free hit counters
 

Ratusan Remaja Aljazair Deklarasikan Memakai Jilbab

M. Lili Nur Aulia – Kamis, 18 Rabiul Awwal 1429 H / 27 Maret 2008 11:32 WIB

Dalam sebuah acara tahunan, Divisi Perempuan dan Keluarga dari Partai Harakah Mujtama’ Muslim (HAMS) menggelar perayaan kota Qistina, Timur Aljazair. Acaranya bernama “Hijaab”, dan berisi deklarasi sekitar 500 perempuan belia yang berusia 7 – 16 tahun yang isinya menetapkan diri mereka untuk mengenakan jilbab.

Ini kali pertama di mana jumlah pemakai jilbab yang mendeklarasikan sikap mereka mencapai angka 500-an orang. Sebelumnya sejak tahun 2004 acara serupar, angkanya paling tidak hanya 48-an orang.

Kali ini, acara digelar di sebuah aula olahraga di kota Qasantina. Harian As Shuruq Al-Yaome, hari Selasa (25/3) melaporkan, para orang tua dari remaja putri yang hadir berasal dari 10 daerah dari kota Qasantina. Para remaja putri itu kemudian mendapatkan sejumlah hadiah dari panitia penyelenggara berupa mushaf Al-Quran dan pakaian muslimah yang menutup aurat.

Dalam sambutan yang disampaikan Abu Jarah Sulthani, ketua HAMS Aljazair, disampaikan bahwa ide penyelenggaraan acara ini bukan semata untk kepentingan kampanye partainya yang memang merupakan partai Islam dan berkepentingan untuk menjunjung nilai-nilai Islam, tapi juga untuk media pendidikan bagi keluarga Islam.

Kota Qasantina merupakan kota yang juga dinamakan kota “jembatan gantung”. Karena pada awal tahun 30-an kota ini menjadi kota kelahiran Gerakan Ishlahiyah, yang diangkat oleh para tokoh Islam yang terhimpun dalam “Organisasi Ulama Islam Aljazair”, pimpinan Syaikh Abdul Hamid bin Badis, yang kini dikenal juga sebagai pemimpin gerakan Al-Ishlahiyah Diniyah di Aljazair.

Di Aljazair, fenomena jilbab di kalangan Muslimah masih menjadi bagian dari ejekan dan penolakan di kalangan sekularis. Acara yang digelar HAMS dinilai pemaksaan dari para orang tua kepada anak-anak gadis mereka dengan tekanan dari HAMS untuk berjilbab. HAMS juga dituding sebagai gerakan teroris yang menyebarkan nilai-nilai ekstrim di masyarakat Aljazair. Padahal, justru para tokoh HAMS terkenal sikap moderatnya dalam menyikapi ragam pertikaian berdarah di negeri syuhada itu. (na-str/iol)

Dunia Islam Terbaru