Pakistan mengatakan akan meninjau ulang kerjasama kontra-terorisme dengan AS terkait atas pembunuhan pemimpin Al-Qaidah Usamah bin Ladin.
Langkah ini dilakukan setelah meningkatnya tekanan domestik untuk menghukum Washington atas pelanggaran kedaulatan Pakistan, AFP melaporkan.
Kabinet Pakistan dari Komite Pertahanan, dipimpin oleh Perdana Menteri Yusuf Raza Gilani, mengutuk tindakan AS pada hari Kamis kemarin (12/5).
Dalam sebuah pernyataan resmi, komite memutuskan, "untuk melakukan proses antar lembaga-lembaga agar secara jelas mendefinisikan parameter kerjasama kita dengan AS dalam operasi kontra-terorisme, sesuai dengan kepentingan nasional Pakistan dan aspirasi rakyat."
Serangan terhadap bin Ladin tanpa pemberitahuan ke Pakistan telah menempatkan pemimpin tertinggi Pakistan dalam kondisi digoyang. Partai-partai oposisi telah meminta Presiden Asif Ali Zardari dan Gilani mengundurkan diri atas terjadinya serangan itu.
Washington mengklaim pasukan khusus yang menewaskan Usamah bin Ladin dalam serangan pada 2 Mei lalu, tanpa memberitahu Islamabad. Kepala CIA Leon Panetta mengatakan Amerika Serikat tidak memberitahu pihak berwenang Pakistan mengenai serangan tersebut karena mereka khwatair Islamabad akan mengganggu misi mereka.
Ketua Senat AS untuk Komite Hubungan Luar Negeri dijadwalkan akan mengunjungi Islamabad awal minggu depan. Senator John Kerry mengatakan ia berharap dapat menyelesaikan isu seputar operasi terhadap pemimpin Al-Qaidah kepada Pakistan.
Sejak tahun 2002, AS telah menyediakan Pakistan dengan dana bantuan sekitar 20 miliar dolar, dengan dua-pertiga bantuan dalam bentuk dukungan militer bagi operasi kontra-terorisme yang dilakukan di sepanjang perbatasan Afghanistan.(fq/prtv)





