Mahasiswa AS Boikot Produk Makanan yang Bela Tentara Israel

Salah satu foto  yang di dapat dari halaman Facebook Boikot Sabra hummusPimpinan dari perusahaan makanan dan minuman Israel, mengecam keras kampanye yang dilakukan oleh mahasiswa di Princeton University dan Chicago’s DePaul University untuk memboikot merek terkenal produk makanan hummus, berlabel Sabra, salah satu anak perusahaan yang dimiliki oleh PepsiCo, sebagai perlawanan terhadap semua hal baij dari produk perusahaannya.

Para mahasiswa yang bersimpati terhadap Palestina di Princeton University telah melakukan pemungutan suara terhadap hummus dan hasilnya menunjukkan bahwa perusahaan yang menghasilkan hummus banyak melakukan pelanggaran di Palestina, menurut laporan yang baru saja diterbitkan oleh majalah Forbes.

Cerita bermula ketika media internasional mengungkapkan adanya kemarahan terhadap produk berlabel Sabra dan adanya halaman Facebook ("Boikot Sabra hummus") yang diciptakan untuk lebih mendorong untuk memboikot produk-produk mereka.

Kampanye mahasiswa terhadap hummus datang setelah Strauss Group, perusahaan makanan dan minuman kedua terbesar Israel, mengirimkan pernyataan di situsnya yang mengatakan bahwa mereka menggalang dana "untuk kegiatan kesejahteraan, budaya dan pendidikan" bagi para petugas di Angkatan Darat Israel Golani Brigade, yang telah berjuang dalam setiap perang besar sejak negara Yahudi diciptakan pada tahun 1948, menurut laporan Forbes.

Pimpinan grup Strauss, Ofra Strauss (50 tahun), yang merupakan anggota generasi ketiga dari bisnis keluarga tersebut, adalah pendukung dan bangga dengan pasukan Israel.

"Bagi kami, tentara Israel bukanlah militer, tentara Israel adalah anak-anak kami," kata Strauss kepada Forbes dalam sebuah wawancara. "Ketika anak-anak negeri ini membutuhkan, kami akan berada di sana."

Strauss menambahkan bahwa boikot terhadap produk hummus mereka adalah "sama saja dengan melawan terhadap semua hal-hal baik yang kami lakukan". Di antara mereka: mempromosikan keragaman di tempat kerja (Muslim dan Druze, bersama dengan orang-orang Yahudi dan Kristen) dan pembangunan kembali ekonomi di utara kota Acre ".

Para mahasiswa menyebutkan di halaman facebook kampanye mereka bahwa seorang komandan militer Israel, Kol Illan Malka, sedang diintergosai oleh penyidik militer atas pembantaian al-Samouni pada Januari 5, 2009 selama Operasi Cast Lead di Jalur Gaza.

Malka ditemukan bertanggung jawab atas pembunuhan 30 anggota keluarga yang berlindung di sebuah gedung yang mereka telah dibawa oleh pasukan Malka.

Malka secara khusus menyetujui serangan rudal IAF terhadap kompleks bangunan walaupun bahwa beberapa perwira angkatan udara memperingatkan dia bahwa bangunan itu mungkin berisi warga sipil. (fq/aby)