyatakan bahwa Muslim Amerika harus dibela dari stigmatisasi "teroris" yang dihubung-hubungkan dengan agama Islam. "Kita tahu bahwa mayoritas muslim menolak Al-Qaida," ujarnya bulan Januari lalu.



Dari dua pernyataannya itu, Obama tentunya akan membela komunitas muslim di Kota New York sedang berusaha untuk membangun masjid dan pusat kegiatan bagi kaum Muslimin. Tapi Obama ternyata tak melakukan pembelaan itu bahkan sekedar menyatakan sikapnya atas kontroversi yang lebih banyak memojokkan komunitas muslim di AS dan agama Islam.

Mengapa Obama atau setidaknya Gedung Putih memilih diam? Secara politis, kontroversi rencana pembangunan masjid bukan isu yang akan menguntungkan bagi posisi Obama. Di satu sisi, Obama tidak menjilat ludahnya sendiri dan menyinggung perasaan komunitas muslim, di sisi lain ia juga tidak mau membuat keluarga para korban serangan 11 September merasa sakit hati.

Maka Gedung Putih pun lewat juru bicaranya, Robert Gibbs memilih jalan aman dengan tidak bersikap dan hanya melontarkan pernyataan-pernyataan retorika, seperti pernyataan Gibbs yang mengatakan, "Presiden sudah menegaskan bahwa AS tidak memerangi satu agama tapi memerangin pemikiran-pemikiran yang merusak agama bersangkutan."

"Gedung Putih tidak akan melibatkan diri pada isu-isu yang menurut pandangan Gedung Putih isu itu bisa diselesaikan oleh kebijakan di tingkat lokal," tukas Gibbs berdalih. (ln/cbs)

Dunia Islam Terbaru