free hit counters
 

Presiden Komoro Seru Pemimpin Arab Tolak Hasil Referendum Mayotte Jadi Wilayah Perancis

Al Furqan – Selasa, 3 Rabiul Akhir 1430 H / 31 Maret 2009 15:40 WIB

Pada KTT Arab XXI kemarin (30/3), Presiden Republik Islam Federal Komoro Ahmad Abdullah Sambi menyeru para pemimpin Arab untuk menolak hasil ferendum pulau Mayotte (29/3), untuk bergabung menjadi bagian dari wilayah Perancis yang ke-101, yang akan direalisasikan pada tahun 2011 nanti.

Seruan ini disampaikan Abdullah Sambi setelah melihat hasil referendum pulau Mayotte pada hari Ahad lalu, yang lebih memilih menjadi wilayah Perancis, walau tiga pulau lainnya tidak menyetujuinya.

Komoro terletak di penghujung utara Selat Mozambik, di antara Madagaskar dan Mozambik, yang wilayahnya terdiri dari 4 buah pulau utama: Grande Komoro, Anjouan, Moheli, dan Mayotte.

Secara geografi Mayotte merupakan bagian dari Negara Kepulauan Komoro, tetapi terpisah secara politik sejak 1970-an. Selain itu, sebagian penduduknya juga beragama Kristen, sehingga mereka berupaya untuk melepaskan diri dari negara Islam kepulauan Komoro.

Dalam menjalankan upaya melepaskan diri dari Komoro, Mayotte telah dua kali menggelar referendum, yaitu pada tahun 1974 dan 1976. Akhirnya, pada referendum ketiga Ahad kemarin (29/3), suara untuk melepaskan diri Komoro dan bergabung dengan Perancis menang telak.

Pemerintah Mayotte mengabarkan, 95,2% warga Mayotte setuju bergabung dengan Perancis, dan hanya 4,8% yang tidak setuju.

Di pihak lain, pada hari dijalankannya referendum tersebut, sekitar 400 warga Komoro menggelar aksi menolak referendum Mayotte. Mereka menolak jika bagian negaranya dijajah Perancis, dan meneriakkan yel-yel, ”Hentikan Penjajahan Perancis.”

Di pihak Perancis, menanggapi hasil referendum ini, Mendagri Perancis Michele Alliot-Marie mengatakan, "Hasil refendum ini akan menguatkan kedudukan Mayotte atas Komoro, karena mereka memutuskan bergabung dengan Perancis, yang menjunjung tinggi HAM, kesetaraan gender, keadilan sosial, dan posisi bahasa Perancis sebagai salah satu bahasa penting dunia."

Pada kampanye pemilu 2007 lalu Nikola Sarkozy berjanji, bila ia terpilih menjadi presiden maka ia akan memperjuangkan referendum di Mayotte, dan akan menjaga hubungan baik Paris dengan Mayotte. (sn/alj/france24)

Dunia Islam Terbaru

blog comments powered by Disqus