Ternyata bukan hanya Presiden Iran Ahmadinejad yang dituding anti-Yahudi hanya karena mengkritisi kebijakan-kebijakan kejam Israel di Palestina, tapi juga Uskup Desmond Tutu yang pernah menerima penghargaan Nobel bidang perdamaian karena perjuangannya menghapus kebijakan apartheid di Afrika Selatan.
Tudingan bahwa Uskup Desmond Tutu anti-Semit dilontarkan oleh organisasi Anti Defamation League (ADL) yang berbasis di AS. ADL menuduh Tutu anti-Semit karena Tutu mendukung boikot terhadap institusi-insitusi pendidikan Israel sebagai bentuk protes atas agresi brutal Israel ke Jalur Gaza dan kebijakan-kebijakan diskriminatif yang diberlakukan rezim Zionis di tanah jajahannya, Palestina.
Bukan hanya itu, ADL juga mengecam Michigan State University yang telah mengundang Uskup Desmond Tutu untuk memberikan ceramahnya pada pembukaan awal tahun ajaran universitas tersebut. ADL menganggap Tutu yang anti-Semit tidak pantas memberikan ceramahnya.
ADL pernah melakukan kecaman serupa terhadap University of St. Thomas di Minnesota pada tahun 2007, ketika universitas tersebut mengundang Tutu untuk berpidato. Karena tekanan ADL, pihak universitas membatalkan undangannya pada Tutu, tapi mengundang Tutu kembali seminggu kemudian. Namun Tutu menyatakan tidak bisa hadir memenuhi undangan tersebut.
"Saya mencoba melakukan apa yang terbaik dalam situasi ini, saya menyimpulkan bahwa saya telah membuat keputusan yang salah karena membatalkan undangan untuk Uskup Desmond Tutu," kata Presiden University of St. Thomas, Pendeta Dennis Dease ketika itu, sebelum menyampaikan undangan kedua pada Tutu tahun 2007 lalu.
Berbeda dengan University of St. Thomas, Presiden Michigan State University, Lou Anna Simon menyatakan pihaknya tetap akan mengundang Uskup Desmond Tutu meski mendapat tekanan dari ADL.
Uskup Desmond Tutu belakangan ini juga aktif sebagai anggota delegasi hak asasi manusia PBB. Ia diminta menjadi utusan pelapor khusus PBB tentang hak asasi manusia, setelah serangan misil Israel ke sebuah keluarga Palestina yang terjadi tahun 2004. Tapi Tutu tidak bisa melakukan investigasinya atas insiden tersebut, karena Israel menolak memberikan visa pada Tutu, sehingga penyelidikan kasus ini tertunda selama lebih dari tiga tahun.
Tutu menilai perlakuan Israel terhadap warga Palestina sama dengan perlakuan warga kulit putih terhadap warga kulit hitam di Afrika Selatan saat masih diberlakukan kebijakan apartheid. Sikap Tutu inilah yang oleh Israel dan para pendukungnya dianggap sebagai sikap anti-Semit.
Pakar Studi Afrika dari Michigan State University, Profesor David Willey menolak tudingan itu. Ia mengatakan bahwa Tutu tidak pernah membuat pernyataan anti-Yahudi dan hanya mengkritik kebijakan-kebijakan rasial Israel. (ln/IMEMC)





