free hit counters
 

Pemerintahan Kenya Tuduh Wanita Mualaf Asal Inggris Sebagai Pemicu Teror di Mal Nairobi

Redaksi – Jumat, 27 September 2013 11:13 WIB

Samantha Lewthwaite, a British citizen dubbed the "White Widow", is pictured in this undated photo posted on the Interpol websiteTabloid Kenya menyebutnya  ” Janda Bule, ” dia adalah seorang mualaf kelahiran Inggris yang menikah dengan salah satu pelaku bom syahid  dalam serangan tahun 2005 yang merusak sistem transportasi London . Dan kini, media Inggris menuduh secara  spekulasi bahwa janda tersebut mengambil bagian dalam serangan bersenjata  di sebuah pusat perbelanjaan di Nairobi .

Pada hari Kamis , Interpol , yang bertindak atas permintaan negara Kenya , mengeluarkan pemberitahuan penangkapan terhadap buronan wanita yang berusia 29 tahun,  Samantha Lewthwaite – walau tidak berhubungan dengan serangan mal , tapi selama 2011 ia dituduh berkomplot untuk mengebom tempat resor di Kenya .

Para pejabat belum membuat pernyataan publik yang mengaitkan dirinya dengan serangan mal . Interpol tidak menyebutkan itu . Dan pejuang al-Shabab  membantah keterlibatan pejuang perempuan tersebut berpartisipasi dalam serangan Mall.

Namun demikian , pemberitahuan Interpol sangat tergesa gesa setelah serangan tersebut dan memicu spekulasi bahwa wanita inggris tersebut terlibat dalam beberapa  kecurigaan yang memicu di awal pekan ini, dan diperkuat  oleh komentar dari menteri luar negeri Kenya bahwa seorang wanita Inggris memiliki peran dalam pertumpahan darah ini .

Interpol mengatakan ini adalah pertama kalinya telah diminta untuk mengeluarkan ” red notice ” untuk Lewthwaite  atas tuduhan memiliki bahan peledak dan terlibat konspirasi untuk melakukan kejahatan pada Desember 2011.

” Pemerintah Kenya telah memastikan bahwa semua negara menyadari bahaya yang ditimbulkan oleh wanita ini , bukan hanya di seluruh wilayah tetapi juga di seluruh dunia , ” kata Interpol dalam sebuah pernyataan .

Lewthwaite , putri seorang mantan tentara Inggris , lahir di Irlandia Utara dan dibesarkan di Aylesbury ,barat laut London .

Dia masuk Islam – ketika masa  remajanya – dan melanjutkan studi agama dan politik di Sekolah Studi Oriental dan Afrika di London . Saat itu yang akan menjadi suaminya  bertemu dengannya , di Internet chat room dan kemudian mereka bergabung di sebuah demonstrasi di London yang menentang Inggris yang berpartisipasi dalam perang di Irak .

Mereka menikah dalam sebuah upacara Islam pada tahun 2002 dan pindah kembali ke Aylesbury setahun kemudian .

Dewan Kota Raj Khan , yang mengenal Lewthwaite saat  remaja dan bertemu dengannya lagi sesaat sebelum pengeboman kereta bawah tanah , kepada The Associated Press ia katakan lewthwaite adalah gadis  “normal , seperti gadis Inggris rata-rata yang pemalu.

” Dia sedang proses  menjadi seorang Muslimah , ” katanya . “Tidak ada rasa tanda radikalisasi , dan tidak ada perasaan di antara orang-orang sekitarnya yang  menunjukkan tanda-tanda radikalisasi . “

Khan mengatakan ia kehilangan kontak dengan dia selama  10 tahun dan bertemu lagi setelah  menikah  . Pasangan itu mendekatinya dan bertanya apakah ia bisa membantu mereka menemukan perumahan bersubsidi murah .

” Dia seorang gadis bersuara lembut  , menjadi seorang wanita muda yang matang , ” katanya . ” Saya meminta mereka untuk datang menemui saya di kantor saya dalam tiga atau empat minggu ke depan , dan hal berikutnya terjadilah pemboman 7 Juli . Setelah itu dia menghilang. Tidak ada lagi komunikasi dengan mereka. “

Para pejabat Kenya mengatakan  bahwa Lewthwaite dan beberapa orang asing lainnya melakukan perjalanan ke Kenya pada tahun 2011 untuk merencanakan serangan bom di pantai Kenya selama liburan Natal .



Pihak berwenang mengatakan Lewthwaite , yang pada saat itu sedang hamil dengan suami barunya dari Kenya , bertanggung jawab atas pendanaan untuk   serangan yang direncanakan , dan mereka menduga ia telah menyewa beberapa rumah di Mombasa untuk merakit bom .

Pada Desember 2011 , polisi anti -terorisme Kenya menemukan seorang wanita yang mereka yakini sebagai Lewthwaite  , tapi mereka membiarkan pergi setelah dia menunjukkan  paspor Afrika Selatan .

Valentina Soria , seorang analis keamanan dan ahli mengenai gerakan al-Shabab  , mencatat bahwa nama Lewthwaite telah muncul di hampir setiap teror di Afrika Timur selama dua tahun terakhir . Dia mengatakan Lewthwaite telah lama menjadi obyek daya tarik sebagai seorang wanita kulit putih yang diduga bekerja untuk al-Shabab .

Namun , Soria skeptis Lewthwaite bisa menjadi dalang dalam kelompok al- Qaida yang menyerang di mal Nairobi , karena menggunakan penyerang perempuan bukanlah cara dari gerakan al- Shabab beroperasi . (Arby/Dz)

Dunia Islam Terbaru