Pihak berwenang Iran pada hari Senin ini (10/1) menyatakan bahwa korban tewas dalam kecelakaan pesawat di barat laut Iran sebanyak 77 orang pada saat penyidik mencari petunjuk apa yang menyebabkan pesawat untuk mencoba melakukan pendaratan darurat bencana.
Pilot dari pesawat Boeing-727, yang dioperasikan oleh maskapai penerbangan nasional Iran, melaporkan adanya kegagalan teknis kepada menara kontrol sebelum mencoba untuk membuat pendaratan darurat di tengah badai salju hari Ahad malam kemarin (9/1), TV negara Iran melaporkan. Pesawat IranAir pecah menjadi beberapa bagian, tapi Mahmoud Mozaffar, kepala departemen penyelamatan Iran Red Crescent Society, mengatakan tidak ada ledakan atau kebakaran sewaktu pesawat itu jadi.
Badai salju menghambat upaya penyelamatan, kantor berita setengah resmi Iran Fars mengutip pernyataan kepala pusat darurat negara, Gholam Reza Masoumi. Laporan itu juga menyebutkan kabut menyelimuti di daerah tersebut.
TV Iran menayangkan rekaman video yang memperlihatkan petugas penyelamat dan petani setempat mencari korban Minggu malam di beberapa bagian pesawat yang hancur di bawah hujan salju dan dalam kegelapan.
TV mengatakan pesawat hilang dari radar dan jatuh di lahan pertanian setelah melakukan upaya kedua untuk mendarat. Sifat dari kegagalan teknis tidak jelas.
Seorang pejabat provinsi, Javad Mahmoudi, mengatakan 77 orang tewas dan 27 luka-luka, dan beberapa lainnya mengalami kritis.
Namun Menteri Transportasi Iran Hamid Behbahani mengatakan 105 penumpang dan awak kapal, hanya 72 meninggal dan 33 orang luka ringan.
Tak lama setelah kecelakaan itu, pihak berwenang mengatakan, pesawat itu membawa 106 orang dan 71 meninggal. Pernyataan yang bertentangan itu tidak dapat segera dijelaskan.
Beberapa penumpang bisa berjalan keluar dari pesawat, kata Abbas Mosayebi, juru bicara otoritas penerbangan sipil.
Pesawat ini berangkat dari Teheran untuk menuju ke Orumiyeh, ibukota provinsi Azerbaijan Barat, yang berjarak sekitar 460 mil, atau 700 kilometer.
Iran memiliki sejarah kecelakaan udara yang sering disalahkan akibat kondisi pesawat terbang yang sudah tua dan pemeliharaan yang buruk. Banyak pesawat Boeing di armada IranAir dibeli sebelum tahun 1979 sebelum Revolusi Syi’ah Iran, yang mengganggu hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Eropa.(fq/ap)





